Agus, Tanpa Bu Ani


Agus, Tanpa Bu Ani

Bila Bu Ani tak canggung menenteng kamera profesional ke mana pun, Pak Beye dekat dengan buku. Bahkan, ada kalanya pasutri ini seolah bersinergi buat urusan hobi. Buku Ani menulis tapi dengan gaya fotografis, semisal dalam karya pentingnya seputar khazanah batik.

Besar dalam keluarga dengan tradisi militer, pemikiran juga turut dikembangkan. Pak Beye dalam soal ini tak perlu disangsikan komitmennya. Selain menulis beberapa buku sendiri, lirik lagu pun digubah. Dan chemistry itu rasanya pantas kalau ada pada sang sulung: Agus.

"Menjawab Tantangan Abad 21: Sebuah Perspektif Perwira Muda TNI" sebetulnya hadirkan asa perubahan di kalangan militer. Terlepas apakah ide di buku ini tak baru-baru amat. Juga soal orisinalitas. Tapi Agus mampu mensistematisasi narasi yang sudah ada untuk membaca Indonesia abad 21.


Dari buku ini, Agus dan Pak Beye bisa ditarik garis lurus. Di tengahnya ada Bu Ani yang menjaga harmoni habitus intelektual di keluarga mereka. Tak adil bila abaikan peran sang ibu bagi Agus ini rasanya. Foto di buku Agus Harimurti Yudhoyono ini seolah suratkan takdir keterpisahan dengan sang bunda. Sekaligus guratkan matang ada sosok yang membina kehangatan ayah dan anak itu. Tak peduli wacana politik dan gaduh yang ada coba mengusik harmoni itu. Dari pihak mana pun.

Esok, Agus mesti melangkah tanpa bisikan sang bunda. Masih ada sang ayah memang; matahari dirinya sedari dulu bahkan hingga kini. Satu tantangan buatnya selepas Bu Ani wafat: agar Agus jadi den bagus yang cemerlang menjaga karier kepemimpinan yang mentradisi di keluarga ini. Sebuah klan politik yang acap jadi sorotan karena dianggap abu-abu dalam meneguhkan komitmen politik. Satu andaian kontradiksi mengingat politik sejatinya memang tak ada sekutu ataupun karib abadi.

Kini tinggal bagaimana Agus memainkan semua simfoni rasa itu. Dengan satu bisikan sang ayah, bila masih ada dan selalu diterima. Selepas ibunda tercinta pergi mendahului di alam sana.

1 Juni 2019

by Yusuf Maulana
(Penulis buku, Jogja)