CHAUVINISME & CEBONGISME


CHAUVINISME & CEBONGISME

Oleh: Habil Marati
(Politisi senior)

Terus terang saya kaget liat diskusi Maruar Sirait, Ketua Banser dan Ahmad Dani di Kompas TV. Jelasnya lebih pantas disebut persekusi terhadap Ahmad Dani. Picik dan uneducated, high impression zero insight.

Beberapa waktu lalu saya mengamati secara partial terhadap beberapa orang yang saya kenal betul integritasnya, tapi begitu mendukung Jokowi mereka kehilangan integritas, disorientasi, disorder dan mengalami disparitas intelektual. Artinya kesannya jadi cebong.

Sejarah Percebongan dimulai dari figur fiktif bernama Nicolas Chauvis seorang tentara yang setia pada Napoleon Bonaparte.

Arti Chauvisme itu sendiri adalah kesetian absolut pada seseorang meskipun seseorang itu munafik, jahat, mengkhianati konstitusi dan dan Negara. Kesetian buta, tidak bisa menerima alternatif orang lain.

Selanjutnya, Chauvinisme ini melahirkan ide Fasisme dan Nazisme. Ideologi Fasisme adalah idiologi yang dibangun atas prinsip kepemimpinan Otoriter absolut, perintah dan kepatuhan pada Pemimpin berlaku tanpa kecuali, artinya Gerakan Radikal Idiologi Nasionalisme politik otoriter.

Bagaimana dengan Nazisme? Nazisme dibangun sebagai kesetian pada satu Partai Nasional.

Chauvisme, Fasisme, Nazisme adalah type type ideologi yang melahirkan idiologi Komunisme dan totalitarian.

Indonesia hampir saja melahirkan type Chuavisme yaitu Nasakom tapi untung gagal. Bagaimana dengan Cebongisme? Apa para cebong ini menjadi type Chauvisme baru di Indonesia? yang akan melahirkan Fasisme minoritas?

Para Cebong ini kalau kita amati pola kepatuhannya mendekati Chauvisme dan mengarah ke Fasisme. Mengapa demikian? Ada sikap radikal dari para cabong ini dimana menempatkan Jokowi sebagai subject loyalitas Tunggal. Siapun yang ingin menganti Jokowi dicap anti Pancasila, anti NKRI, apa pun tindakan Jokowi adalah benar meskipun melanggar konstitusi, bahkan ada kesan lebih konyol pernah ada ide Jokowi Capres tunggal. Dan lebih parahnya lagi menuduh Umat Islam ingin merubah Pancasila, ingin mendirikan Negara Khilafah, pada hal di depan mata pergerakan idiologi kaum sekuler sangat sistimatis.

Tuduhan-tuduhan kepada Umat Islam bermotif persekusi tujuannya Agar Umat Islam membiarkan gerakan Chauvisme sebagai platform NKRI dengan satu partai politik Nasional yang beridiologikan Fasisme.

Gerakan #2019GantiPresiden adalah sangat konstitusional, merdeka, aspirating, multi cultural, dan berpradaban demokrasi moralitas Bangsa.

Gerakan #2019GantiPresiden adalah gagasan brilian dan sesuai dengan prinsip prinsip Declaration Human Right.

Gerakan #2019GantiPresiden telah membuyarkan Agenda Para deklarator Chauvisme (Cebong ), Fasisme, Sekularisme dan Komunisme. Gerakan #2019GantiPresiden adalah murni Gerakan untuk mengamankan Pancasila dan NKRI dari pembusukan Chauvisme dengan Idiologi fasisme dan komunisme.

Menstigma gerakan #2019GantiPresiden sebagai gerakan berhaluan Khilafah adalah disparitas intelektual dan pradaban Para cebong, kebohongan besar, fitnah dan tendesius.

Mengapa ada Rakyat Indonesia menyampaikan aspirasinya Jokowi 2 periode tidak dilarang? tidak dipersekusi? Sementara #2019Ganti Presiden dilarang? dipesekusi? Ada apa? Kenyataan ini semakin menguatkan argumentasi saya bahwa Para deklarator Chauvisme ( Cebong) mereka lah sesungguhnya yang Anti Agama Islam, anti Pancasila dan beridiologi Fasisme.

Di atas sudah saya sampaikan model gerakan cebong yaitu Radikal, dan Idiologi politik Nasionalisme otoriter. Siapa sebenarnya Para cebong ini?

Dari pengamatan saya berdasarkan kajian disparitas intelektual adalah: Muslim temporal, Munafik, idiologi minoritas, komunisme dan Nasionalis nafsi nafsi. Muslim temporal adalah muslim hanya diketahui ketika dia meninggal, sedangkan Nasionalisme nafsi nafsi adalah Nasionalisme perorangan, hanya memikirkan diri sendiri, berpikir tidak membutuhkan orang lain atau golongan orang lain.

Umat Islam tidak akan pernah salah di NKRI ini, demikian juga Pancasila tidak akan pernah tergusur di NKRI ini selama masih ada Umat Islam yang Istiqomah berpolitik. Islam adalah Rahmatan Lil Alamin, sedangkan Pancasila adalah Rahmat bagi Bangsa Indonesia.

Mempersekusi, menfitnah dan melarang #2019GantiPresiden adalah Radikalisme Para Cebong yang berhaluan Chauvinisme model Fasisme dan gerakan ini akan melahirkan Sekularisme dan komunisme milineal yang sangat bertentangan dengan Pancasila dan UUD45 asli. Mengembalikan UUD45 adalah cara terbaik untuk menghentikan Para Chauvisme Agar Bangsa Indonesia terbebas dari malapetaka Nasional.

Semoga Bermanfaat.

___
(Sumber: fb)