ANIES TIDAK BERSALAH, Kalau Bersalah BAHAYA Bisa Menyeret Puluhan Kepala Daerah Pendukung Petahana


ANIES TIDAK BERSALAH

Buang-buang waktu saja Bawaslu periksa Anies. Tidak perlu Badan Pengawas untuk memutuskan itu, mata rakyat telanjangpun sudah dapat melihat dengan sangat jelas Anies tidak bersalah.

Kalau Anies kena pasal pelanggaran kampanye, pastilah belasan bahkan puluhan kepala daerah lainnya, mulai dari Bupati, Walikota, sampai Gubernur, juga harus bernasib sama.

Apalagi Anies hanya beberapa detik mengacungkan salam 2 jari. Dimana dapat juga diartikan sebagai simbol salam Jakmania. Pun ia bisa mengatakan sebagai salam Literasi, sebagaimana salamnya para pecinta baca.

Padahal kepala daerah lain terang-terangan dukung Jaenudin sambil mengacungkan salam 1 jari berkali-kali, berdetik-detik bahkan bermenit-menit. Mereka meneriakkan yel-yel, sambil mukanya menantang pose ke kanan ke kiri, bahkan ada yg sampai jejogetan di arak-arakan. Mereka diliput media, disiarkan layar kaca, dan diketahui rakyat secara luas. Tapi tak ada yang terancam seperti Anies, meski Mendagri sudah mengatakan bahwa Anies dalam posisi cuti.

Anies memang istimewa. Ia ditakuti kubu petahana, karena dianggap representasi dari Prabowo-Sandi. Buktinya? Coba saja lihat timeline ketika pak Jokowi ke Madura 19 Desember lalu, dimana dia dihadiahi lagu 'Jokowi mole'.

Saat itu, pagi hingga siang pak Jokowi dalam kapasitas sebagai Capres hadir di acara deklarasi dukungan oleh 13 ulama di Bangkalan. Jelas itu adalah acara kampanye, karena ada deklarasi, pengerahan massa, dan didahului undangan yang tersebar luas. Jadi pantas diduga hari itu Presiden cuti.

Tapi apa khayal, siangnya Jokowi bagi-bagi ribuan sertifikat tanah di kota yang sama. Apakah capres punya kewenangan bagi-bagi sertifikat? Jelas tidak. Itu adalah kegiatan lurah atau camat, yang kini jadi aktivitas rutin Presiden. Jadi artinya, hari itu pak Jokowi berkepribadian ganda, alias memiliki 2 sebutan yang berbeda: Pagi sebagai 'Calon Presiden' dan Siang menjadi 'Presiden'. Cuti dan tidak cuti pada hari yang sama.

Apakah ada yang protes kepada pak Jokowi..? Tidak. Tapi kenapa acungan 2 jari Anies saat cuti dipersoalkan? Ya itulah spesialnya The Goodbener. Anies ditakuti musuhnya. Sedangkan Jae cukup digeleng-gelengi lawannya, saking takjubnya.

Apalagi istimewanya Anies..?
Coba saja lihat, ketika Presiden Jokowi dan Gubernur Anies berjalan beriringan melakukan kunjungan bersama. Siapa yang dipanggil-panggil rakyat dengan manis? Siapa yang dielukan emak-emak..?

Bukan karena Anies lebih tampan. Bukan karena ia lebih berkharisma, juga bukan karena lebih cerdas, walaupun jawaban itu semua benar. Tapi utamanya karena rakyat sudah pandai. Rakyat ingin punya anak seperti Anies, ayah seperti Anies, pemimpin seperti Anies.

Itulah kenyataan yang harus disadari saat ini.
Pada dasarnya memilih pemimpin itu ibarat sedang bercermin. Orang akan memilih dirinya dipimpin oleh manusia yg menyerupai dirinya, atau suka diperintah oleh pribadi dimana ia bercita-cita ingin jadi seperti sosok pemimpin tersebut.

Jadi jika orang tsb mencla-mencle, ia akan nyaman saja diperintah oleh pendusta. Dan jika ia bodoh, tidak akan tahu bahwa sedang dipimpin oleh orang dungu.

Tapi rakyat yang pintar, akan berjuang keras untuk memenangkan Pemimpin yang serupa watak dan cita-cita nya dengan mereka. Karena mereka menyadari, Pemimpin adalah investasi bagi kejayaan negeri dan jaminan bagi kelangsungan hidup anak cucu nanti. Mereka tahu, salah memilih Pemimpin adalah bencana.

(by Agi Betha)
-jurnalis senior-

Sumber: fb penulis