Wartawan Senior UNGKAP: Ini Enaknya Menjadi Penguasa


[PORTAL-ISLAM.ID]  Duduk sebagai penguasa di negeri ini, sangat enak! Gaji memang bukan dollar. Tapi saya bisa punya jutaan dollar. Gaji tak seberapa. Tapi saya bisa punya rekening gendut. Tidak hanya gendut. Bahkan bisa punya rekning “obessity”. Obesiti itu kira-kira artinya teramat gendut.

Saya tak perlu menjadi pengusaha untuk menumpuk duit puluhan atau ratusan miliar. Para pengusaha itu yang malah datang ke saya. Menawarkan macam-macam. Duit besar. Biaya sekolah anak di luar negeri, dlsb. Juga disodorkan cewek cantik. Enak sekali!

Kalau ada yang melakukan investigasi diam-diam dan mereka menemukan catatan aliran dana dari pengusaha kepada saya, gampang! Saya kerahkan anak buah yang bertugas di unit intelijen. Atau anak buah yang diperbantukan di instansi lain.

Mereka paham apa yang harus mereka lakukan. Tak perlu saya briefing. Mereka semua kan lulusan terbaik di instansi saya. Saya cukup bilang, “Hei, ada buku yang berbahaya di sana.” Saya cuma bilang begitu. Mereka sudah tahu apa maksudnya. Enak sekali!

Besoknya mereka lapor ke saya. “Sudah dirobek, Pak. Aman.” Hanya saja memang tak terelakkan rekaman CCTV di ruangan tempat merobek buku catatan yang berbahaya itu. Anak buah saya sudah cerdas-cerdas. Kalau nama saya si lembaran catatan itu bisa ditimpa pakai Tipp-Ex saja, terserah mereka.

Begitu sorotan terhadap saya agak gencar, juga gampang. Saya bisa perintahkan “change subject action”. Semacam pengalihan isu. Pokoknya, saya bisa buat apa saja. Itulah enaknya.

Kalau sorotan masih tajam, saya telefon saja orang tetinggi di lembaga tempat anak buah saya diperbantukan. Besoknya si pimpinan keluar dengan pernyataan yang saya inginkan. Pimpinan di situ menjelaskan kepada para wartawan bahwa tidak benar ada rekaman CCTV tentang perobekan buku aliran dana itu. Selesai.

Kemudian, anak buah saya yang melakukan perobekan, cepat-cepat dikembalikan ke instansi saya. Pimpinan si sana mengatakan bahwa pemulangan mereka adalah bentuk hukuman kepada anak buah saya. Tak lama kemudian, saya promosikan anak buah yang merobek buku.

Publik kami paksa menerima apa yang kami skenariokan. Pimpinan lembaga lain itu bahkan menambah komentar bahwa kasus aliran dana kepada saya tak bisa dilanjutkan. Karena para pelaku perobekan sudah dikembalikan ke lembaga mereka. Ke lembaga saya, tentunya. Pimpinan sana bilang, “kami tak punya wewenang lagi.” Aman. Tak ada lagi yang berani berbicara.

Saya sudah paham suasan di masyarakat. Publik ketakutan membahas soal aliran dana ke saya. Mereka takut hoax. Takut UU ITE. Dan orang-orang di lembaga saya memang sangat cekatan menggunakan pasal-pasal ITE itu. Paten sekali mereka!

Semua orang diam. Kalau pun mereka membuat tulisan tentang saya, pasti tak berani menyebut nama saya. Contohnya, tulisan yang sedang Anda baca ini. Mana berani penulis menyebut nama saya. Paling-paling mereka plesetkan nama saya. Tak berani. Ada pasal ITE.

Coba simak dari atas. Menyebut nama lembaga saya pun, si penulis tak berani. Bahkan, menyebutkan warna buku catatan yang termasyhur itu, juga dia tak berani. Saking takutnya. Kasihan juga ‘kan!

Saya yakin Anda semua pasti menduga-duga siapakah saya yang dimaksudkan penulis. Anda pasti bisa menebak. Iya ‘kan? Tapi, di kolom komentar di bawah ini, saya yakin Anda juga tak akan berani menyebut nama saya.

Nah, itulah enaknya menjadi penguasa. Publik bisa ditakut-takuti. Diancam-ancam dengan pasal penyebaran hoax. Anda mau tahu enaknya?

Enak sekali. Kami ancam Anda dengan pasal-pasal ITE. Tiarap semua Anda kami buat. Hanya orang-orang di pihak kami yang tak takut pasal ITE. Karena mereka sengaja kami biarkan.

Penulis: Asyari Usman