Debat Capres Tadi Malam, Rakyat Merasakan Ketulusan dan Cinta Prabowo Untuk Indonesia


[PORTAL-ISLAM.ID] Saya merinding melihat penampilan Prabowo malam ini. Terasa sekali bahwa apa yang disampaikan itu berasal dari lubuk hatinya yang paling  dalam. Terasa sekali bahwa dia mementingkan negara diatas segalanya. Nasionalisme begitu terasa.

Merinding ketika Prabowo menjelaskan bahwa obyek vital negara seperti pelabuhan, bandara, stasiun itu harus dikuasai mutlak pribumi. Menurut beliau, sarana transportasi adalah jantung negara. Dalam setiap serangan militer, maka pelabuhan, bandara, dan stasiun adalah obyek pertama yg dituju. Jika ketiga sarana tersebut bisa dikuasai maka dengan mudah suatu negara bisa dijatuhkan.

Oleh karena itu Prabowo sangat tidak setuju jika ketiga sarana transportasi itu sahamnya banyak dikuasai asing. Meski dengan alasan apapun, entah alasan investasi, entah alasan transfer of knowledge, maka tidak diperkenankan. Jokowi menyangkal bahwa Prabowo paranoid, karena buktinya selama ini baik-baik saja. OMG, geregetan rasanya. Sebagai orang awam, saya pun bisa memahami betapa vitalnya ketiga alat transportasi itu.

Ada satu poin lagi yang membuat saya merinding. Prabowo menjelaskan betapa selama ini Indonesia tidak dihargai oleh negara-negara lain karena Indonesia miskin dan banyak utang. Betapa kurs rupiah sering anjlok. Bahkan beras dan garam pun masih import. Prabowo berjanji akan membawa Indonesia menjadi negara yang berdiri di atas kaki sendiri. Akan fokus membawa Indonesia menjadi negara yang bermartabat dan makmur. Karena sebetulnya Indonesia adalah negara kaya raya tetapi para pemimpinnya korup. Karena korup itulah akhirnya terjadi kebocoran dana ke luar negeri. Andaikan tak ada kebocoran, niscaya dana triliunan tsb bisa digunakan untuk mengentaskan kemiskinan.

Saya bisa merasakan ketulusan Prabowo. Bahwa apa yang diucapkan itu adalah dari lubuk hatinya. Apa yang dari hati akan sampai ke hati. Gestur, mimik, dan intonasi Prabowo menunjukkan ketulusan itu.

Dan debat malam ini milik Prabowo. Saya yakin orang yang masih memiliki hati nurani jernih bisa merasakan kesungguhan itu.

(Widi Astuti)