Al-Qossam: Kami Gagalkan Operasi Besar Zionis di Gaza

(Juru bicara brigade al Qassam Abu Ubaidah) 

[PORTAL-ISLAM.ID] Juru bicara brigade al Qassam Abu Ubaidah mengatakan, ruang kordinasi bersama faksi-faksi perlawanan menggelar rapat serius untuk memperluas sasaran tembak, dan mengancam kota Asqalan yang pertama akan diserang.

Abu Ubaidah dalam twittnya mengancam sekitar 1 juta penduduk zionis akan menjadi sasaran roket-roket perlawanan jika pihak Israel terus melancarkan agresi ke Gaza.

Al-Qossam: Kami Gagalkan Operasi Besar Zionis

Brigade Izzuddin Al-Qossam, sayap militer gerakan perlawanan Islam Hamas mengumumkan, pihaknya telah berhasil menggagalkan rencana besar Israel untuk menggempur Gaza dan perlawanan.

Dalam keterangan rincinya Al-Qossam menjelaskan tentang operasi teroris yang dilakukan Zionis, bahwa mereka bertanggung jawab penuh atas kejahatan ini. Darah para syuhada takkan mengalir sia-sia, ungkapnya.

Perlawanan telah memberikan pelajaran keras pada Zionis, membuat intelijenya ditertawakan di dunia. Walau bagaimanapun kuatnya pasukan ini, namun perlawanan berhasil mengusirnya dan memaksa mereka lari tunggang langgang dengan ekor ketakutan serta kegagalan.

Awalnya Zionis merencanakan untuk melakukan operasi standar berat untuk memukul mundur perlawanan di dalam wilayah Gaza. Dalam benaknya mereka mengira perlawanan akan tunduk terhadap rencana yang dicanangkan Zionis.

Pada Ahad kemarin, pasukan Zionis telah menyusup ke kota dengan persenjataan lengkap ke wilayah Timur Khanyunis yang kemudian diketahui keamanan Al-Qossam.

Pasukan Al-Qossam berhasil mendesak mereka hingga perbatasan, ditengah serangan masif pesawat tempur Zionis yang bertubi-tubi menyerang perlawanan dari udara. Namun atas izin Allah Pasukan Al-Qossam berhasil memberikan kerugian telak bagi mereka, sehingga Zionis mengakui bahwa perwiranya tewas dan beberapa serdadu lainya luka-luka dalam pertempuran tersebut.

Operasi Khanyunis pada Ahad (11/11/2018) malam dinilai menjadi kegagalan yang harus ditelan entitas penjajah Zionis, disertai dengan sejumlah tuduhan dan kesalahan pada siapa yang bertanggung jawab atas kegagalan operasi keamanan di Jalur Gaza tersebut. Operasi yang mengakibatkan tewasnya seorang perwira dan melukai tentara lainnya dari kesatuan "Majlan". Kesatuan yang bertanggung jawab untuk melakukan misi hingga ke jantung lawan.

Operasi langka

Ron Ben Yishai, seorang analis militer untuk surat kabar Zionis Yedeot Ahronot, mempertanyakan bagaimana bisa pasukan Israel memasuki sebuah kota di Jalur Gaza, bahkan jika pasukan itu terlatih dengan baik dan berkualitas. Ini adalah operasi yang membahayakan nyawa para prajurit dan dapat menyebabkan prajurit disandara, yang pada gilirannya akan menyebabkan eskalasi ketegangan yang tajam.

Menurut Ben Yishai, operasi semacam itu, yang dilakukan pada Ahad malam, adalah operasi yang jarang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. Operasi seperti ini hanya bisa dilakukan dalam keadaan khusus saja ketika tidak ada informasi intelijen atau operasional, atau dilakukan tanpa melibatkan prajurit tempur di lapangan.

Dia menjelaskan bahwa operasi semacam itu seharusnya telah ditetapkan dengan jelas, dipastikan targetnya atau titik yang sasaran, yang didahului oleh studi dan investigasi akurat dan komprehensif, dalam hubungan langsung dengan penghimpunan informasi intelijen.

Dia menyatakan bahwa operasi rahasis seperti itu kadang-kadang dilakukan ketika tersedia informasi intelijen yang berkualitas tentang sebuah peluang tanpa mengorbakan perwira tingkat tinggi, atau menghancurkan pusat informasi, atau mengganggu media tempur berkualitas tinggi atau untuk mendapatkan kertas tawar-menawar.

Harga mahal harus dibayar

Lebih lanjut Ben Yishai mengatakan, akan tetapi tampaknya niat di sini tidak seperti ini, misalnya, penculikan Mustafa Dirani tahun 1994 yang dilakukan tentara Israel untuk mendapatkan informasi tentang Ron Arad atau kertas tawar-menawar dengan imbalan pembebasan Mustafa Dirani dengan kompensasi pembebasan pilot Israel yang ditangkap di Lebanon.

Ben Yishai menyimpulkan analisisnya dengan bertanya, apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana dan mengapa unsur-unsur operasi rahasia itu terungkap dan terlibat dalam bentrokan?

Selain itu juga ada hal yang membingungkan. Bagaimana seorang pemimpin senior Hamas muncul di arena operasi dan terbunuh dalam bentrokan tersebut? Apakah pasukan Israel hadir untuk memburu aktivitasnya, misalnya dalam melacak penggalian terowongan?

Dalam konteks yang sama, analis militer Israel Amir Boukhbut mengatakan, "Ini adalah operasi rahasia khusus, yang disetujui oleh Kepala Staf Angkatan Bersenjata Gadi Eisenkot, kemudian Menteri Pertahanan Lieberman, dan selanjutnya disetujui Perdana Menteri Netanyahu. Hal itu karena sensitivitas situasi yang berkobar dengan Hamas.”

Menurut sumber Israel, hasil operasi ini mengungkapkan tentang harga yang harus dibayar oleh tentara Israel jika terjadi pertempuran menyeluruh di Jalur Gaza.

Koresponden TV10 Israel, Or Heller, mengatakan bahwa operasi ini bertujuan untuk memperoleh informasi dari seorang pejabat senior Hamas tentang sistem rudal di Gaza. Tujuannya bukan untuk membunuh target, karena jika itu, maka Israel cukup dengan membunuhnya dari udara.

Salah perkiraan

Alon Ben David, koresponden militer untuk TV10 Israel, menyampaikan bahwa operasi kesatuan khusus Israel di Jalur Gaza ini tidak dimaksudkan untuk melakukan pembunuhan atau penculikan, tetapi merupakan operasi yang berkelanjutan. Sumber lain menyebut apa yang terjadi di Khanyunis adalah bencana, bukan peristiwa keamanan, seperti kata tentara Israel.

Penulis Israel, Yariv Offenheimer menuduh Lieberman bahwa dia memerintahkan operasi ini untuk membuktikan kepada Menteri Naftali Bennett bahwa dia (Lieberman) mampu membuat keputusan yang sulit.

Terkait detail operasi, koresponden TV10 Israel mengatakan bahwa kendaraan Volkswagen sedang menunggu di depan sebuah rumah (pemimpin Brigade Qassam) Nur Barakah. Kendaraan itu menimbulkan kecurigaan dari pengawalnya, mereka mengejar kendaraan tersebut dan menghentikannya. Mereka meminta para penumpang untuk mengungkapkan identitasnya, lalu terjadilah baku tembak.

Seorang perwira Israel, menduduki posisi sensitif dan tinggi, Mayor Mahmoud Khairuddin dari desa Horvih dari suku Druze, wakil komandan kesatuan komando Sayeret Cilan, dan seorang perwira lainnya, juga dari suku Druze dari desa Aosevia, yang menderita luka parah. Maka dipanggilah pesawat Israel untuk melancarkan 40 serangan demi menyelamatkan sekelompok pasukan khusus tersebut.

Surat kabar Maariv mengutip Eisenkot yang mengatakan, "Pasukan khusus tentara Israel telah melakukan operasi sangat penting bagi keamanan Israel."

Analis senior Israel berkomentar bahwa operasi tersebut adalah "operasi rahasia" namun "rumit" setelah perlawanan Palestina (Brigade Al-Qassam) mengungkap pasukan khusus tersebut dan terlibat bentrokan dengan mereka.

Surat kabar Maariv mengungkapkan bahwa mayor Israel yang tewas dalam operasi rahasia tersebut adalah perwira paling tinggi pangkatnya yang tewas sejak perang terakhir di Jalur Gaza.

Operasi yang direncanakan

Sepesialis masalah Israel dan Ibrani, Shalah Ahmad Aqib menjelaskan bahwa operasi semacam hanya dilakukan melalui bantuan agen mata-mata (informan) di lapangan. Terlebih mobil yang digunakan dalam operasi bersih dari mata-mata, begitu juga operasi pemantauan korban (Nur Barakah ). Di akhir operasi, pesawat Israel mengebom mobil tersebut untuk menyingkirkan bukti yang dapat menjangkau para mata-mata tersebut.

Shalah menyatakan bahwa operasi ini – sebagaimana diungkapkan sumber-sumber Israel – sudah direncanakan sebelumnya dengan sanga akurat, yang pelaksanaanya disupervisi oleh Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel Gadi Eisenkotdan kepala bidang intelijen secara langsung. Hal ini membuktikan bahwa tujuan operasi ini pada dasarnya adalah murni intelijen, apakah dengan menculik pemimpin perlawanan atau memasang alat penyadap dan merupakan tugas paling penting dari kesatuan khusus "Majlan" yang melaksanakan operasi ini.

Menujuk kepada kesiapan perlawanan, Shalah menegaskan bahwa operasi ini membuktikan bahwa setiap operasi yang dilaksanakan Israel di Jalur Gaza adalah operasi yang beresiko dan merugikan Israel. Tidak akan bisa mewujudkan tujuan apapun yang diharapkan. Kegagalan operasi ini merupakan pesan keras dari perlawanan Palestina kepada penjajah Zionis bahwa solusi militer dengan perlawanan di Jalur Gaza tidak akan memberikan manfaat apapun bagi Israel.

“Perselisihan antar pemimpin Zionis masih muncul di permukaan. Karena masing-masing berusaha menunjukkan kekuatannya. Operasi ini dianggap membuktikan kegagalan Menteri Perang Lieberman terhadap pengkritik terbesarnya, Menteri Pendidikan Naftali Bennett. Sebaliknya, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel Eisenkot bercita-cita mencapai prestasi sebelum meninggalkan tugas,” tutup Shalah dalam analisanya.

Sumber:
https://melayu.palinfo.com/news/2018/11/12/Operasi-Khanyunis-Peluru-yang-Membunuh-Penembaknya
https://melayu.palinfo.com/news/2018/11/12/Al-Qossam-Kami-Gagalkan-Operasi-Besar-Zionis
https://melayu.palinfo.com/news/2018/11/12/Abu-Ubaidah-Ancam-Perluas-Sasaran-Tembak-Mulai-Dari-Asqalan