PEOPLE POWER, Sah atau Tidak?


PEOPLE POWER

Baru saja selesai makan di Bakso Lapangan Tembak, Green Terrace TMII, seorang Jenderal (purn) telpon mau konsultasi, benarkah pikiran dia soal people power (revolusi rakyat) adalah sesuatu yang sah dalam demokrasi? Latar belakangnya adalah sedang terjadi perdebatan sengit di group WA eks jenderal-jenderal TNI soal itu, setelah Amien Rais baru-baru ini melemparkan isu tsb. Sang jenderal mengatakan jika demokrasi macet, tentu saja sebuah gerakan rakyat akan menjadi pilihan sah. Ada pro dan kontra di WAG mereka.

Saya mengatakan bahwa itu benar. Itu sah saja. Revolusi rakyat itu bahkan sekarang sudah hampir 6 bulan berlangsung di Prancis. Yellow Vest, gerakan revolusi rakyat Prancis, berlangsung 6 bulan tanpa kompromi. Dipicu oleh rencana kenaikan BBM, mereka mengumpulkan petisi penolakan, lalu membanjiri jalanan dengan sepeda motor, lalu menduduki kota-kota besar seperti Paris. Bahkan membakar toko-toko di Champ Elyse, pusat pertokoan mewah di Paris.

Saat ini Macron menyerah. Siap untuk referendum. Tapi rakyat bukan mau referendum, rakyat mau Macron turun.

Jadi itulah tentang People Power. Suatu yang sah dalam kehidupan bernegara. Tentu kalau demokrasi berlangsung damai, rakyat diperhatikan, tidak ada yang mau people power.

Itu jawabanku atas tukar pikiran barusan.

(Syahganda Nainggolan, Direktur Sabang Merauke Circle)