Ketidakbecusan Tanggap Bencana Jadi Sorotan


[PORTAL-ISLAM.ID] Tsunami terjadi di kawasan pantai barat Provinsi Banten dan pantai selatan Provinsi Lampung, Sabtu (22/12/2018) malam sekitar pukul 21.20 WIB.

Jumlah korban dan kerusakan akibat tsunami di Selat Sunda per 23/12/2018 pukul 16.00 WIB tercatat 222 orang meninggal dunia, 843 orang luka-luka, 28 orang hilang. Kerusakan fisik: 556 unit rumah rusak, 9 unit hotel rusak berat, 60 warung kuliner rusak, 350 kapal-perahu rusak.

Awalnya pihak BMKG dan BNPB menyebut BUKAN TSUNAMI, lalu akhirnya Meralat.

Inilah yang menjadi sorotan sejumlah pihak akan ketidakbecusan tanggap bencana.

Bahkan Kepala Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, menyebut yang memberitakan Tsunami adalah isu Menyesatkan.

"...Masyarakat dihimbau tenang. Tidak terpancing pada isu menyesartkan. Tidak ada tsunami," kata Sutopo di akun twitternya.


BMKG setali tiga uang.

"...Yang terjadi di Anyer dan sekitarnya bukan tsunami, melainkan gelombang air laut pasang. Terlebih malam ini ada fenomena bulan purnama yang menyebabkan air laut pasang tinggi. Tetap tenang," kicau akun resmi twitter BKMG. Kurang ajar lagi pakai emo sok kalem segala di tengah bencana.


Padahal ini soal nyawa banyak orang.

Akhirnya pernyataan BMKG dan Humas BNPB dihapus, ralat, dan minta maaf.

"Saya tadinya tenang2 saja baca berita ttg “Air laut Pasang krn Bulan Purnama” di Banten.

Lembaga Resmi Negara: “Bukan Tsunami”

Ternyata semua tertipu..
BMKG, BPPT, LIPI / apapun lembaganya: Deteksi & infonya sangat tidak akurat.!

Setelah kejadian semua berbicara seolah ahli..," kata anggota BPK, Achsanul Qosasi, di akun twitternya.

Warganet mencatat kesalahan ini sudah yang ke-2. Dulu waktu Tsunami Palu juga dibilang bukan Tsunami.

"...Benar2 memalukan...Tsunami Palu sekarang Tsunami selat Sunda, manajemen informasi bencana kacau begini...Belum pernah di era presiden manapun yg manajemen informasi bencananya sekacau ini, hanya di era baginda @Jokowi bisa sekacau ini...Puji Tuhan... (``,)," komen aktivis buruh Iyut.

"Klo yg hoax penguasa enak aja cuma minta maaf, hapus, ralat. Selesai. Padahal sesuatu yg urgent berdampak pd keselamatan.

Klo oposisi yg hoax dah langsung cyduk," ujar @maspiyuuu.