PKS BUKAN SAYAP GERINDRA!


PKS BUKAN SAYAP GERINDRA!

“Untuk Jawa Barat, sudah tahu kan? Jendral Sudrajat dan Ustadz Ahmad Syaikhu!” teriak Ustadz Arifin Ilham di hadapan jamaahnya, terkait pilihan Cagub dan Cawagub di Jawa Barat. Sebelumnya Ustadz Arifin sudah menegaskan bahwa untuk Capres pilihan ummat, tetap menunggu arahan dari Habibana Rizeq Syihab.

Pasangan Asyik yang didukung PKS memang kalah. Tapi perolehan suaranya jauh melampaui prediksi banyak orang. Saya tidak ragu menegaskan bahwa kesuksesan Asyik menempati urutan ke dua dalam kontestasi Pilgub Jawa barat lebih karena dukungan Ulama daripada kerja mesin partai pendukung. Andai tidak ada dukungan dari Ulama 212, saya yakin bahwa calon yang didukung PKS pun akan keok. Jangankan menyodok ke peringkat dua, bahkan untuk menduduki peringkat tiga pun berat!

Bahwa mesin partai yang dimiliki PKS adalah mesin terbaik di antara mesin-mesin partai yang lain, itu memang benar adanya. Saya tahu pasti itu. Tapi sebaik apapun suatu mesin, kalau tidak dipegang oleh operator yang kompeten, maka tetap saja mesin tersebut tidak akan berjalan sebagamana mestinya.

Berandai-andai untuk sesuatu yang sudah terjadi, adalah kebodohan. Bahkan disebut sebagai prilaku setan. Tapi sebagai bahan evaluasi justru harus dilakukan. Maka, seandainya (pimpinan) PKS lebih membuka pandangannya melihat peta Jawa Barat, tentang sosok Sudrajat yang sama sekali tidak dikenal orang dibandingkan Dedi Mizwar, yang hampir tak seorang pun di Jawa Barat melainkan kenal atau tahu sosok beliau.


Termasuk, andai PKS bisa membaca keinginan kader, saya yakin bahwa yang menginginkan Dedi Mizwar itu jauh lebih ramai daripada yang memilih Sudrajat. Ini bukan masalah Demiz lebih baik daripada Sudrajat. Tapi lebih kepada chemistry orang. Demiz itu sudah lama kenal dengan PKS. Beliau mendampingi Kang Aher selama lima tahun relatif tidak ada masalah. Ustadz Syaikhu pun sudah terlihat cocok dengan beliau.

Saya tahu kader PKS di Jawa Barat sudah jatuh bangun, memeras keringat sampai titik terakhir untuk memenangkan Asyik. Termasuk juga back up dari Jakarta. Sungguh perjuangan yang tidak sia-sia. Semoga Allah mencatat kelelahan teman-teman, pengorbanan waktu dan harta sebagai amal sholeh yang kelak menjadi pemberat timbangan kebaikan pada hari kiamat.

Tapi pimpinan PKS harus serius mengevaluasi diri. Termasuk relasi dengan Gerindra-Prabowo, yang terkadang justru merugikan PKS. Seperti misal ketika itu, andai PKS lanjut saja pasangan Demiz-Syaikhu, terlepas Prabowo-Gerindra tidak menyetujuinya, tentu kemenangan akan jauh lebih mudah direngkuh daripada Sudrajat-Syaikhu, yang terpaksa disandingkan hanya karena menuruti keinginan Prabowo-Gerindra.

Saya tidak ingin keberadaan PKS di samping Gerindra itu seperti Baitul Muslimin di samping PDIP!

Jum'at, 22 Syawal 1439

Ustadz Abrar Rifai
(Kader Inti PKS, Malang)

___
Foto atas: Konpers DPW PKS Jabar tentang Hasil Real Count Pilgub Jabar, Rabu (4/7/2018).