TOLAK KERTAS CONTEKAN DI DEBAT PILPRES !!!


TOLAK KERTAS CONTEKAN DI DEBAT PILPRES

Kepada Ketua KPU dan Anggota KPU yang agak terhormat (Mohon maaf, rasa hormat saya sudah berkurang sejak Kotak Suara Pilpres kalian ganti dengan Kardus. Sialan, kenapa sekarang suara rakyat kok dianggap senilai mie instan, ya).

Sebagai penyelenggara Pemilu dan Pilpres yang akan memilih anak bangsa terbaik yang akan memimpin Negara kita ini lima tahun kedepan, saya sebagai rakyat berharap Bangsa kita akan mendapatkan Presiden yang pintar, bijak dan berwawasan luas.

Oleh karena itu, saya menyarankan di debat terbuka Capres/Cawapres nanti agar para Calon Presiden dan Wakil Presiden kita memperlihatkan kemampuan dan tingkat intelektual yang sebenarnya.

Karena itu mohon diperiksa kantong baju dan kantong celana para peserta sebelum mereka berdebat.
Ibarat ujian, para peserta yang membawa kertas contekan itu haram dan terlarang. Bagi yang melanggar seharusnya dihukum bila perlu didiskualifikasi.

Seingat saya, murid-murid yang bawa kertas contekan ketika ujian itu bodoh dan cenderung tidak jujur. Type murid yang makan bakwan lima tapi mengaku tiga di Kantin Sekolah. Kalau tukang contek terpilih jadi Presiden saya khawatir orang seperti itu akan klaim sana-sini padahal tidak memiliki prestasi sama sekali.

Lebih berbahaya lagi, karena type tukang contek juga akan habis-habisan melakukan pencitraan untuk menutupi IQ-nya yang jongkok setengah tiang.

"Yang jadi korban, siapa?".

Ya kita...kita...kita...rakyat Indonesia.

Saya cuma mengingatkan kalau Anak-anak kita saja di Sekolah Dasar ketika ujian kelulusan akhir selalu diawasi dengan ketat karena kita berharap standarisasi nilai yang cukup tinggi untuk kelulusan mereka.

"Mosok" iya, untuk para Calon Presiden dan Wakil Presiden kita menurunkan standard kelayakan dan membiarkan para kandidatnya membawa kertas contekan?

"Apa kata Dunia...?".

Selain tidak jujur kita seharusnya malu donk sama anak-anak SD se Indonesia!!!

Biarkan semua rakyat bisa melihat dan menilai Calon Pemimpin-nya secara "telanjang" tanpa topeng. Jangan sampai rakyat seperti membeli kucing dalam karung, berharap dapat kucing Anggora malah dapat kucing kampung. Sudah kucing kampung, planga-plango dan kurapan lagi.

Ingat, rakyat yang menanggung beban akibat salah pilih dan menderita lima tahun lagi...

Bahkan untuk mendapatkan Calon Presiden yang tidak akan planga-plongo di acara-acara kerjasama Internasional, saya sarankan agar ada test debat bahasa Asing. Dalam hal ini 3 bahasa pergaulan Internasional, Bahasa Inggris, Bahasa Arab dan Bahasa Mandarin.

Menurut saya masalah ini sangat penting, agar jangan sampai Presiden kita cuma bisa cengengesan dan planga-plongo karena tidak paham obrolan para sejawatnya yang saling berbincang, apalagi malah cuma dijadikan "koki" karena mereka anggap sekelas pelayan untuk melayani pertemuan para Pemimpin Dunia.

Lagipula anak-anak kita di tingkat Es-em-pe aja bahasa asing sudah dimasukkan di Ujian Nasional. Mosok mau jadi Presiden/Wakil Presiden "Ujiannya" kalah dengan Anak-anak Es-em-pe?

"Apa kata Bang Haji Rhoma...?"

SUNGGUH TER...LA..LU...!!!

3 Januari 2019

(Azwar Siregar)

*sumber: fb penulis