TERUNGKAP! INI Alasan UNESCO Tak Jadikan Kota Tua Sebagai Warisan Dunia


[PORTAL-ISLAM.ID]  UNESCO menolak Kota Tua menjadi kawasan world heritage. Ada sejumlah alasan mengapa UNESCO tak menjadikan Kota Tua Jakarta menjadi warisan dunia, salah satunya reklamasi. Persis seperti yang disampaikan Gubernur DKI Anies Baswedan.

Dalam dokumen yang diperoleh dari website UNESCO, Senn, p9 Juli 2018 sejumlah alasan dikemukan International Council on Monuments and Sites (ICOMOS) selaku organisasi pemberi rekomendasi ke UNESCO tentang world heritage.

Di halaman 95 dalam dokumen itu dijelaskan tentang adanya reklamasi Jakarta yang menghilangkan peran penting 4 pulau di Teluk Jakarta.

"ICOMOS menganggap bahwa bukti fisik yang disimpan di empat pulau tidak mendukung klaim ini dan bahwa sebagai akibat dari reklamasi lahan yang telah dilakukan berkelanjutan di Teluk Jakarta membuat hubungan antara kawasan Kota Tua dan pulau telah hilang. Padahal 4 pulau ini mendukung cerita tentang garis pertama pertahanan Batavia," tulis dokumen tersebut.

Dijelaskan ICOMOS, 4 pulau ini dulunya merupakan tempat pertama VOC berlabuh, memperbaiki kapal dan kemudian VOC bisa menuju daratan Batavia. Namun kehadiran reklamasi mengubah cerita ini sehingga konsep Kota Tua dianggap belum bisa diterima.

Tidak hanya itu, ada juga normalisasi Kali Besar di Kawasan Kota yang dianggap mengubah orisinalitas Kota Tua. Menurutnya normalisasi Kali Besar menggunakan beton mengubah orisinalitas.

"Misalnya, Kanal Tengah Besar, yang disorot sebagai salah satu fitur utama dari rencana kota VOC, saat ini sedang direnovasi dengan beton di permukaan tanahnya dan dinding kanal dibangun dengan beton," tulis ICOMOS.

ICOMOS menyarankan, sebaiknya perbaikan atau rehabilitasi kawasan Kota Tua seharusnya didampingi oleh ahli sejarah dan informasi lengkap mengenai kehidupan Kota pada masa Batavia dulu. Sehingga keaslian dari kawasan ini bisa tetap terjaga dan bangunan tetap dalam kondisi baik.

"ICOMOS merekomendasikan khususnya bahwa proyek restorasi dan pembangunan kembali berkelanjutan di Peninggalan abad ke-20 Kota Tua harus dipandu oleh dengan mempertimbangkan secara penuh berbagai sumber informasi keaslian, yang menjadi ciri representasi kesenian khas Kota Tua," ungkapnya.