Deklarasi GARBI Riau, Fahri Hamzah: Indonesia Kehilangan Arah, Yang Ada Sontoloyo Genderuwo


[PORTAL-ISLAM.ID] PEKANBARU - Deklarasi Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi) Provinsi Riau yang menghadirkan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah baru saja dimulai. Ratusan pendukung Garbi dari berbagai kalangan hadir pada acara yang digelar di Hotel Prime Park, Pekanbaru, Ahad (10/11/18) itu.

Dilansir Riauterkini, berbagai latar belakang hadir pada acara Garbi, seperti perwakilan dari forum guru honorer swasta, tokoh pemuda dan komunitas motor. Menariknya, sejumlah politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) juga terlihat hadir. Di antaranya dua mantan anggota DPRD Riau Hasyim Aliwa dan Nurdin. Hadir juga pada kesempatan Wakil Ketua DPRD Riau Noviwaldi Jusman.

Fahri Hamzah sendiri hadir mengenakan pakaian serba hitam dengan mengenakan tanjak Melayu berwarna merah di kepalanya. Kehadiran Fahri, langsung disambut para pengurus Garbi dan undangan yang hadir.

Kegiatan diawali dengan deklarasi kepengurusan Garbi se Riau. Kemudian dilanjutkan dengan orasi dari Ketua Garbi Riau Jufrizal, yang banyak mengkritisi arah kebijakan pemerintahan saat ini yang dianggap sudah kehilangan arah.

Menurut Jufrizal, hal itu selaras dengan lahirnya Garbi yang ingin memperbaiki nasib bangsa yang seharusnya bisa sejahtera karena kekayaan alamnya. "Garbi lahir sebagai wijud tanggung jawab, untuk mensejahterakan masyarakat. Indonesia saat ini sudah kehilangan arah yang tidak lagi sesuai dengan founding father yang dicita-citakan dahulu. Karena itu, Garbi ini lahir sebagai wujud tanggung jawab," ungkap Jufrizal.

Sementara itu, dalam orasinya Fahri Hamzah menyebut Garbi lahir dari kegelisahan kondisi Indonesia dan politik saat ini.

"Garbi ini lahirnya karena ada kegelisahan masyarakat arus bawah. Kegelisahan bukan pada partai tertentu, tapi kepada semuanya. Karena coba bayangkan, musim pemilu sudah datang, tapi rakyat tidak tahu apa yang ditawarkan untuk perbaikan, bahkan capres pun tidak tahu. Yang kita dengar ya Sontoloyo Genderuwo. Tidak menjelaskan mau dibawa kemana Indonesia. Apakah kita akan terus dijebak dalam konflik idiologi yang diimpor oleh orang? Apakah kita akan terus mencurigai kelompok Islam? Waspada kepada cadar jenggot pengajian? Apa begini terus? Ini kegelisahan yang massif," ujar Fahri Hamzah.

"Ini kegelisahan yang serius, yang harus kita cari kita bangun rutenya menuju jawaban-jawaban konkrit. Karena itu kita mengkonsolidasikan diri dalam Gerakan Arah Baru Indonesia."

"Ada seorang intelektual, tokoh pergerakan, yang jarang bicara tapi banyak berfikir. Dia menyusun konstruksi besar peradaban dari Republik ini. Nama Gerakan Arah Baru Indonesia bersumber dari pidatonya, yaitu pidato Anis Matta. Tidak ada elit Indonesia yang bicara seperti Anis Matta tentang realitas Indonesia," papar Fahri.

(Orasi Fahri Hamzah selengkapnya: https://www.youtube.com/watch?v=ycRk8UIVfR8&feature=youtu.be)