MENGAPA AKHIRNYA SAYA MEMILIH KELUAR DARI PKS


Oleh: Arif Mahmudah
[Alumni Unhas, Eks Ketua Deputi Pembinaan Lembaga Pengkaderan DPW PKS Sulsel]

Sesekali melintas keinginan untuk menulis perasaan saya, tentang mengapa akhirnya saya memilih untuk tidak lagi bersama PKS.

Terlalu banyak kebaikan yang saya peroleh darinya. Hampir separuh usia saya hari ini, saya jalani bersama teman-teman PKS. Sebelum ia dirampas rezim baru ini...

Saya hanya orang kampung, datang ke kota hanya memikirkan satu hal: cepat-cepat selesaikan kuliah, lalu pulang jadi pegawai.

Tiba-tiba ketemu senior, dengan perhatian yang besar, dengan support yang tanpa pamrih, itulah yang membuat saya "jatuh cinta" pada orang-orang PKS.

Walaupun sebenarnya saya "bukan anak baik" dalam keaktifan mengikuti pengajian PKS. Selalu saja ada alasan yang saya buat untuk menghindarinya...

Tapi itu di tahun pertama saja. Hidayah Allah-lah melalui perhatian senior yang masya Allah itulah...yang membuat saya merasakan kenyamanan yang luar biasa.

Itulah yang saya yakini dulu, bahwa PKS adalah rumah cinta. Semua orang mendapatkan kasih sayang melimpah. Semua orang bisa duduk nyaman disini.

Sejak itulah, selama kurang lebih 13 tahun saya menikmati hari-hari yang sangat indah. Sebagian kepribadian saya dibentuk dari pembinaan tarbiyah kader-kader PKS.

Sejauh yang saya ingat, sebagai kader (sekarang mantan 😊) saya tidak pernah punya masalah. Merangkak dari keaktifan di organisasi mahasiswa. Sampai menjadi ketua deputi di struktur wilayah.

Bahkan di detik-detik terakhir kebersamaan saya dengan PKS. Alhamdulillah tetap berusaha menunaikan tugas sebagai Tim Pemenangan Prof Andalan, usungan PKS di Pilgub Sulsel.

Saya hanya ingin adil. Bahwa PKS adalah aset yang perlu dijaga. Tapi sayang sekali sekarang sedang dirusak oleh orang-orangnya sendiri. Tentu kerja "orang luar" untuk ikut merusaknya tidak bisa diabaikan.

Waktu pemecatan bang FH, ini senior di organisasi mahasiswa. Saya sudah sampaikan kritik saya bahwa DPP sudah sangat berlebihan.

Makin kesini, aksi-aksi DPP makin ugal-ugalan. Semua orang bisa melihat. Organisasi ini tak jelas arah. AD/ART secara terang dilabrak-labrak oleh pengurus DPP melalui sekian kebijakannya.

Kebijakan ugal-ugalan itu sampai pula ke Sulsel. Semua pimpinan wilayah diganti tanpa alasan yang jelas. Ditanya gak jawab. Ada 1 yang tetap tidak diganti, tapai justru ini orang yang dinilai bermasalah.

Orang yang tetap dalam unsur pimpinan wilayah (tepatnya di rotasi ke posisi yang lebih tinggi) adalah orang yang diketahui tidak hadir dalam agenda pembinaan wajib selama 1 tahun.

Tidak bayar infaq selama 1 tahun padahal itu wajib. Saya sudah bertanya ke ketua Wilda Sulawesi. Ke HNW. Kenapa ada rotasi tidak rasional seperti ini di tengah pilkada? Tidak ada jawaban yang terang.

Oleh pengurus yang baru (hasil perombakan yang ugal-ugalan). Saya dimasukkan dalam kelompok pembinaan anggota, yang dipimpin oleh orang yang tidak ikut pembinaan selama hampir 2 th. :)

Bahkan pembina itu, ditunjuk untuk membina beberapa kelompok pembinaan lain. Aneh bin ajaib PKS sekarang ini. Yang jelas-jelas melanggar disiplin malah dapat panggung dan dihormati

Itulah yang makin membuat hati saya mantap untuk 'merantau'. 1 juli 2018 saya minta pamit ke kaderisasi partai. Saya hendak memulai petualangan baru...


Tapi saya tidak pergi karena marah. Saya pergi karena meyakini, akan ada jalan baru yang akan membawa kita sampai pada cita-cita.

Kita tidak mungkin pergi dari politik dan perjuangan. Karena kita telah tumbuh besar dengan perasaan bahwa disanalah hajat hidup orang banyak digantungkan.

Jika hatimu lurus, Allah akan memilihkan untukmu teman-teman yang layak menemani menempuh jalan juang. Itu keyakinan.

Tapi ini bukan soalan personal. Saya pribadi membaca situasi ini dengan perasaan yang lebih optimis. Bahwa dari sini kita akan menemukan peta jalan baru.

Yang sekarang ditampilkan di panggung adalah "gaya lama pengelolaan organisasi". Tidak sepenuhnya salah. Hanya saja, situasi sosial sudah tidak kompatibel.

Struktur sosial yang baru membutuhkan pendekatan baru. Perubahan Struktur sosial ini bukan hanya terjadi di internal tapi juga di eksternal.

Bismillah...
merantau...

Terimakasih untuk tahun-tahun yang indah.

Mohon maafkan saya.

Makassar, 13 Juli 2018

___
*dari twit @arifmahmudah (13/7/2018)