TERCYDUK Keluar Lapas, Setya Novanto Tak Dikawal Aparat Berseragam. Warganet Protes: Giliran Mahasiswa, Dipukul dan Ditendang Aparat Berseragam


[PORTAL-ISLAM.ID]  Pagi hari, Selasa, 18 September 2018, 2 hari menjelang unjuk rasa mahasiswa berujung bentrokan berdarah di Medan terjadi, sebuah informasi masuk ke redaksi melalui sebuah pesan whatsapp, mengabarkan bahwa rombongan terpidana  kasus mega korupsi e-KTP Setya Novanto nampak mampir ke tempat istirahat (Rest Area) di KM 97 Tol Purbaleunyi arah Jakarta pada pukul 06.00 pagi hari itu.

Informasi ini disertai sebuah foto, yang menunjukkan bagaimana Pak Setya Novanto melenggang bebas, tanpa rompi berwarna oranye, tanpa borgol. Pak Setya Novanto memang dikawal ketat oleh pria tegap berpakaian preman. Tapi, tidak satu pun tanda-tanda keberadaan aparat kepolisian yang berseragam resmi.

Informasi mengenai mampirnya Pak Setnov tanpa pengawalan polisi berseragam, kemudian menyebar luas di kalangan awak media.

Ketika kemudian berita mengenai mampirnya Setya Novanto kemudian dirilis oleh portal beritaekspres.com, kabar "jalan-jalannya" Pak Setnov tanpa kawalan aparat berseragam pun tidak memancing reaksi publik yang berlebihan.

Sebaliknya, ketika publik disuguhi berita mengenai bentrokan di Medan, yang disebut polisi merupakan bentrokan antara mahasiswa dengan pendukung Jokowi (Baca: TERCYDUK Kamera Warganet! Mahasiswa Medan DISERANG Duluan Oleh Para Provokator BERSENJATA yang Berada di Sisi Aparat), masyarakat begitu emosional saat mengetahui betapa brutal dan liarnya para aparat pengayom masyarakat itu dalam mengejar dan memukuli mahasiswa.

Ketika berhadapan dengan terpidana kasus korupsi, aparat terlihat manis, sama sekali tak nampak wajah garang dan ketegasan dalam mengawal seorang narapidana. Polisi sungguh menjadi pengayom. Wajah berbeda ditampilkan aparat ketika berhadapan dengan mahasiswa, anak bangsa yang dengan kritis mempertanyakan kinerja rezim. Aparat hadir berseragam, garang, dan beringas. Semua dilibas tanpa ampun. Dikejar bagai pesakitan.

Itu baru mahasiswa yang berunjuk rasa. Belum lagi cara aparat menangani terduga, ulangi... TERDUGA teroris. Puluhan aparat berseragam lengkap, bersenjata lengkap, menangkap seorang pesakitan yang BELUM tentu bersalah.

Mengapa harus ada perbedaan dalam mengayomi warga negara? Tak heran jika kemudian muncul guyonan: kalau jadi penjahat, jangan tanggung-tanggung. Mending jadi koruptor sekalian ketimbang jadi  maling ayam. Hukuman lebih sebentar, diperlakukan dengan manusiawi pula.

Miris.