Zeng Wei Jian: Pasca Perang Revolusi


[PORTAL-ISLAM.ID] After the war and revolution, kubu menang menghadapi masalah baru. Friksi internal kerap pecah. Klik-klik terbentuk. Dasarnya vested interest.

Pasca Bolsevik mengeksekusi Tsar Nicholas II of Russia tahun 1918, komunis berkuasa. Vladimir Ilyich Lenin mati tanggal 21 Januari 1924. Stalin dan Trotsky berkelahi. Rebutan kekuasaan.

Dinasti Qing Manchu runtuh tahun 1911. Republikan ribut lagi. Jenderal Yuan Shikai menyingkirkan Dr. Sun Yat Sen. Para warlords berkuasa. Jepang mulai terlibat. Generalissimo Jiang Jieshi merilis ekspedisi utara dan menyatukan China. Lalu, perang saudara melawan Chairman Mao Zedong.

People's Republic of China diproklamirkan tanggal 1 Oktober 1949. Artinya komunis menang. Para veteran Long March bertarung lagi. Comrade Peng Dehuai tersingkir setelah main mata dengan Uni Soviet dan menolak Great Leap Forward dan kolektivisme Mao Zedong.

Saling cakar dan terkam di tubuh Partai Komunis Tiongkok. Liu Xiao Qi, Lin Biao, Zhu De, He Long, Zhu Enlai, Deng Xiao Ping dan sebagainya satu per satu digilas Mao Zedong.

Jarang ada contoh seperti Cuba. Setelah Fidel Castro menumbangkan Batista, revolusioner macam Che Guevara dan Raul Castro tidak baku-hantam antar sesama.

Kohensi para founding fathers Amerika patut dicontoh. Revolusi Amerika usai, negara baru dibentuk. Inggris kembali ke Eropa. George Washington jadi presiden. Tujuh pendiri utama: John Adams, Thomas Jefferson, Benjamin Franklin, John Jay, Alexander Hamilton, James Madison dan Washington tidak pecah dan saling hantam.

Semua element nyatu menghadapi duel-politik Pilkada Jakarta. Ahok-Jarot super kuat berhasil ditumbangkan.

Eforia meledak. Gesekan mulai nyala. Friksi antar faksi tak bisa dihindari. Tokoh-tokoh elite veteran pilkada meraih popularitas. Panggung-panggung politik otomatis dibangun. Sendiri-sendiri. Alhasil, oposisi kalah di pilkada serempak.

Menghadapi Pilpres 2019, belum ada tanda-tanda ghiroh dan anthusiasme seperti saat melawan Ahok-Jarot.

Sebagian pejuang-amatir rasis anti-ahok berubah menjadi makelar pilkada. Nyari kerja, bikin proposal, ngayal jadi buzzer pro. Baru sekali nimbrung di gerakan politik pilkada, sudah berlaga seperti konsultan politik macam Eep Saefulloh Fatah. Ngejelekin orang lain di belakang. Grup WA jadi ajang nyinyir dan gosip.

Grasak-grusuk di Tim La Nyalla, Ridwan Kamil, Jenderal Tatang dan klik Ratna Sarumpaet. Anak-anak Perindo tak berdaya setelah Harry Tanoe disandera sms ancaman.

Ketika semua orang merasa dan bertindak seperti jagoan, selama itu pula sifat lumpen proletariat (preman) kontra-revolusioner dan bandit menjadi duri dalam daging perjuangan.

Penulis: Zeng Wei jian