CIAMIK! Diejek dan Dicibir Haters, AHY Balas TELAK dengan Jurus Trisakti Wiratama


[PORTAL-ISLAM.ID]  Ketakutan para pendukung Jokowi terhadap lawan politik yang dianggap mampu menjadi penantang di Pilpres 2019 mendatang, kerap diwujudkan dalam rupa ejekan dan cibiran. Salah satu tokoh yang membuat para pendukung Jokowi kalap adalah Agus Harimurti Yudhoyono yang akrab disapa AHY.

Agus Harimurti Yudhoyono, putra Presiden RI ke-6 sekaligus Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute, memang layak dipertimbangkan sebagai penantang serius bagi Jokowi.

Meski masih terbilang sangat muda, namun dari banyak segi, terutama kecakapan akademik, AHY jauh berada di atas Jokowi.

Hal ini yang semakin membuat para pendukung Jokowi kalap lalu mencibir dan mengejek AHY.
Apa tanggapan AHY mengenai hal tersebut?

AHY tak terlalu ambil pusing.
Dengan cerdas, AHY berorasi di hadapan lebih dari 1500 pemuda pemudi dari berbagai wilayah di nusantara dan menjawab semua cibiran dengan penuh percaya diri.

The Yudhoyono Institute sendiri adalah lembaga pemikiran yang berbasis pada tiga pilar, yakni liberty, prosperity, dan security.

Orasi dengan tema "Muda Adalah Kekuatan"  berlangsung singkat, hanya sekitar 30 menitm. Dalam waktu yang relatif singkat itu, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai orator tampil dengan ciri khasnya yang rapi, percaya diri, namun tetap trendy ala millennials. AHY mengawali orasinya dengan mengungkap tiga tantangan dan peluang pemuda pemudi di abad 21.

Pertama, kompetisi yang semakin keras akibat pertumbuhan penduduk dunia seiring menipisnya sumber daya alam. Jika kompetisi ini tidak dikelola dengan baik, maka berpotensi menimbulkan perang antar negara.

Kedua, kemajuan teknologi dan trend perubahan kehidupan manusia akibat revolusi industri gelombang ke empat, dimana dunia semakin modern, cepat bergerak, dan tanpa batas.

Ketiga, tentang trend pemimpin muda di dunia termasuk Indonesia. Dari ketiga tantangan dan peluang tersebut, generasi muda diharapkan bisa membawa perubahan dan kemajuan di masa depan.

AHY melanjutkan orasinya dengan memaparkan definisi muda. Menurut Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), muda adalah mereka yang berusia 15–24 tahun. Menurut ASEAN, muda adalah mereka yang berusia 15–35 tahun.  Di Indonesia, muda adalah mereka yang berusia 16-30 tahun. Dikaitkan dengan usia dirinya yang akan memasuki 40 tahun pada 10 Agustus 2018 mendatang, maka AHY merasa senang dan terhormat jika ia disebut sebagai anak muda.

Perlu diingat kembali bahwa di tahun 2016 yang lalu, AHY mengakhiri perjalanan karirnya sebagai perwira menengah TNI dan memilih untuk terjun di kontestasi politik Pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2017.

Sejak itulah segala tindak tanduk dirinya selalu dikaitkan dengan tujuan politik. Seiring berjalannya waktu, AHY memang kian fokus di kancah politik dan kepemudaan. Ia bergerak keliling Indonesia dari kampus ke kampus untuk memberi kulliah umum dan berdiskusi dengan mahasiswa. Ia juga menerapkan pendekatan politik yang cair dan tanpa beban. Hal ini ia tunjukkan dengan menemui tokoh-tokoh politik skala nasional lintas partai. Terakhir ia dilantik sebagai Kogasma (Komando Satuan Tugas Bersama) Partai Demokrat yang kurang lebih fungsi utamanya sebagai divisi pemenangan Pemilu bagi Partai Demokrat.

Sejumlah realita tersebut makin menegaskan bahwa AHY kini adalah seorang politisi, bukan lagi perwira militer, maupun pengusaha. AHY jelas sedang membangun karir politiknya. Namun, seiring dengan karir politik yang ia bangun, ia seringkali mendapat cibiran, sebut saja di percakapan media sosial, ia disebut terlalu muda, belum berpengalaman di pemerintahan, dan tak tanggung–tanggung ia disebut mendompleng nama besar ayahnya yang merupakan Presiden RI ke enam yaitu Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.

Dari sinilah terlihat bahwa orasi AHY tentang “Muda Adalah Kekuatan” merupakan bagian dari upaya khusus AHY  menjawab berbagai cibiran tersebut. Dan secara umum ia ingin menginspirasi generasi muda untuk mengambil peran dalam perubahan menuju kemajuan. AHY tegaskan, bahwa orang–orang pesimis selalu mengartikan muda itu belum berpengalaman, kurang sabar, kurang teliti, dan lain-lain.

Padahal bagi orang-orang yang optimis, muda itu justru adalah kekuatan karena ditopang tiga hal utama, yakni fisik yang kuat, generasi muda memiliki energi dan stamina untuk melakukan banyak hal.

Kemudian mentalitas yang kuat, yaitu generasi muda memiliki keberanian dalam menghadapi berbagai tantangan. Jika sudah memiliki tujuan maka anak muda akan berkorban demi mencapai tujuan tersebut.

Dan terakhir adalah intelektualitas yang kuat. Mengapa disebut memiliki intelektualitas yang kuat? Karena generasi muda memiliki rasa ingin tahu yang besar. Ketiga hal ini menghasilkan kreativitas dan produktivitas. Di akademi militer, ketiga hal ini disebut Trisakti Wiratama yaitu keunggulan fisik, mental, serta intelektual.

Sebentar lagi kita akan masuki tahun 2019, tahun dimana Indonesia akan menggelar hajatan besar demokrasi yaitu Pemilihan Umum serentak. AHY mengungkap adanya satu fakta yang sangat mendesak, yaitu pada tahun 2019 diprediksi ada 100 juta orang penduduk Indonesia berusia 17–35 tahun. Angka ini memiliki dua potensi: (1) dalam konteks pesta demokrasi, 100 juta orang ini merefleksikan 52 % dari total pemilih.
(2) dalam konteks pembangunan nasional, anak muda akan menjadi pelaku utama perubahan di berbagai sektor. Sehingga anak muda akan sangat menentukan nasib bangsa ini lima tahun mendatang dan seterusnya.

Lantas bagaimana generasi muda mengambil peran dalam konteks pesta demokrasi maupun pembangunan nasional?

Di sini lah AHY menggunakan analogi yang tepat dalam orasinya. AHY mengajak hadirin untuk mengingat kembali doa orang tua ketika anaknya terlahir di dunia, yaitu berharap agar anaknya berguna serta berbakti kepada orang tua, agama, bangsa dan negara. Seiring berjalannya waktu, doa dan harapan itu terus diucapkan berulang kali oleh orang–orang terdekat sehingga dibawah alam sadar doa tersebut telah menjelma menjadi mimpi generasi muda.

AHY juga mengingatkan bahwa generasi muda selalu hadir dalam babak penting sejarah bangsa Indonesia. Dimulai dari tahun 1908, saat Boedi Oetomo menjadi tonggak pergerakan nasionalisme dan awal kebangkitan nasional, lalu tahun 1928 deklarasi sumpah pemuda menjadi cikal bakal persatuan Indonesia, kemudian di tahun 1945 akibat desakan kelompok pemuda maka bung Karno dan bung Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, hingga di saat terjadi krisisis multi dimensi pada tahun 1998, para mahasiswa memperjuangkan terjadinya reformasi nasional.

Dari fakta-fakta sejarah tersebut, AHY mengajak kita untuk melakukan refleksi dan berkontemplasi, bahwa generasi pendahulu bergerak atas tuntutan jiwa, intuisi, keyakinan terhadap nilai–nilai kebenaran, dan pengorbanan utk masa depan yang lebih baik. Mereka bergerak tanpa menunggu berpengalaman, tanpa harus menunggu diberi kesempatan, mereka berani merebut kesempatan utk menentukan nasib bangsa.

Inilah point utama orasi AHY tentang “Muda Adalah Kekuatan”. Ia yakinkan seluruh generasi muda yang hadir maupun yang menyaksikan secara live di televisi, bahwa pemuda harus mengambil peranan penting dalam pesta demokrasi maupun pembangunan nasional karena telah terbukti bahwa generasi muda memiliki andil sebagai motor utama di setiap peristiwa bersejarah yang terjadi di republik ini tanpa harus menunggu untuk menjadi berpengalaman. Di tangan pemuda ada kekuatan dan di tangan AHY, ada kekuatan berbahaya yang sangat dipahami penguasa negeri ini.

Penulis: Dimas Akbar
Twitter : @dimasprakbar
Instagram : dimasakbarz
Editor: Redaksi Portal Islam
Baca juga :