VIRAL! Banser Lakukan Sweeping Bendera Palestina di Hari Santri


[PORTAL-ISLAM.ID]  Sejumlah anggota Banser (Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama) melakukan sweeping terhadap bendera Palestina yang tengah dikibarkan santri pada peringatan Hari Santri Nasional, Sabtu 20 Oktober 2018 Peristiwa itu diabadikan dalam dua video berbeda yang kini viral di media sosial.

Video pertama menunjukkan anggota Banser menurunkan bendera Pelestina di Lapangan Wijaya Kusuma, Sampang, Jawa Timur. Sementara video lainnya menunjukan adanya penurunan bendera kebangsaan Palestina itu di Tasikmalaya.
Terkait penurunan bendera itu, Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas atau yang kerap disapa Gus Yaqut mengaku baru mengetahui adanya video tersebut. Namun, ia dapat memaklumi sikap Banser di daerah yang menurunkan bendera Palestina.

"Ini kan Indonesia gitu. Kenapa harus ngibarin bendera lain? Jadi kalau maksudnya mau menunjukkan solidaritas, saya kira solidaritas bisa dilakukan dalam bentuk lain yang lebih ada efeknya untuk saudara-saudara kita di Palestina," kata Gus Yaqut Ahad, 21 Oktober 2018.

Gus Yaqut menjelaskan, pengibaran bendera asing di Indonesia juga memiliki aturannya tersendiri. Oleh sebab itu, kata dia, masyarakat tak bisa sembarangan mengibarkan bendera negara lain.

"Apalagi di saat peringatan Hari Santri. Hari besar yang hanya ada di Indonesia. Kenapa bukan merah putih saja yang dikibarkan?" jelasnya.

Menurutnya, bila Palestina tengah mengadakan perayaan hari besar di negaranya  pun maka bendera Indonesia tak akan cocok dikibarkan. Oleh sebab itu, ia melihat penurunan penurunan bendera Palestina sudah tepat dalam konsteks itu.

"Kurang lebihnya ada hari besar mereka dan kita kibarin bendera merah putih gitu di sana. Kira-kira gimana gitu, kan enggak pas," tambah Panglima Banser ini.

Kendati demikian, ia menyadarai bahwa akan ada pro kontra atas aksi Banser tersebut. Ia juga tak menampik bahwa masyarakat Indonesia memang memiliki ikatan emosinal yang kuat dengan Palestina.

"Mengibarkan bendera Palestina ya boleh-boleh saja. Tapi lihat tempat dan konteksnya. Jadi yang baik itu belum tentu benar," pungkasnya

Sumber: Kumparan