RISALAH CINTA PECINTA DAKWAH


RISALAH CINTA PECINTA DAKWAH

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين. وبعد

Ikhwah fillah, rahimakumullah.

Sesungguhnya menyampaikan kebenaran adalah merupakan kewajiban yang terus berlaku sepanjang hayat. Seorang da’i dituntut untuk selalu melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar dimanapun berada dan dalam situasi apapun. Teladan kita dalam hal ini adalah para Rasul Allah, salafushshaleh serta orang-orang shaleh sepanjang sejarah ummat.

Di sisi lain, jika orang-orang berilmu lebih memilih diam dan tidak menyampaikan yang benar kepada ummat, maka akan terjadi fitnah besar yang menimpa ummat secara keseluruhan, termasuk orang-orang shaleh dan para da’i. Wal ‘iyadzu billah.

Oleh karena itu, melalui risalah ini saya berpesan kepada antum untuk:

1. Terus-menerus menjalankan fungsi sebagai da’i, baik terhadap diri maupun keluarga, baik di kalangan terbatas maupun di tengah masyarakat. Senantiasa menyampaikan kebenaran dengan bahasa yang santun dan menentramkan. Bahkan ketika terjadi perdebatan sekalipun, maka berdebatlah dengan cara yang baik. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (النحل : 125

"Ajaklah ke jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan (cara) yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhan-mu lebih tahu orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih tahu orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. An Nahl: 125).

Jangan pernah diam ketika menjumpai kemunkaran yang terjadi. Ajaklah orang yang melakukannya untuk menyadari kesalahannya, ajaklah ia berfikir tentang akibat buruk dari perbuatannya dan berilah nasehat yang baik. Semoga Allah swt mengembalikannya ke jalan yang benar. Rasulullah saw bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ثَلاَثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالْدَّيُّوثُ الَّذِى يُقِرُّ فِى أَهْلِهِ الْخَبَثَ ». رواه أحمد

Abdullah bin Umar menyatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Ada tiga orang yang benar-benar diharamkan oleh Allah masuk surga; pecandu khamr, pendurhaka (kepada orang tua) dan dayyuts, (yakni): yang mendiamkan keburukan dalam keluarganya.” (HR. Ahmad)

2. Terus-menerus membaca berbagai kitab maraji’ (referensi), mencermati situasi lingkungan dakwah yang dinamis dan memperhatikan kondisi ummat agar cermat dalam menjawab pertanyaan dan tepat dalam menentukan sikap, sebab semua tingkah laku dan ucapan kita akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah swt. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا (الإسراء : 36

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya." (QS Al-Isra: 36)

3. Dalam hal terjadi perbedaan pendapat dalam masalah-masalah ijtihadiyah, baik terkait dengan fiqih ibadah, mu’amalah, maupun terkait dengan urusan sosial, politik dan sebagainya, maka prinsip kita adalah:

نَتَعَاوَنُ فِيمَا اتَّفَقْنَا عَلَيْهِ وَيَعْذُرُ بَعْضُنَا بَعْضًا فِيمَا اخْتَلَفْنَا فِيْهِ

"Kita saling menolong dalam hal-hal yang kita sepakati. Dan kita saling mentolerir dalam hal-hal yang kita berselisih."

Karenanya, meskipun terdapat perbedaan dalam sikap atau pilihan politik, namun kita semua harus tetap saling menguatkan keimanan, menjaga keeratan ukhuwah, menghindari permusuhan, menjauhi ghibah serta saling memberi nasehat yang baik. Muliakanlah orang lain, sebagaimana antum menjaga harga diri antum. Hormatilah pendapat orang lain, sebagaimana antum menghargai pendapat antum. Imam Syafi’i, rahimahullah pernah berkata:

مَا نَاظَرْتُ أَحَدًا قَطُّ إِلاَّ أَحْبَبْتُ أَنْ يُوَفَّقَ وَيُسَدَّدَ وَيُعَانَ وَيَكُوْنَ عَلَيْهِ رِعَايَةٌ مِنَ اللهِ وَحِفْظٌ وَمَا نَاظَرْتُأَحَدًا إِلاَّ وَلَمْ أُبَالِ بَيَّنَ اللهُ الْحَقَّ عَلَى لِسَانِيْ أَوْ لِسَانِهِ

"Tidaklah saya berdebat kecuali saya berharap agar lawan debatku diberi taufiq, diluruskan, diberi pertolongan, dipelihara dan dijaga oleh Allah. Dan tidaklah saya berdebat kecuali saya tidak menghiraukan; apakah Allah menampakkan kebenaran lewat lisanku atau lisannya."

4. Memperbanyak muraja’ah dan muhasabah; introspeksi, istighfar dan taubat sebagaimana yang dinasehatkan oleh Umar bin Al Khoththob ra:

عَنْ ثَابِتِ بْنِ الْحَجَّاجِ قَالَ : قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: " حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا ، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا ، فَإِنَّهُ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ فِي الْحِسَابِ غَدًا ، أَنْ تُحَاسِبُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ ، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ ، يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ " . حديث موقوف

Tsabit bin Al Hajjaj mengatakan bahwa Umar bin Al Khoththob ra pernah berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kelak kalian dihisab. Timbanglah diri kalian sebelum kelak kalian ditimbang. Karena hal itu lebih ringan bagi kalian dari pada hisab di hari kemudian. Hisablah diri kalian pada hari ini. Perbaikilah diri kalian untuk menghadapi hari dimana seluruh amal kita ditampakkan. Pada hari itu kalian semua akan ditampakkan. Tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari kalian.” (hadits mauquf).

Ikhwah fillah, rahimakumullah.

Demikian risalah ini saya tulis untuk menunaikan kewajiban taushiyah kepada sesama pecinta dakwah. Jika dalam risalah cinta ini terdapat kesalahan, baik syar’iy maupun fanniy, mudah-mudahan Allah swt mengampuni dan antum berkenan memaafkan. Semoga Allah swt memasukkan kita ke bawah naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, karena kita bisa saling menjaga kemurnian cinta karena-Nya, baik pada saat berkumpul maupun berpisah. Amiiin.

nDukun, 14 Oktober 2018

Akhukum wa Muhibbukum fillah

(Ustadz Farid Dhofir)