Belajar dari Pemuda Al-Banna


[PORTAL-ISLAM.ID] Hassan al-Banna dilahirkan pada tanggal 14 Oktober 1906 di desa Mahmudiyah kawasan Buhairah, Mesir. Pada usia 12 tahun, Hasan al-Banna telah menghafal al-Qur'an.

Ia adalah seorang mujahid dakwah, peletak dasar-dasar gerakan Islam sekaligus sebagai pendiri dan pimpinan Ikhwanul Muslimin (Persaudaraan Muslimin).

Di usia 22 tahun, imajinasi Al-Banna membumbung tinggi melesati masanya. "Visi ustadziyyatul 'aalam" digelorakan hanya 4 tahun dari runtuhnya Utsmaniyyah 1924.

Al-Banna muda menerjemahkan visi dalam aksi: membuka diri dalam dialog dan diskusi bersama kaum Liberal, Sekuler, Komunis, Syi'ah, Tarekat. Dia datangi kedai-kedai kopi.

Unggul dalam pilihan diksi, cakupan tsaqafah yang mumpuni, gestur tubuh nan memadai dan wajah berkharisma, mudah menarik simpati. Padahal Al-Banna bukan keturunan Nabi, tidak juga berdarah biru.

Al-Banna tidak anti materi. Tampilannya nyentrik, akrab dengan pengusaha, membersamai elit, berkelindan dengan bangsawan. Semua pergaulan itu tak membuatnya tercerabut dari visi besarnya. Wajar hasil-hasil dakwah Al-Banna terukur dan terstruktur.

Secara khusus Sayyid Quthb rahimahullah, yang belum pernah berjumpa dengan Al-Banna, mengungkapkan kekagumannya terhadap kejeniusan Al-Banna dalam dua sisi penting.

Pertama, kemampuannya Al-Banna membina ruh dan jiwa secara seimbang terhadap anggota harakah, melalui porsi yang sesuai antara ilmu, ruh dan harakah, dan antara spesialisasi pendidikan Islam dari sisi lain.

Kedua, kemampuan pembinaan organisasi bagi Jama'ah. Jama'ah Ikhwan adalah jama'ah pelopor
amal jama'i (kerja kolektif)..

Al-Banna merogoh harta pribadi untuk misi membina ilmu, ruh, dan harakah anggotanya. Maka wajar, rekrutan Al-Banna melakukan hal sama seperti yang dicontohkan qiyadah, syaikh, dan murobbinya.

Tipe Al-Banna menolak konfrontasi terbuka, yang menyebabkan antipati organisasi lain. Dalam mudzakkirahnya, Al-Banna menuliskan:

"Sebenarnya, aku tak menginginkan dakwah dengan cepat menyebar sebagai satu jalan yang khusus."

"Hal ini dilatarbelakangi berbagai sebab, dan yang paling penting adalah aku tak ingin masuk dalam arena permusuhan dengan para pendukung tarekat lain. Dan aku tak ingin justeru membuat kaum muslimin lari, tidak juga mengabaikan salah satu sisi dari sisi ishlah (perbaikan) yang diajarkan Islam."

"Aku ingin sungguh-sungguh menjadikan dakwah ini merata, tegak di atas ilmu, tarbiyah (pembinaan) dan jihad. ltulah rukun-rukun dawah Islam secara global."

Al-Banna memperjuangkan Islam menurut Al-Quran dan Sunnah hingga dibunuh oleh penembak misterius yang oleh banyak kalangan diyakini sebagai penembak 'titipan' pemerintah pada 12 Februari 1949 di Kairo.