Ahok dan Budaya ‘Hoak’


[PORTAL-ISLAM.ID]  Sebentar lagi Ahok bebas dari penjara tak lazimnya di Brimob bukan Lapas. Betapa istimewa perlakuan pada “Warga Negara Indonesia” khusus ini. Sejak awal sebelum proses hukum pun sebenarnya perlindungan telah dilakukan. Hanya karena tekanan kuat, khusus umat Islam, yang antara lain melalui gerakan 212 maka benteng pertahanan tebal sang Gubernur itu akhirnya tembus juga.

Upaya memulihkan tokoh kontroversi ini dilakukan oleh para disainer politik. Pro Ahok tentunya. Film dibuat dan ditayangkan di bioskop dengan promosi cukup gencar. Tapi nampaknya tak laku. Penonton sepi saja. Masyarakat masih gak demen ame ‘A Man Called Ahok’ ini.

Promosi berlanjut dengan isu bahwa Ahok akan gantikan Ma’ruf Amin karena kyai sepuh ini sakit. Isu yang tak rasional ini dimakan publik juga. Intinya memang upaya menokohkan kembali Ahok. Ahok akan jadi menteri Jokowi pun dilempar. Namanya juga dagangan asongan.

Bagi umat Islam Ahok adalah goresan hitam sejarah. Mencoba memerankan kembali dalam episode baru panggung politik, hanya memancing konsolidasi baru pula. Label Ahok sebagai penista agama melekat dalam jiwa keimanan umat. Aspek etnik juga berpengaruh, apalagi di era ini masyarakat sedang merasa terancam dan terpinggirkan oleh kekuatan ekonomi dan politik “dunia lain”.

Baiknya Ahok istirahat dulu merenungi perjalan hidupnya. Mengubah watak kasar dan sompralnya dengan sikap yang lebih terkendali dan dapat menghargai orang lain. Bila memaksakan diri tampil dengan ego tinggi dan seolah tanpa dosa, maka tabungan kasus seperti reklamasi, sumber waras, trans jakarta, UPS atau lainnya akan menjadi beban baru yang mesti dihadapi.

Basuki yang ingin bercahaya harus menunda dulu ambisi agar tidak semakin redup atau gelap. Purnama tak ada, yang terjadi gerhana. Umat Islam diharuskan mendekat kepada Allah, saat gerhana. Ahok muncul, hoak hoak pun timbul.

Ahok juga memimpin bukan dengan semata kualitas, melainkan pencitraan-pencitraan. Budaya politik buruk (bad political culture) yang sedang trendi di era milenial ini adalah politik pencitraan yang tak lain adalah budaya politik hoax. Politik yang diisi oleh kebohongan dan ketidakjujuran.

Stop Ahok, stop hoak, stop pencitraan. Stop Walikota, stop Bupati, stop Gubernur, stop Presiden yang memimpin dengan modal action dan kepura puraan. Stop membohongi rakyat. Tenggelamkan.

 Penulis: M. Rizal Fadillah
Loading...