9 Alasan Saya Untuk Tidak Lagi Memilih Jaenudin


9 Alasan Saya Untuk Tidak Lagi Memilih Jaenudin

Dulu saya pernah berada di posisi yang sangat membenci pergerakan Islam di tanah air yang ketika itu saya anggap kolot alias ketinggalan zaman. Maklum, selama di kampus saya aktif di pergerakan mahasiswa kiri ditemani oleh senior2 dengan tampilan ala2 Che Guevara lengkap dengan doktrin2 Marxisme nya.

Dulu, Stigma yang ada dikepala saya ketika itu bahwa untuk menyingkirkan penguasa korup dan antek kapitalis adalah dengan cara revolusi total! dan posisi saya saat itu mungkin sangat terwakili dengan kawan aktivis jalanan yg sekarang duduk di kursi2 top BUMN ataupun tidur nyenyak di ketiak ibunda bergincu merah.

Dulu, dari jaman Jaenudin bertarung dijakarta melawan incumbent Foke, saya memutuskan mengambil peran untuk memenangkannya untuk DKI1. Masuk sana-sini sampai akhirnya berlabuh di salah satu tim relawan yang ketika itu focus pada pergerakan dunia maya.

Tapi itu dulu, sekarang banyak alasan krusial kenapa saya memilih memposisikan diri berada di luar lingkaran penguasa alias oposisi:

1. Anti kritik. Bibit2 anti kritik ini sudah terlihat dari awal masa kepemimpinan Jaenudin di Jakarta, seakan superior, kepemimpinan ini mengambil keuntungan dengan memelihara ex-relawan yang sudah menjadi fans buta baginya ditambah hegemoni ibu gincu merah yang bagi saya sudah diluar batas nalar.

2. Keberpihakan media, ketika dirunut media ini milik siapa dan punya kepentingan apa, buat saya hal ini lebih mengerikan dari sekedar berita yang dihembuskan.

3. Jaenudin seakan tidak punya power terhadap orang2 yang berada di lingkaran pertama, mulai dari kebijakan2 yang diambilnya, ketidakstabilan sospol sampai dengan statement dari si Ibu: bahwa Presiden adalah petugas partai.

4. Janji politik yang menjijikan: Politik tanpa balas budi! BULLSHIT! Dari awal saya sudah bilang BULLSHIT! Nyatanya, jangankan parpol, saat ini banyak relawan dan aktivis yang menduduki posisi nomor wahid di BUMN. Kebetulan?

5. Aksi 411, “saya ini kangen di demo” itu kalimat yang keluar dari mulut seorang Jaenudin. Tapi nyatanya? Kedatangan kami justru disambut dengan gas airmata.

6. Semakin suburnya lingkaran orang2 yang gemar memperolok2 Islam, bahkan terkesan dilindungi.

7. Polarisasi semakin menjadi, dimulai dengan jargon2 yang terdengar sederhana tapi berimpact luar biasa: “orang baik pilih orang baik” “saya pancasila” tuduhan radikal, anti Pancasila kepada lawan politik dll.

8. Hukum berat sebelah, seolah hukum hanya berlaku untuk orang yang berseberangan dengan penguasa.

9. Carut marut penegakan hukum: Kasus Novel Baswedan, Hermansyah, Buku Merah KPK,dll

Kenapa saya tidak bahas soal hutang negara, naiknya harga BBM, Listrik dll? Kalaupun ini dianggap kelemahan Jaenudin silahkan, tapi saya lebih memilih untuk tidak memasukan point2 tersebut, kenapa? Saya hanya berusaha realistis, Karena buat saya tidak ada yang bisa menjamin presiden selanjutnya dapat menjalankan negara ini dengan mandiri tanpa hutang, menstabilkan harga BBM, listrik dll dalam waktu singkat pada periode jabatan politik tertentu. Maka saya lebih memilih untuk tidak memasukan point tersebut pada list diatas.

Lalu kenapa pilih Prabowo-Sandi? Lebih baik pertanyaannya saya balik, ada alasan saya buat kembali pilih Jaenudin? Dan apa ada kandidat capres lain?

Dan gini ya pak Prabowo Subianto Sandiaga Salahuddin Uno, jangan GR dulu! Saya pilih bapak karna menyimpan harapan bapak tidak akan mengecewakan kami setidaknya untuk 9 point diatas. Once lalai, boleh dong kita kritik?! Jangan takut2in kami lagi dengan pasal karet main tangkap spt saat ini!

10-04-2019

(by Erlangga Muhammad)

*Sumber: fb penulis