Pengakuan Tim Medis Dompet Dhuafa Yang Diserang dan Dianiaya Aparat


[PORTAL-ISLAM.ID] Tim Medis Dompet Dhuafa mengalami penyerangan dan penganiayaan yang dilakukan aparat saat Aksi 22 Mei di depan Gedung Bawaslu, Jakarta, Rabu malam.

[Video - Penuturan Tim Medis DD dan korban luka parah]

Direktur Utama Dompet Dhuafa Filantropi, Imam Rulyawan, mengkonfirmasi kekerasan fisik yang dilakukan oknum petugas kepolisian terhadap tim relawannya saat bertugas dalam Aksi 22 Mei di depan Gedung Bawaslu, Jakarta, Rabu malam. Menurut dia, tindakan aparat itu tidak dapat dibenarkan.

“Benar telah terjadi tindakan represif oknum kepolisian terhadap tim medis Dompet Dhuafa yang mengakibatkan tiga anggota tim kami mengalami luka-luka dan harus dilarikan ke RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto), serta pengrusakan terhadap dua kendaraan kami,” kata Imam di Jakarta, Kamis (23/5/2019).

Dia menegaskan, sebagai lembaga kemanusiaan, Dompet Dhuafa menerjunkan tim medis atas dasar kemanusiaan dan memegang teguh prinsip imparsial. Dengan begitu, keterlibatan Dompet Dhuafa dalam aksi unjuk rasa kemarin bukan didasari motivasi politik atau keberpihakan pada kelompok tertentu.

“Tim medis yang membantu masyarakat itu sesuai dengan Konvensi Jenewa 1949, khususnya Pasal 11, Pasal 24-27, Pasal 36, dan Pasal 37 tentang Perlindungan terhadap Petugas Kesehatan,” ujarnya.

KRONOLOGI

Imam menjelaskan kronologi peristiwa kekerasan oknum aparat terhadap tim medis Dompet Dhuafa dalam kerusuhan pascademonstrasi 22 Mei tadi malam. Berikut uraian lengkapnya:

Rabu (22/5) pukul 23.50 WIB

Tim medis Dompet Dhuafa mendapat instruksi untuk bergerak dari posisi sebelumnya di persimpangan Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Tim pertama dalam mobil Isuzu Panther terdiri atas satu perawat, dua petugas dokumentasi, dan satu sopir.

Tim kedua mengendarai kendaraan taktis Toyota Hilux milik Dompet Dhuafa, terdiri atas dua perawat dan beberapa orang dari tim pendukung.

Kamis (23/5) pukul 00.16 WIB

Dalam waktu yang sangat singkat, pasukan pemukul massa yang terdiri atas satuan Brimob dan polisi berpakaian preman datang mengusir massa yang berada di sekitar kawasan Sarinah, Jakarta Pusat. Kepolisian datang meringsek dan mendekati kendaraan Dompet Dhuafa. Tim yang ada di dalam kendaraan Dompet Dhuafa diminta turun.

Tim pertama yang ada di dalam mobil Isuzu Panther tidak mau turun, dan beberapa aparat seketika memukul kendaraan tersebut dengan tameng dan tongkat pemukul. Kaca bagian depan belakang, dan sebelah kanan hancur. Tak berselang lama kendaraan berhasil keluar dari kerumunan dan pergi meninggalkan lokasi.

Tim kedua yang berada di dalam mobil Toyota Hilux mengikuti perintah polisi untuk turun dan mereka diminta jongkok di depan kendaraan oleh seorang aparat. Satu anggota tim lainnya terjatuh dari kendaraan dan langsung dipukul dan diinjak oleh anggota kepolisian.

Anggota kepolisian yang lain membentak-bentak. Padahal tim sudah menyampaikan bahwa mereka adalah tim medis. Seketika anggota kepolisian semakin banyak dan menyuruh tim Dompet Dhuafa untuk pergi.

Ketika tim akan pergi itulah, anggota kepolisian memukul, baik dengan rotan maupun tameng, juga menendang. Akibatnya, dua orang dari tim Dompet Dhuafa mengalami luka cukup serius di bagian kepala.

Karena di saat yang sama, mobil yang sudah mulai bergerak dihentikan oleh salah seorang anggota Brimob, sudah disampaikan bahwa mereka tim medis. Namun dia tetap memukul kaca mobil bagian depan berulang kali dan menyuruh untuk maju. Seketika saja, ada anggota lain yang memukul kaca depan berulang kali hingga pecah.

Satu anggota polisi juga mengeluarkan senjata api sejenis FN yang ditodongkan ke arah tim Dompet Dhuafa. Kemudian, tim diminta untuk membuka kaca dan saat itu kunci langsung dimatikan lalu dicabut dan dilempar ke dashboard. Di saat bersamaan, anggota lainnya memukul spion kanan dan kaca samping hingga pecah berantakan.


Kamis (23/5) pukul 01.00 WIB

Semua tim berhasil keluar dari lokasi, dan dua orang yang mengalami luka-luka di bagian kepala dibawa ke RSPAD untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Dia menjelaskan, laporan kronologi tersebut dikumpulkan dari 12 anggota tim medis Dompet Dhuafa yang berada di tempat kejadian peristiwa. Mereka adalah Dian Mulyadi, Pundi Vito, Ahmad Riyadi, Yahmin, Abdul Aziz, M Awaludin, Hendi Saputra, Eka Suwandi, Adi Malo, Dokter Syarif, Sigit (perawat), dan Sari Bunga (perawat).

Saat dikonfirmasi, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono, membantah adanya kekerasan yang dilakukan polisi terhadap tim relawan Dompet Dhuafa dalam kerusuhan pascademonstrasi 22 Mei semalam. “Gak benar,” ungkap Argo melalui pesan singkat kepada Indonesia Inside, Kamis (23/5).

Baca juga :