Mundur, Bro!


Mundur, Bro

Kasus yang melilit Ketua Umum Partai PPP, dan dicokoknya satu kakanwil Kemenag Jatim, serta kepala kantor Gresik, sejatinya cukup sebagai alasan agar Menteri Agama mundur dari jabatannya. Mau apapun argumennya, dia tidak patut lagi memimpin Kementerian Agama.

Bahkan dalam skenario dia memang sama sekali tidak tahu-menahu jika kelak terbukti ada proses suap-menyuap saat menentukan jabatan kakanwil, dia semestinya tetap mundur. Karena bagaimana mungkin level seorang Menteri, tidak tahu jika pemilihan kakanwil Jatim ternyata menyuap. Dia ngapain saja, bro? Itu persis di bawah otoritas dan kekuasannya, kok bisa sampai tidak tahu sama sekali. Maaf kasar sekali, tapi terus-terang, itu justeru menunjukkan betapa tidak berkompetennya dia memimpin sebuah organisasi besar. Lantas bagaimana dengan akuntabilitas dan transparansi pengelolaan trilyunan dana pendidikan di Kemenag? Trilyunan dana Haji? Jangan-jangan dia juga tidak tahu-menahu, karena urusan memilih kakanwil pun dia tidak tahu.

Jadi, mundur sajalah, Bro.

Belajarlah dari Jepang, misalnya. Di sana, seorang menteri yang bahkan terlambat tiga menit dalam rapat, membungkukkan badannya, meminta maaf secara terbuka. Itu cuma telat 3 menit rapat doang. Apalagi dalam kasus lebih serius, mereka bergegas mundur. Kita selalu menyamakan soal hutang ke luar negeri, tunjangan pra kerja ke luar negeri, subsidi MRT/LRT kita samakan juga dengan luar negeri. Mungkin tiba saatnya, kita juga mau menyamakan sikap dan profesionalisme seorang pejabat dengan luar negeri. Mundur, bro. Karena di luar negeri juga begitu.

Dengan situ mundur, berikan KPK ruang yang sangat bebas untuk membongkar semua hal di Kemenag. Bobroknya Kemenag ini sudah puluhan tahun. Hitung sendiri berapa menterinya yang tersangkut kasus. Nanti kita lihat, siapa saja yang terlibat, siapa yang tidak, biar KPK yang membuktikannya. Santai saja, kalaupun memang tidak bersalah, toh nanti akan terbukti sendiri memang tidak bersalah. Kemuliaan itu tidak akan pernah tertukar, dan rasa sabar bisa menjadi... eh, ups, maaf, saya tidak pantas menceramahi orang2 yang lebih ahli soal agama.

Semoga etika, kehormatan, dan semua prinsip2 terbaik masih dimiliki oleh pejabat kita, dan mereka mau menjadi teladan baik. Karena dengan begitulah kita bisa mendidik generasi berikutnya. Bukan dengan contoh buruk.

Tabik.

(Tere Liye)

*silahkan dishare, tidak perlu ijin lagi, biar sampai ke kuping2 yang masih mau mendengarkan

Sumber: fb penulis