Ngurus Hal Sederhana Deklarasi Damai Saja Gak Bisa, Bagaimana Ngurus Jutaan Suara? Bisakah Adil Jujur Netral?


[PORTAL-ISLAM.ID] Baru saja genderang pesta demokrasi ditabuh, sejumlah pelanggaran kampanye sudah tersaji di depan mata publik. Seperti dalam Deklarasi Kampanye Damai di Lapangan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Minggu (23/9/2018) kemarin. Momen yang seharusnya menjadi ajang unjuk sportivitas, justru dinodai dengan bertebarnya atribut kampanye salah satu kandidat. Ini menunjukkan, sejak awal kampanye damai sudah gagal.

Pada deklarasi yang diikuti dua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden, Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, serta ratusan pendukung, Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah membuat aturan peserta dilarang membawa atribut kampanye, karena sudah difasilitasi oleh KPU.

Sayang, aturan itu tidak diindahkan oleh salah satu pendukung calon, yakni dari kubu Jokowi-Ma’ruf. Sejumlah simpatisan pendukung petahana, terutama perwakilan dari PDIP dan PKB, hadir ke acara dengan membawa bendera dan poster kandidat mereka. Tampaknya mereka hendak curi start di acara yang seharusnya netral.

Akibatnya, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang hadir sebagai partai pendukung Prabowo-Sandi walk out saat deklarasi kampanye damai lantaran banyaknya pelanggaran yang dilakukan parpol pendukung Jokowi.
Atas kejadian ini, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengaku tak bisa mengontrol semua massa pendukung.

"Jadi begini, sebetulnya yang sudah kita atur semua delegasi yang ada di dalam jalur karnaval. Memang kalau yang di luar ini, kita tidak bisa ngatur," ujar Ketua KPU Arief Budiman di Monas, Jakarta Pusat, Minggu (23/9), seperti dilansir merdeka.com.

KPU juga mengaku tak bisa memaksa mereka mencopot atribut partai. Pasalnya, kata Arief, per hari ini sudah memasuki masa kampanye Pilpres 2019.

***

Kisruh di Kampanye Damai dan sikap KPU ini disesalkan sejumlah pihak.

Kalau mengurus hal sederhana kampanye damai saja seperti itu, bagaimana dengan ngurus ratusan juta suara? Bisakah adil? jujur? netral?

Pemilih Pemilu 2019 mencapai 187 juta loh.

Wajar jika kemudian publik sangsi bahwa kontestasi demokrasi ini bisa berjalan dengan baik. Toh, sejak awal sudah terlihat, adanya niat untuk berbuat curang.

Di sosial media, warganet menyoroti dengan tagar #CurangSejakAwal.