SADIS!! INDONESIA JADI TEMPE KALAU TIDAK TERAPKAN INI


SADIS!! INDONESIA JADI TEMPE KALAU TIDAK TERAPKAN INI

Indonesia pernah menjadi negara produsen dan industri canggih di Asia mengalahkan banyak negara besar Asia seperti China, Taiwan, Korea Selatan dan Jepang!

Ketika itu Indonesia jadi pusat produksi gula dunia yang sangat modern.

Sayangnya, periode kemajuan itu terjadi pada era penjajahan Belanda sekitar 1870 dan kemudian surut karena tak mampu bertransformasi. Bahkan yang masih beroperasi hingga saat ini tanpa perubahan teknologi sama sekali. Tidak kreatif kah bangsa Indonesia ini?

Kita lanjut!!

Sejarah kegagalan berikutnya yang membuat "nyesek" adalah di dunia industri otomotif terjadi pada masa Orde Baru hingga sekarang.

Padahal di Asia Tenggara, Indonesia negara pertama lokasi investasi industri otomotif raksasa dunia sekaligus pasar terbesar.

Namun, julukan “Detroit nya Asia” sekarang justru “diambil” oleh Thailand sebagai produsen sekitar dua juta mobil per tahun, sebagian besar diekspor.

Indonesia hanya mampu berproduksi separuhnya dan itu pun sebagian besar dikonsumsi domestik.

Dibandingkan dengan Thailand, industri otomotif Indonesia lebih sebagai “tukang rakit” karena banyaknya komponen diimpor.

Sebaliknya, Thailand mampu memproduksi komponen otomotif sendiri sehingga mampu mengoptimalkan multiplier effect ekonomi dan menyerap tenaga kerja berkeahlian menengah dan tinggi.

Pakar ekonomi menyatakan secara gamblang menyimpulkan, industri otomotif Indonesia “having market without technology” , “memiliki industri namun tanpa industrialisasi”.

Belajar dari kegagalan dua periode missed opportunies, masih bisakah Indonesia bertransformasi menjadi negara industri maju?

Sebelumnya kita lihat dulu apa yang terjadi namun juga belum di antisipasi.

Fakta data, impor terbesar Indonesia adalah BBM yang mencapai 14 persen dari total impor nasional. Import BBM ini juga salah satu yang membuat anggaran perdagangan defisit dan belum juga ada strategi nasional dan langkah kongkrit solusinya.

Indonesia makin “haus minyak” karena dalam setahun sekitar ratusan ribu mobil baru plus empat juta sepeda motor baru mengaspal, dan jumlah ini akan terus bertambah.

Parahnya lagi, sumur minyak kita kian tua dan kurang produktif.

Selain defisit perdagangan menggunung, emisi pembakaran BBM merupakan pencemar udara terbesar yang menyebabkan kualitas kesehatan dan lingkungan memburuk.

Problem defisit perdagangan minyak dan pencemaran emisi apa solusinya?

Ini justru menjadi peluang membangun industri kendaraan listrik berbasis baterai sebagai solusi.

Kendaraan dengan mesin pembakaran BBM (combustion engine) sudah sunset karena semakin di batasi dan akan dilarang di berbagai tempat dengan berbagai alasan salah satunya karena masalah lingkungan.

Tahun 2021 Kosta Rika adalah negara pertama di dunia yang melarang total semua kendaraan dengan combustion engine.

Norwegia menyusul 2025 dengan melarang penjualan kendaraan baru berbahan bakar dari fosil.

Secara serempak India, Belanda, Denmark, Irlandia, Israel, Swedia, dan lain-lain akan menyusul 2030 dan raksasa ekonomi China serta Inggris mengikuti 2040.

Dari riset di lima negara Eropa, penggunaan mobil listrik biaya nya lebih murah 5-27%.

Peluangnya bagi Indonesia? masa depan dunia mobil listrik ini BERGANTUNG BATERAI. Untuk bahan baterai ini Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang tak dimiliki negara lain.

Apa itu keunggulan indonesia?

Komponen terpenting dan utama dari kendaraan listrik adalah baterai litium penyimpan listrik yang bahan baku utamanya nikel.

Indonesia pemilik deposit nikel laterit terbesar dunia yang berkualitas tinggi.

Jadi, Indonesia harus menjadi penyuplai dunia baterai listrik.

Indonesia harus membangun pabrik baterai berbasis nikel laterit dimana teknologinya anak bangsa sudah kuasai.

Jangan sampai nikel tadi hanya jadi komoditi dijual batu mentahan, dan jangan mengulang sejarah industri gula dan otomotif lagi. Belajarlah dari sejarah, masak nikel laterit kita ngak bisa, tempe bener sih.

(Penulis: Mardigu WP)

loading...
Loading...