TERIMA KASIH PAK ABDULLAH HEHAMAHUA


TERIMA KASIH PAK ABDULLAH HEHAMAHUA

Masyaa Allah..., kami dibuat ternganga
Scan dari selembar surat yang kami baca
Surat tanda terima
Gerakan Kedaulatan Rakyat
Untuk Keadilan dan Kemanusiaan

Tertulis jelas disana
Nama Abdullah Hehamahua
Sebagai penanggungjawabnya
Padahal beliau sudah lanjut usia

Tapi melihat kondisi bangsanya
Kecurangan yang luar biasa
Kebohongan dimana mana
Akankah kondisi ini dibiarkan saja?!

Pemilu yang menelan 700an nyawa
Peluru yang dihamburkan pada sesama anak bangsa
Ketidakadilan kian semena mena
Perekonomian makin terpuruk dan rakyat merana

Sementara mahasiswa
Tak beranjak dari tempat duduknya
Mereka asyik bermain dengan gadgetnya
Game online atau chating dan tertawa-tawa

Tak ada mereka mampu merasa
Bahwa di negeri ini krisis sedang melanda
Krisis ekonomi dan moralitas juga
Kebohongan dan kecurangan sudah dianggap biasa

Tatkala yang muda tak lagi siaga
Untuk mengawal harkat dan martabat bangsanya
Ketika emak-emak keluar dari rumahnya
Turun ke jalan demi masa depan anak cucunya

Saat itulah Abdullah Hehamahua
Meski telah tujuh puluh satu tahun usianya
Bergolak darah mudanya
Menggelegak semangat di dadanya

Rasa cinta pada bangsa dan negara
Tanggung jawab moral yang dipikulnya
Membuatnya maju dan siap jadi panglima
Atas aksi kedaulatan rakyat Indonesia

Terima kasih Bapak Abdullah Hehamahua
Bapak telah membangunkan kami semua
Kami malu kalau cuma di rumah saja
Meratapi keadaan namun tak berbuat apa-apa
Merutuki ketidakadilan namun diam saja
Pesimis dan skeptis tak cukup diatasi cuma dengan doa

Terima kasih Bapak Abdullah Hehamahua
Kami telah banyak mendengar cerita
Tentang integritasmu yang tidak tercela
Diusiamu yang sudah lansia
Kau memberi kami teladan nyata

Beginilah seharusnya orang tua
Tak silau lagi dengan harta dunia
Sudah selesai dengan hidupnya
Tinggal bhakti untuk bangsa, negara dan agama

Semoga Allah meridhoimu, Abdullah Hehamahua
Amal bhaktimu akan abadi selamanya
Kami berjanji akan terus menjaga
Kedaulatan bangsa dan negara Indonesia kita.

(Iramawati Oemar)

Loading...