Perjalanan Hati Ahmad Dhani


[PORTAL-ISLAM.ID] Nonton wawancara Ahmad Dhani di Berita Satu. Sumpah, saya mesam mesem. Lihat cara dia ngomong, bahasa tubuhnya dan mimik wajah, pancen arek iki pancet ae; ngGaplek,i puol. Gaya dan kemerruh. Makanya, ketika ada satu tulisan yang menyoal Dhani, penulisnya ngatain Dhani jancuk! Saya bisa memaklumi. :D

Sepertinya kita harus belajar pada Ahmad Dhani, untuk bersikap apa adanya. Berani untuk tidak populer. Berani dikucilkan di komunitasnya. Berani menangguk kerugian materi. Berani dicela dan dimusuhi banyak orang.

Semua bersaksi bahwa Dhani adalah satu di antara musisi hebat Indonesia. Dewa 19 adalah legenda. Sekian banyak orang dan band dia orbitkan. Termasuk Maia dan Mulan. “Kalau untuk urusan mencipta lagu, saya itu seperti kencing aja, saat itu saya mau, saat itu juga lagu tercipta,” kata Dhani suatu ketika. Nah, mekitik kan! :)

Ada yang bilang, Dhani sekarang terjun ke politik, karena sudah tidak bisa bermusik. Dhani sudah tidak laku. Tidak! Bukan karena itu. Kepiawaian Dhani bermusik tak berkurang. Kalau Dhani mau, dia masih bisa terus memupuk kekayaan dengan terus bermusik.

Ada yang bilang, bahwa Dhani terjun ke politik karena ingin jabatan. Tidak juga. Sebab, Dhani sebelum sekarang berbaris dengan Neno Warisman, Mardani Ali Sera dan penggerak tagar 2019 ganti presiden lainnya, Dhani sebelumnya sudah lebih dulu kenal Jokowi, Surya Paloh dan Muhaimin Iskandar.

Kalau sekedar ingin jadi anggota dewan atau pejabat partai, mudah saja bagi Ahmad Dhani. Tapi keyakinan saya pada orang ini, dia tidak sedang mencari uang dan kedudukan. Tapi Dhani sedang mengikuti kata hatinya. Dhani mengiringi kecenderungan nuraninya. Dhani ingin batinnya terpuaskan. Maka, tak heran... Dia yang dulunya saya ketahui sebagai pengagum Gus Dur, sekarang ternyata bisa menerima dan satu shof dengan Habib Rizieq.

Berarti nek ngono, terusno wes, Dan!

(Abrar Rifai)

[Simak video full: Special Interview With Claudius Boekan: Panggung Baru Ahmad Dhani]