Ustad Sunardi, Mujahid Dakwah Jogja Murid Mohammad Natsir


Oleh: Yusuf Maulana
(Penulis dan Pustakawan Jogja)

Kiprahnya lebih dikenal dalam aksi di lapangan, yang disaksikan banyak orang. Dari podium pengajian akbar, pencanangan bangunan masjid, sampai aksi umat melawan bentuk-bentuk pembodohan dan penindasan. Teks pikirannya lebih mudah diungkapkan dengan tindakan. Dan ini sebuah untaian yang pantas dibukukan agar jadi bacaan keteladanan.

Dari kegigihan dengan sepeda onthel susuri jalanan perkampungan, hingga deru mobil peneman, semua pernah jadi kenangan. Kegigihan tanpa batas sejak kurun 1970-an paruh kedua. Kesaksian banyak warga kampung kami, yang bersebelahan kecamatan dari tempat lahirnya, tandaskan sikap ajek menekuni perjuangan dakwah.

Mungkin bagi sebagian orang, nama Ustad Sunardi lebih dikenal sebagai sebagai aktor lapangan dalam perjuangan dakwah. Sebenarnya beliau sekaligus aktor perancang. Sayangnya, beliau tak hasilkan karya tulisan selain sebuah skripsi semasa duduk di IAIN Sunan Kalijaga. Semua gagasan perintisan dan pengembangan dakwah tersimpan rapi di kepala. Sayangnya pula, orang-orang di sekitarnya belum beranjak untuk menuliskan jejak kiprah dan gagasan fiqh da'wah beliau, sebagai kader dan didikan Buya Mohammad Natsir.

Alhasil, nama Ustad Sunardi lebih sering ditulis sebagai sosok dalam lintasan peristiwa. Tidak banyak, dan tak sebanding dengan kiprahnya. Merle Ricklefs dalam "Mengislamkan Jawa" menyitir pendapat Ustad Sunardi soal pernikahan beda agama yang merugikan pihak Islam. Sementara itu, Imam Subkhan menyebutkan nama Ustad Sunardi dan kiprahnya di Forum Ukhuwah Islamiyah (yang dirintis sejak 1997) dalam buku "Hiruk Pikuk Wacana Pluralisme di Yogya". Disebutkan di buku ini antara lain andil jaringan Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia dan rumah Ustad Sunardi sebagai tempat rapat-rapat FUI. Masa-masa itu, organisasi penulis status ini beberapa kali menerima undangan dan turut hadir menemani utusan KAMMI. Sementara dalam "Titik-titik Kisar di Perjalananku", autobiografi Ahmad Syafii Maarif, penulisnya menyebut Ustad Sunardi dalam pembangunan gedung Muallimin pada 2006 semester kedua, yang rusak akibat gempa bulan Mei.

Keberadaan di banyak institusi umat meniscayakan Ustad Sunardi pilihan tepat sebagai sumber primer penulisan. Kiprahnya juga sudah lama sehingga memahami alif-ba-ta-tsa persoalan kontemporer yang sebagiannya masih aktual, semisal pembatasan hak beragama bagi siswa muslim di sekolah yayasan bukan-Islam.

Justru karena terpagut sebagai pelaku langsung dan kesibukan berjibun, Ustad Sunardi seperti merasakan mewahnya menuangkan gagasan lewat tulisan. Kiprah istrinya lebih dulu dibukukan, yakni tentang kesuksesan bisnis yang mereka rintis sejak 14 September 1975 dengan bendera Pamella. Sudah tentu nama Ustad Sunardi diterakan di dalamnya.

Sebuah buku biografi sang istri, Ibu Noor Liesnani Pamella, menyebutkan kesuksesan bisnis mereka tidak terlepas dari kesakinahan rumah tangga dan komitmen menjaga keberkahan berbisnis. Buku-buku yang belakangan muncul memang lebih mengulik soal kredo bisnis Pamella, seperti anti-riba. Artikel media pernah mengulas Pamella juga menabukan rokok sebagai komoditas yang dijual per 2014. Meski aktor utama yang dijadikan subjek tulisan adalah Ibu Noor, nama Ustad Sunardi selalu ada di sebaliknya. Tampaknya peran inilah yang "memadai" semasa Ustad Sunardi hidup: tidak berpanjang dituliskan dan cukup disebutkan juga dirasakan jasa-jasanya.

Sebagai tempaan Natsir yang seorang ulama prolifik, yang berarti tak hanya piawai di podium tapi juga di untaian kertas tulis, kiprah dan gagasan Ustad Sunardi berakhir dengan umur beliau. Tapi legasi dari ilmu yang dibagikannya, yang tertancap di benak banyak muslim, sepatutnya segera dihimpunkan. Agar kaum muda ke depan senantiasa tersambung dengan kiprah pendahulu. Apatah lagi, Ustad Sunardi aktor penting rekayasa sosial melalui dakwah di Yogyakarta sejak, terutama 1980-an.

Masjid-masjid yang diinisiasi Ustad Sunardi sepatutnya menelisik dan menegakkan amal-amal saleh yang pernah beliau sampaikan. Membaca kiprahnya untuk kemudian menjaga mana-mana yang sudah berjalan baik; memperbaiki mana saja yang goyah dan luput dikerjakan. Karena kita tahu, umur manusia ada batasnya. Keteladanan Ustad Sunardi bagi anak-anak milenial niscaya disambungkan. Dan ini tugas para anak didik beliau, juga umat secara luas yang pernah tercelup dengan kiprahnya. Ya, ini agar rangkaian kebajikan yang diteladankan Ustad Sunardi bisa dituruti bagi perbaikan umat kini dan esok-esok hari.


Komitmen meneruskan kebaikan Ustad Sunardi, menjadi suatu penabal mengalirnya ilmu bermanfaat yang pernah beliau bagikan dan amalkan. Terus menguat seperti putaran sepeda yang dipancalnya dari Moyudan ke Kota Yogyakarta, atau dari rumahnya menuju STM Muhammadiyah semasanya muda jadi pendidik. Dan itu akan terkenang bagi kita yang ditinggalkan per 11 November 2018. Selamanya. Tapi tidak lupa dengan ingatan tausiyah dan pekik takbir almarhum di atas pick up lama di Nol Kilometer Yogyakarta dalam pelbagai demonstrasi. []