ARUS POLITIK GARBI


ARUS POLITIK GARBI

Oleh: Warjio, Ph.D
(Pengamat Politik, Ketua Prodi Ilmu Politik FISIP USU)

Pendahuluan

Barangkali diantara kita masih banyak yang tidak mengetahui keberadaan GARBI. Makhluk jenis apa ini? Saya pun baru mengetahui keberadaan GARBI ketika muncul polemik internal PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Ya, munculnya GARBI ada kaitannya dengan polemik yang muncul dalam PKS. Tentu saja bagi kita, PKS bukan hal baru. PKS adalah sebuah entitas politik yang awalnya adalah gerakan dakwah.

Saya benar-benar bersentuhan dengan GARBI ketika saya diminta sebagai pemateri dalam Dialog Politik dengan Tema Menuju Arah Baru Indonesia (3/11/2018) di salah satu Café di kota Medan. Pelaksananya adalah mereka yang menamakan diri sebagai GARBI Sumatera Utara. Dalam kesempatan itu saya diminta untuk memberikan pandangan bagaimana membangun Indonesia ke depan: permasalahan dan peluangnya serta solusi yang mungkin bisa dikembangkan. Bersama saya seorang pemateri lain adalah Timbas Tarigan. Kita tentu saja di Sumatera Utara mengetahui bahwa Timbas Tarigan adalah seorang elit yang kini memiliki jabatan sebagai Wakil Walikota Binjai. Publik juga tahu bahwa Timbas Tarigan juga elit politik PKS Sumatera Utara yang memiliki banyak pegalaman dalam politik dan pemerintahan serta praktik gerakan dan lika-liku dakwah. Yang tentu membuat saya -juga publik- belum tahu bahwa Timbas Tarigan adalah Ketua GARBI Sumatera Utara.

Dari Timbas Tarigan saya tahu mengenai keberadaan GARBI. Ini menjadi perbendaharaan baru saya dalam memahami fenomena sosial politik terutama persoalan terkini yang mendera PKS dan fenomena kemunculan GARBI. Saya katakan sebagai fenomena tentu memiliki alasan;

Pertama, GARBI muncul di jagad politik Indonesia langsung dari elit-elit PKS ketika proses politik menjelang Pemilu 2019. Bagi kita yang bergumul dalam memahami fenomena politik ini tentu menarik: mengapa justeru menjelang Pemilu 2019 GARBI muncul dan memunculkan polemik internal dalam PKS? Bukankah ini bisa mempengaruhi gerak kerja PKS? Lebih dari itu apakah kemunculan GARBI akan mempengaruhi dukungan PKS dalam Pemilu 2019? Mengapa GARBI muncul?

Kedua, kemunculan GARBI ternyata diikuti dengan beramai-ramai tokoh ataupun elit PKS di berbagai daerah di Indonesia. Sebagaimana yang kita ketahui, di daerah terjadi pengunduran diri kader PKS secara massif seperti terjadi di Bali, Banyumas, dan Mojokerto. Puluhan kader DPD PKS Kabupaten Mojokerto memilih mengundurkan diri untuk berhijrah ke ormas GARBI. Di samping itu, ratusan kader PKS di Sumatera Utara menyatakan mundur dari keanggotaan sejak pemberhentian 8 dari 9 pimpinan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Sumut. Bagi kita ini menjadi pertanyaan besar mengapa kader PKS di daerah banyak mengundurkan diri dan kemudian bergabung dalam GARBI?

Ketiga, terjadi deklarasi secara masif GARBI di berbagai wilayah di Indonesia. Sebagaimana diketahui pada 1/11/2018 Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah ikut dalam deklarasi Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi) Aceh. Garbi disebut sebagai tempat berkumpul kaum milenial yang galau akan arah bangsa. Sebelumnya, momentum Sumpah Pemuda yang diperingati pada tanggal 28 Oktober, juga diperingati oleh ratusan orang anggota Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) membacakan bunyi sumpah pemuda bersama-sama pada acara Deklarasi GARBI Sumut, di Hotel Madani, Medan, Minggu (28/10/2018). Pembacaan teks sumpah pemuda dipandu oleh inisiator GARBI nasional, Mahfudz Siddiq. Kita pun tahu, Mahfudz Siddiq adalah salah satu tokoh pendiri PKS dan lama menjadi anggota legislative PKS.


Arus Politik GARBI

Menjawab beberapa persoalan di atas, memahami fenomena yang saya sebutkan, kita pun mengetahui keberadaan GARBI. Ya, GARBI bukanlah sejenis makluk aneh. GARBI adalah sebuah entitas yang lahir dari situasi politik dan kemudian menjadi gerakan massa yang banyak dikendalikan oleh anak muda. GARBI adalah singkatan dari Gerakan Arah Baru Indonesia.

Tentu, kita pun mengetahui mengapa GARBI muncul dalam polemic internal PKS. Bentuk ketidakpuasan terhadap dinamika yang terjadi di tubuh Partai Keadilan Sejahtera, membuat sejumlah kelompok dari partai tersebut bergabung dengan sebuah organisasi masyarakat yakni Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI).

GARBI ini titahnya ormas, yang bertugas memberi pikiran-pikiran dan ide menuju arah baru Indonesia, serta akan komunikasikan ide-ide ini kepada pemangku kepentingan baik pemerintahan pusat maupun daerah.

Sebagaimana yang banyak diketahui, di internal PKS terdapat kelompok konservatif yang bertentangan dengan kelompok progresif. Kelompok progresif menghendaki menampilkan Islam tak sekadar atribut dan jargon. Namun lebih mengaplikasikan ajaran Islam untuk mengurusi masalah kebangsaan. Di satu sisi ada kelompok di PKS yang nyaman di kelompok konservatif-nya. Maka mau tak mau harus terpisah.

Memahami kondisi ini, tentu kita harus memahami kelahiran PKS dan juga capaian mereka dalam pemilu di Indonesia. PKS itu lahir dari tuntutan Reformasi 1998. PKS -dulu dikenal sebagai Partai Keadilan (PK)- lahir sebagai respons dari gelombang reformasi yang dimotori orang-orang muda.
Tokoh tokohnya antara lain, Fahri Hamzah, Mahfudz Siddiq, dll, semangatnya melawan otoritarianisme dan menyebarkan benih demokrasi.

Dalam perjalanan politiknya, selama 20 tahun, PKS dianggap menguatkan organisasi yang berbasis di lingkaran elit. Dari segi partai politik, PKS termasuk partai papan atas dari partai-partai Islam lain. Dari sisi pencapaian, PKS tertinggi suaranya dari partai Islam. Artinya PKS termasuk parpol papan tengah dan boleh dibilang tertinggi dan paling besar dari parpol Islam. Ketika PKS muncul, semula bernama Partai Keadilan, parpol ini menjadi salah satu yang memimpin modernisasi Islam. Kira-kira pemikirannya: semua aspirasi Islam yang dimotori orang-orang muda, dimotori ide-ide Islam transnasional, punya kanalisasi institusi lewat PKS. Modernisasinya terletak di situ; mengadopsi demokrasi, mengadopsi negara dan seterusnya. Sehingga tidak seperti Hizbut Tahrir, garis demarkasi antara Islam dan negara. Tidak seperti Salafi yang anti-demokrasi dan bahkan berpolitik itu haram.

Ada kekecewaan dalam prose politik internal dimana proses modernisasi di PKS tidak berjalan dan malah terjadi gejala-gejala kemunduran. Bagi beberapa kalangan yang tidak puas, PKS mundur pada konservatisme. Artinya di sini ada upaya penguatan konservatisme sementara disi lain ada upaya untuk modernisme dalam PKS. Sesuatu yang diawal pendirian PKS bisa disatukan. Tema ini memang terlalu berat untuk kader PKS. Dan tentu saja dalam persfektif ideologi, ini persoalan prinsip mengenai kebijakan mengelola organisasi.

Saya kira, Arus Politik dalam GARBI -yang tokoh-tokohnya adalah juga pendiri dan elit PKS- merupakan arus politik yang menghendaki perubahan yang mereka namai sebagai bentuk modernisme partai dalam PKS. Arus Politik ini terus menguat ketika proses strukturalisasi internal PKS dan juga terutama menghadapi Pemilu 2019 tidak mengakomodasi elit modernisme ini dalam PKS yang justeru menguatkan arus konservatisme. Dalam beberapa waktu -terutama menjelang Pemilu 2019- arus politik GARBI menurut saya masih dalam proses konsolidasi diri sambil melihat peluang pasar politik. Terutama ketika muncul pertanyaan kritis: Apakah kemudian GARBI akan menjadi sebuah Partai Politik?

Penutup

Jika jawabannya Ya, tentu saja arus politik GARBI dengan fenomenanya itu memberi ruang dirinya berkonsolidasi untuk menjadi partai politik. Bagaimana peluangnya dalam Pemilu 2019. Secara politik tentu GARBI tidak punya peluang karena belum menjadi peserta. Barangkali lima tahun kedepan. Tapi paling tidak Arus Politik GARBI bisa menjadi kelemahan dan kekuatan sekaligus untuk PKS.

Sebagai kelemahan, PKS akan letih menjeaskan kepada konstituennya mengenai keberadaan GARBI. Kekuatannya, GARBI bisa menjadi mesin kekuatan politik baru bagi PKS. Gerakan anak muda terdidik dalam GARBI -yang juga sebenarnya mereka juga kader PKS- akan menjadi daya gedor untuk mendulang kembali suara PKS yang oleh banyak survey hanya akan meraih kitaran 3 persen dalam Pemilu 2019.

Persoalannya satu, bagaimana lobi politik yang dibangun oleh kelompok modernisme dan konservatis dalam PKS. Percayalah, politik itu cair dan bisa memberikan aroma wangi. Pilihannya memang hanya ada dua: kita mau wangi atau tidak? Kalau pilihannya wangi tentu ini akan juga memberi wewangian kepada pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Prabowo dan Sandi, yang didukung PKS.***