Narasi Politik Anies Baswedan, Gubernur Rasa Presiden


Narasi Politik Anies Baswedan

Oleh: Tengku Zulkifli Usman
(Pengamat Politik)

Tidak berlebihan kalau warga DKI suka sama gubernurnya, Anies memang smart.

Tidak berlebihan juga kalau rakyat Indonesia suka sama pak Anies lalu sering disebut sebagai Gubernur Indonesia atau Gubernur rasa Presiden, sangat layak.

Anies adalah tokoh baru dalam ranah eksekutif level gubernur, narasi politiknya menunjukkan kelasnya.

Anies sadar bahwa dia sedang memimpin ibukota negara muslim terbesar di dunia. Yang dibutuhkan bukan hanya kapasitas intelektual, tapi harus memiliki hati juga yang peka.

Anies dalam kapasitasnya sebagai gubernur, menghargai dan menghormati setiap warga DKI, tidak ada tebang pilih kaya atau miskin. Beda sama kebijakan pendahulunya Ahok.

Anies memanusiakan manusia, dia paham bahwa dia sedang memimpin manusia yang bisa berpikir bukan sedang mengemudi sebuah traktor mesin.

Baru kali ini pemprov DKI menyelenggarakan mudik gratis skala besar untuk warga DKI yang akan pulang kampung, saat ini masih pulau jawa dahulu karena memang kas APBD DKI tidak sebesar kas yang ada di tangan Jokowi.

Lebih dari 300 bus dengan jumlah pemudik yang terdaftar gratis saat ini 17.000 an orang. Anies ingin memberikan sinyal sebagai pemimpin yang selalu hadir di momen istimewa seperti lebaran.

Lebih dari itu, Anies sudah meneken surat membolehkan takbir keliling, bahkan Anies membolehkan warga luar untuk datang ke Jakarta pasca lebaran. Tidak akan ada razia yustisi. Takbir keliling dan operasi yustisi. Dua hal yang dulu sangat ketat dimasa Ahok.

Narasi Anies memang level negarawan, dengan bahasa sederhana "Jakarta adalak kota kita semua", Jakarta adalah milik seluruh rakyat Indonesia. Ini namanya presidential narrative. Narasi level presiden.

Anies tidak mengkotak kotakkan warga, tidak tebang pilih warga VIP dan mana warga biasa. Anies bukan gubernur pro pemodal dan pro mafia, aturan dia tegakkan kepada semua golongan. Tanpa pandang bulu.

Saat pemerintah pusat saling sembunyi tangan atas demo berdarah tanggal 22 Mei lalu didepan Bawaslu, Anies tampil menemui rakyat, melihat langsung, dan mengumumkan korban yang jatuh. Walaupun kuping istana sangat kepanasan.

Saat pejabat pusat bahkan presiden sendiri mangkir dan menghindar, Anies tampil menghibur rakyat Jakarta dan mendengar aspirasinya. Padahal presiden saja sempat mlipir ke bandara saat ada yang demo di Istana beberapa tahun lalu.

Anies dengan kapasitas intelektual yang dimiliki. S3 lulusan luar negeri, seperti ingin mengajarkan rakyat Indonesia akan standar demokrasi yang benar, pelajaran yang rakyat tidak pernah dapatkan bahkan dari seorang presiden yang memang buta demokrasi.

Anies mengurus Jakarta dengan hati, prestasinya tidak bisa lagi dihitung dengan lembaran lembaran piagam. Datanglah ke Jakarta langsung, anda akan melihat Jakarta yang jauh lebih teduh dan humanis dari sebelumnya.

Narasi Anies adalah narasi negarawan, Anies merangkul semua golongan tapi dengan tetap tegas bertindak sesuai standar operasional demokrasi yang rapi dan manusiawi.

Tegas bagi Anies adalah nafas kerjanya. Anies gak pernah takut dibully dan caci apalagi hanya sekedar petisi online untuk melengserkan dirinya yang baru-baru ini digagas oleh gerombolan kaum dungu yang gagal paham esensi demokrasi.

Anies berupaya menjadikan Jakarta sebagai ril miniatur Indonesia. Kota yang teratur dengan aturan main, kota yang tidak bisa dibeli oleh para taipan yang suka main belakang. Kota yang didedikasikan untuk kebahagiaan warganya semua. Bayangkan kalau Anies punya wewenang mengatur dan merapikan seluruh Indonesia?


Anies gubernur yang memiliki kapasitas leadership yang kuat, teguh, kokoh, cerdas, bijak dan diplomatif. Sebuah kapasitas yang sangat cocok memimpin negeri ini kedepan.

Narasi politik Anies adalah antitesis Jokowi, Ahok, Luhut, Wiranto, dkk yang segala sesuatu pakai otot dan urat saraf. Yang ujung ujungnya kontroversi, diprotes rakyat dan dicaci maki. Anies bukan tipikal pejabat yang suka ralat kebijakan, suka polemik dan pencitraan media dan suka menyesatkan publik. Anies antitesis dari mereka semua.

Anies bukan tipikal pemimpin takut medsos, takut demo, takut kaos, takut tagar, takut ketemu pendemo, takut ulama, takut rakyatnya sendiri dan takut diancam bunuh.

Anies bukan pemimpin yang playing victim untuk menutupi ketidakbecusannya dalam mengatur negeri seperti apa yang selama ini dipertontonkan rezim Jokowi.

31*5*2019

(Sumber: fb penulis)

Baca juga :