‘Pernah Menjadi Santri’, Tampaknya Kiyai Ma’ruf Sindir Jokowi


[PORTAL-ISLAM.ID]  Pihak oposisi memang suka menggoreng. Apa saja yang muncul di pihak petahana, langsung digoreng. Terakhir, pernyataan cawapres Kiyai Ma’ruf Amin (KMA) bahwa Jokowi adalah santri. Pernah ‘nyantri’ di Situbondo. Dan guru beliau adalah salah seorang kiyai senior.

Nah, di sini penggoreng pihak oposisi tampak terlalu serius. Padahal, Kiyai Ma’ruf mungkin cuma ingin menyindir alias meledhek Pak Jokowi. Mencandai saja.

Apa kata oposisi? Mereka antara lain mengatakan, “Kalau benar pernah menjadi santri, kok bisa ‘alpateka’? Tak mungkin santri begitu.”

Tentu benar apa yang dipertanyakan oleh penggoreng oposisi. Tetapi, sangat mungkin Kiyai Ma’ruf itu maksudnya justru mau menyindir Pak Jokowi agar berusaha menjadi lebih santri lagi. Agar berusaha belajar al-Quran sehingga tidak lagi terucapkan ‘alpateka’. Supaya ‘la haula wa la quwwata illa billah’ tidak lagi terucapakan keliru.

Itu yang dimaksudkan Kiyai Ma’ruf. Kok saya tahu? Ya tahulah. Bisa dilihat kok dari bahasa tubuh Pak Kiyai bahwa beliau hanya ingin menyindir Pak Jokowi. Bukan serius mengatakan Pak Presiden pernah menjadi santri. Apalagi mengatakan santri yang bergurukan kiayi senior.

Nah, ini juga. Ketika Kiyai Ma’ruf mengatakan guru Pak Jokowi itu seorang kiyai senior di Situbondo, itu maksudnya menyindir supaya Pak Jokowi segera memperbaiki bacaan al-Quran dengan bantuan seorang kiyai senior. Kalau perlu, bisa langsung belajar dari Pak Kiyai cawapres.

Saya sangat menyesalkan pihak oposisi yang tak paham sindiran Kiyai Ma’ruf terhadap Pak Jokowi. Kita pahamlah bahwa tak mungkin rasanya Pak Kiyai berani mengatakan langsung kepada Pak Jokowi supaya belajar kembali alif-ba-ta.

Jadi, mari kita bantu misi Kiyai Ma’ruf untuk memperbaiki bacaan al-Quran Pak Jokowi. Misi yang sangat mulia. Lebih mulia dari kemenangan Pak Jokowi di pilpres 2019, seandainya beliau menang.

Artinya, lebih baik Pak Jokowi kalah pilpres ketimbang kalah dalam perbaikan bacaan al-Quran. Ini misi Kiyai Ma’ruf yang tak terbaca oleh para penggoreng oposisi.

Penulis: Asyari Usman