Refleksi 16 Tahun Kemenangan AKP, Dari Gerakan ke Negara


Refleksi 16 Tahun Kemenangan AKP
(3 November 2002 - 3 November 2018)

Oleh Mohamad Radytio

Sebuah gerakan politik, yang mendefinisikan dirinya sebagai sebuah gerakan Islam Demokrat, menginjak usia kekuasaannya yang ke-16 tahun. Pada 3 November 2002, Partai Keadilan dan Pembangunan (Adalet ve Kalkınma Partisi/AKP) memenangkan pemilihan umum dengan perolehan suara tertinggi serta raihan kursi parlemen nyaris 2/3.

Dalam perjalanan 16 tahun tersebut, AKP dipercaya oleh rakyat Turki untuk menjadi fasilitator mereka meraih masa depan. Selama 16 tahun, AKP memenangkan setiap pemilu yang diikutinya, baik di tingkat nasional maupun lokal.

Usia 16 tahun, bila diqiaskan ke dalam usia manusia menurut beberapa literature psikologi, masuk kedalam usia dimana seseorang mulai merefleksikan pengalamannya “dibesarkan” kepada orang diluar dirinya.

Selama 16 tahun, AKP memahami bagaimana tidak mudahnya mendorong sebuah negara, yang selama 80 tahun berada dalam pengaruh kendali deep state Kemalisme, agar menjadi sebuah negara demokratis yang memegang nilai-nilai Islam. Hingga sekarang-pun, hal itu belum sepenuhnya dicapai. Namun, menilik bahwa dimasa lalu Turki tidak segan memenjarakan orang yang menentang tindak-tanduk negara serta mempersulit umat Islam untuk menjalankan ajaran agamanya, pencapaian AKP sejauh ini mampu membalik banyak dari apa yang terjadi selama 80 tahun tersebut.

Selama 16 tahun memerintah, AKP merasakan bagaimana tantangan-tantangan yang mereka alami memerlukan pendekatan tersendiri. Berbeda dengan di Mesir, Indonesia dan Tunisia yang secara resmi memberi ruang pada agama, di Turki agama dianggap sebuah momok oleh negara. Pendekatan yang dipakai AKP, yang oleh beberapa gerakan diluar Turki sebagai pembredelan terhadap corak identitas Islam, dirasa perlu untuk menghadapi tantangan dalam negeri Turki. Terlebih, AKP terlihat memahami tren dunia yang cenderung lebih dinamis; banyak ditemui koalisi politik yang, bila dilihat dari kacamata baku ideology, tidak mungkin tercapai. Isu-isu yang ada dan dipakai bukanlah isu yang ada dalam ideology tertentu. Bahkan, tren dinamisme ini tidak terbatas pada tataran politik organisasi.

Ini bertentangan dengan banyak partai politik berbasis identitas, yang menganggap bahwa “barangsiapa meniru suatu kelompok, maka ia masuk dalam kelompok tersebut.” Inilah yang menyebabkan AKP kemudian mengadopsi paham-paham lain. Yang perlu dimengerti disini, ini bukan berarti AKP menanggalkan identitas Islam Demokratnya. Ini hanya berarti bahwa sepanjang suatu hal/paham itu tidak dilarang oleh Islam, serta dampak positifnya bagi umat jauh lebih menguntungkan, maka hal tersebut akan diadopsi oleh AKP.

Contoh gamblang adalah partisipasi Turki dibawah AKP dalam organisasi NATO, serta kebijakan-kebijakan ekonomi yang diambil. Selain itu, AKP juga menerima non-kader sebagai pejabat di posisi-posisi penting. Yang dilihat adalah kemampuan mereka dalam mengurus suatu permasalahan. Mengenai arah ideology, itu dilakukan secara bertahap.

Pengalaman AKP selama 16 tahun sebagai pengelola Turki juga memosisikan diri mereka secara unik untuk memahami banyak negara. Turki adalah negara dua benua, Turki adalah negara Eropa yang penduduknya paling banyak berasal dari Asia, serta negara Asia yang paling banyak terekspose pengaruh dari Eropa. Turki adalah negara berpenduduk mayoritas muslim yang paling banyak terekspose pengaruh sekulerisme, namun Turki juga negara sekuler yang paling banyak mengambil narasi-narasi agama. Turki adalah satunya-satunya negara muslim yang menjadi anggota NATO, tapi Turki juga merupakan satunya-satunya negara anggota NATO yang berpenduduk mayoritas Islam. Turki merupakan negara muslim pertama yang mengakui Israel, tapi kini Turki menjadi negara muslim yang keras mengacak-acak maneuver Israel. Turki juga merupakan satu-satunya negara yang pendahulunya pernah memiliki imperium, namun Turki juga merupakan satu-satunya negara penerus sebuah imperium yang tidak pernah terlibat dalam neo-kolonialisme dan imperialism (nekolim) modern.

Pengalaman inilah yang membuat AKP mampu membangun relasi dengan berbagai blok yang dirasa bersebrangan. Meski relasi/hubungan itu tidak selalu berjalan mulus, AKP tidak menghindar dari menjalin relasi dengan berbagai pihak. AKP membawa Turki untuk kembali bersentuhan dengan saudara-saudara Arab mereka, setelah puluhan tahun bersentuhan dengan Barat. AKP membawa Turki memiliki hubungan erat dengan Rusia, meski mereka berada didalam koalisi NATO. AKP sukses membawa perekonomian Turki didalam jajaran 20 besar, meski dulu perekonomian mereka berada di belakang. AKP sukses membuat kaum nasionalis Turki mendukung kembalinya Islam sebagai nafas rakyat, meski nasionalis Turki punya tendensi mengambil nafas dari ajaran-ajaran Ataturk.

Selama 16 tahun berpengalaman memerintah, AKP mampu merasakan bagaimana kondisi sebuah negara yang sedang berjuang menjadi maju. Inilah alasannya meski ekonomi Turki kini melambat, mereka tetap memberi bantuan kepada berbagai negara. Melalui organisasi TIKA, atau dengan mendukung organisasi-organisasi nonpemerintah seperti IHH, Turki dibawah pelayanan AKP memberikan bantuan ke berbagai penjuru dunia. Mulai dari banjir di Ekuador, masalah keamanan di Somalia, penanganan pengungsi di Suriah, hingga tsunami dan gempa di Palu, Turki berpartisipasi memberi bantuan.

Perkembangan Turki selama 16 tahun berdasarkan pengalaman AKP memerintah selama 16 tahun memang belum sempurna. Namun, “latihan” AKP selama 16 tahun mengubah Turki mulai mendapat sorotan dari umat Islam di seluruh dunia.

Bila Turki dibawah gerakan AKP mampu mencapai hal-hal itu bagi mereka sendiri, maka mereka bisa mampu merefleksikannya pada negara diluar Turki.

Pertanyaannya: Apa pengalaman AKP bisa ditiru? Belum tentu, karena setiap negara memiliki kondisinya sendiri. Tapi bila tidak dengan menjadikan Turki sebagai pemimpin perubahan, setidaknya menjadikan Turki sebagai acuan. Bahwa ada sebuah gerakan yang berhasil mentransformasi sebuah negara kearah lebih baik.***