Selamat Datang Presiden Baru 2019


[PORTAL-ISLAM.ID]  Masih ingat kan, acara ILC yang di Tv One?

Ya, sehari sebelum pengumuman Cawapres, acara yang dipandu oleh Bang Karni ini, digelar sampai larut malam.

Kemungkinan besar, jutaan pasang mata masyarakat Indonesia, termasuk saya yang menyaksikan Via Streaming.

Betapa tidak, Judul yang saaaangat Menggoda, yang sehari sebelumnya diiklankan via medsos, yaitu membahas sosok Fenomal, seorang yang disebut-sebut oleh banyak orang sebagai ULAMA, Ust. Abdul Shomad.

ULAMA.. Ya, satu kata yang memiliki makna yang saaaangat dalam. Jika disebut kata ini, maka akan banyak orang menaruh respek kepadanya.

Pembahasan alot pun berlangsung, dengan hadirnya beberapa pembicara, baik dari kubu Prabowo, maupun dari kubu Jokowi.

Ada satu sesi menarik yang menjadi sorotan tajam, tatkala salah seorang caleg dari PDIP, menjelaskan bahwa Ulama belum memiliki tempat untuk di kursi puncak pemerintahan.

Namun, statement ini kemudian dibantah oleh Wasekjen MUI, Ust. DR. Zaitun Rasmin, Lc., MA. yang kemudian statetmen ini sempat menjadi viral, bahwa:

1. Artis saja bisa menjadi pemimpin, apalagi para Ulama yang lebih mengerti keadaan.

2. Sudah banyak bukti-buktinya di negara kita ini, dipimpin oleh Ulama (meskipun bukan presiden) dan di negara-negara lain. Contoh /panutan kita saja adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi pemimpin. Bilal bin Rabah yang awalnya seorang budak, pun demikian (setelah beberapa waktu).

3. Ada Dalilnya (Al-Qur’an dan Hadits / Dalil Naqli), namun takutnya jika dijelaskan tidak nyambung (maka harus dilawan dgn Dalil Akli)

Ini tidak bisa dibantah lagi dan semakin menunjukkan, betapa besarnya peran Ulama dalam memimpin.

Tayangan ILC ini, kemungkinan besar, pihak Istana juga ikut menyaksikan demi mendapatkan info perdetiknya, untuk kemudian membangun srategi baru, bahkan mungkin termasuk Jokowi mengikuti terupdate hasil acara ILC Tv One.

Sehari sebelumnya, pihak istana terdengar kabar kuat bahwa sosok Prof. Mahfud MD (sebagai salah satu berinisial “M.” orang-orang dekat Jokowi) akan menjadi cawapres Jokowi.
Baju pun sudah diukur, Curriculum Vitae pun sudah dipersiapkan karena sudah diminta oleh Jokowi.

Namun, perkembangan arus info via media, khususnya media sosial dan televisi bahwa betapa peran sentral Ulama itu, merupakan “magnet” bagi pemilih Muslim.

Di sinilah blundernya Jokowi (dan mungkin orang di belakangnya yang selama ini ikut campur keputusan-keputusan yang akan dikeluarkan oleh Jokowi dan ikut memantau Media, khususnya satu kata itu: ULAMA.)

Jokowi pun terpancing!!!

Lirikannya, langsung beralih ke sosok Ulama (maaf: Tua / lebih 70 tahun, melebihi usia Rasulullah 63 tahun, dengan kondisi fisik yang tidak lagi Prima, dll.)

Prof. Mahfud MD pun pelan tidak lagi dilirik. Hanya karena 1 kata: ULAMA!

#
Waktu semakin sempit. Batas pendaftaran tersisa 1 hari. Akhirnya Jokowi setelah melalui rapat bersama bersama petinggi-petinggi partai, memutuskan bahwa ulama lah yang harus dipilih.

Hanya dalam hitungan jam, Jokowi pun tampil di layar kaca dan secara mengejutkan, MENGUMUMKAN KH. Ma’ruf Amin lah yang dipilih untuk mendampinginya, dengan beberapa alasan:

1. Beliau sebagai Ulama, bahkan ketua MUI, bahkan orang yang dituakan dan disegani oleh salah satu ormas Islam di Indonesia.

2. KH. Ma’ruf Amin, ingin merangkul sebagian besar alumni 212 kepadanya.

3. dll.

#
Di kubu sebelah, Bapak Prabowo teruuuus bergerilya sejak dua hari sebelumnya yang terpadat, tak mengenal lelah dan sedikit tidur untuk menyambangi (“jemput bola”) ketua-ketua Partai koalisinya, yang salah satu tujuan Pak Prabowo adalah untuk semakin menguatkan ikatan kebersamaan yang sudah diikrarkan diantara mereka.

Bisa dibayangkan bagaiman letihnya sang Jendral berpindah dari satu tempat pemimpin Parpol, ke tempat berikutnya. Namun, mungkin Allah telah mengaruniakan kepada Beliau, fisik yang baik, apalagi mantan prajurit dan komandan terlatih di usia mudanya.

Tujuan lain adalah menguatkan para petinggi partai bahwa amanah yang sudah dilimpahkan kepada beliau untuk menentukan calon wakilnya, diserahkan kepada Beliau untuk menentukan sendiri.

Dengan penuh pertimbangan dan tetap ada risikonya bagi partai Demokrat (bukan PKS, PAN, apalagi Gerindra) bahwa sosok yang dipilihnya adalah:

1. Bukan dari partai koalisi, melainkan dari Internal kader partai Gerindra.

2. Seorang “pria” yang enerjik, visioner, dan disuka emak-emak (alias lebih muda dan ganteng. Maaf: jangan membandingkan dengan kubu sebelah).

3. Kekayaan yang melimpah yang kekayaan itu terbukti selama ini dimanfaatkan untuk membangun ibu Kota Indonesia, Jakarta. Tidak bisa dihitung sudah berapa banyak sumbangannya kepada kegiatan sosial, apalagi pernah viral saat dirinya disodorkan Proposal sumbangan oleh salah satu organisasi sosial (Dompet Dhuafa), lalu Beliau menulis: Terserah mau berapa nilainya, tulis saja sendiri).

4. Sosok pemimpin terlatih dan berpengalaman dalam memimpin ribuan karyawan, dengan sosoknya yang kharismatik, tenang, dan cerdas.

5. Bisa menjadi kader / penerus tampuk kepemimpinan masa depan, jika sekiranya Prabowo sudah 2 Periode.

6. dll.

#
Prabowo pun berusaha meyakinkan para petinggi partai bhw pilihan ini insya Allah TIDAK SALAH, dan dengan ikhtiarnya tersebut, membuahkan hasil: Para Pemimpin Partai: PKS dan PAN, legowo, meskipun mendapat issu sampah 500 milyar setiap partai, semuanya tidak dihiraukan.. Terus jalan dan kejar tayang. Waktu semakin dekat batas akhir pendadtaran.

Akhirnya, sekitar pkl 23:30 WIB, diumumkanlah bahwa sang pendamping yang ditunggu-tunggu selama ini, sudah ada dan Beliaulah SANDIGA SALAHUDDIN (“Al-Ayyubi”) UNO.

#
Jokowi Cs., kali ini, terpancing dengan satu kata: ULAMA.

Ada aspek lain yang kurang diperhatikan bahwa:

1. Usia. Secara psikologis, alam bawah sadar tanpa kata-kata, akan melihat perbandingan fisik antara kedua cawapres.

2. Pemilih hari ini sudah cerdas, seiring dengan meningkatnya frekuensi “belajar” situasi di medsos, yang tidak mudah begitu saja digiring utk mengarah kepada satu tujuan, misalnya massa 212 akan diambil alih oleh Ma’ruf Amin dengan atas nama “Ulama”.
Ingat, alumni 212 yang kebanyakan juga ulama, sebagian besar berada di Pihak Prabowo terutama sang maestro poros Makkah: DR. Habib Rizieq, dan para ulama-ulama hebat lainnya yang tidak bisa disebut satu persatu.

3. Warga NU yang notabenenya K.H. Ma’ruf Amin adalah sesepuh NU, diharapakan bisa mendulang suara sangat besar. Ingat, sekali lagi, NU hari ini juga terbagi, sampai ada yang menamakan dirinya NU “Garis Lurus” + kecerdasan warga NU lewat pantauan ,edsos selama ini akan kinerja Jokowi yang menurut sebagian servey, menunjukkan di bawah 40% kepuasan…

#
Prabowo, telah tepat memilih pasangannya yang tidak kalah kelebihannya dari cawapres kubu sebelah.

Seorang cawapres dengan visi: KEKUATAN EKONOMI KEUMMATAN, MENUJU BANGSA YANG BERDAULAT.

Selamat Datang Presiden Baru 2019.

Gelombang aksi nyata dengan slogan #2019gantipresiden, teruuus menggejolak bagai bola salju, yang semakin menyudutkan Jokowi.

Satu lagi!
Masyarakat hari ini sekali lagi sudah cerdas dan tahu arah pilihan Jokowi kepada Ma’ruf Amin, yaitu: Ma’ruf Amin dijadikan sebagai “alat”, untuk mendongkrak suaranya dari pemilih muslim, padahal masyarakat sudah sadar dan berkaca di 2014 lalu, sosok Jusuf Kalla, dijadikan sebagai alat untuk meraup suara Indonesia Bagian Timur.

Masyarakat Sudah Cerdas!

#
Masih banyak analisis yang lainnya di dalam pikiran ini yang belum bisa tertuang di tulisan ini, karena waktu sudah menunjukkan pukul 03:37 WITA.

Intinya:
Jokowi telah terpancing, Mahfud MD telah di PHP, di sudut lain, oposisi dengan cerdas dan penuh perhitungan setelah UAS tidak mau dijadikan cawapres, dengan penuh resiko, “melawan Ijtima’ ulama 1”, namun Ulama-ulama pun tetap legowo dengan keputusan akhir sang Jendral, Bapak Prabowo Subianto.

Insya Allah, SELAMAT DATANG PRESIDEN BARU 2019.

Bola Salju itu akan teruuus dimainkan, sampai saatnya akan berguling dan sampai di puncak tertinggi.

Penulis: Muhammad Jus’am