Ketika TGB Memilih Jalan Menikung


Ketika TGB Memilih Jalan Menikung

By @amru_ms

Dukungan Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi (TGB) kepada Jokowi sungguh mengejutkan banyak orang. Betapa tidak, TGB selama ini dikenal sebagai ulama dan politisi yang punya warna politik keislaman jelas dan tegas yang berbeda dengan warna politik rezim kekuasaan, secara tiba-tiba bergabung dengan Jokowi dalam satu warna bahtera politik.

Tentu merupakan hak politik TGB mendukung Jokowi. Tidak ada yang bisa menghalangi. Namun atas pilihannya itu, demi hasrat berkuasa dan mungkin juga untuk menghindar dari dugaan jeratan masalah, TGB secara sadar telah mengabaikan 9 hal.

Pertama, TGB telah mengabaikan  psikologi politik --suasana kebatinan umat dan para ulama yang menginginkan presiden baru. Terlebih ia bagian dari Persaudaraan Alumni (PA) 212. Saat ini PA 212 tengah melakukan konsolidasi umat yang menggaungkan #2019GantiPresiden, seiring perilaku politik rezim pasca kasus Ahok yang tidak akomodatif bahkan cenderung represif, dengan melakukan berbagai kebijakan dan tindakan yang melukai perasaan umat Islam. Seperti penangkapan dan menjadikan tersangka aktivis dan tokoh Islam yang kritis yang tidak sehaluan dengan pemerintah.

Kedua, TGB telah mengabaikan fakta ketika jutaan umat berkumpul (TGB sendiri hadir) menyuarakan agar Ahok sang penista kesucian Islam dihukum, namun partai-partai pendukung Jokowi membela Ahok. Bahkan, lebih tragis lagi mendukung Ahok dalam Pilkada DKI.

Ketiga, atas pilihan yang diambil, tanpa ada pembicaraan dengan para ulama dan para ustadz yang sekian lama berjalan seiring dalam dakwah, sebagai ulama TGB telah mengabaikan adab yang menjadi ruh utama dakwah. Juga sebagai politisi yang masih kader partai Demokrat, tanpa ada 'kulo nuwun' dengan partainya secara khusus pada SBY sebagai Ketum, TGB telah mengabaikan fatsun politik.

Keempat, secara khusus TGB telah mengabaikan psikologi politik --suasana kebatinan mayoritas masyarakat NTB yang sejak Pilpres yang lalu tidak menginginkan Jokowi. Bahwa betul merupakan fakta TGB berperan besar atas kemenangan Zul-Rohmi di Pilgub 2018, tapi itu tentu tidak bergaris lurus masyarakat NTB akan memilih Jokowi karena dukungan TGB.

Kelima, TGB telah mengabaikan kenyataan perilaku politik rezim Jokowi yang tidak adaptif-akomodatif terhadap umat Islam. Bahkan, terjadi berbagai kasus kriminalisasi terhadap ulama dan tokoh Islam. Tindak tanduk gerakan umat diintai dalam bidikan radikalisme. Ustadz dan ulama sengaja dipolarisasi dengan cara sertifikasi, mana yang boleh ceramah mana yang tidak boleh. Kebenaran seolah diakuisisi menjadi tafsir tunggal milik pemerintah. Kritik dan perbedaan pendapat dimaknai sebagai bentuk kebencian.

Keenam, TGB mengabaikan realitas kehidupan ekonomi rakyat yang kian sulit di bawah rezim Jokowi. Ketimpangan pembangunan. Daya beli menurun. Harga melonjak naik. Hutang luar negeri yang membumbung tinggi.

Ketujuh, TGB mengabaikan realitas adanya ketidakadilan dan ketidaksetaraan penegakan hukum. Aparat hukum begitu responsif menyikapi laporan yang datang dari unsur dan pendukung pemerintah. Sebaliknya laporan yang datang di luar itu menjadi mangkrak lalu terbang bersama angin. Begitupun dengan masalah hoax. Bahkan muncul istilah hoax membangun versi pemerintah.

Kedelapan, TGB mengabaikan kenyataan betapa kedaulatan bangsa dan negara sungguh dipertaruhkan. Investasi dan melubernya tenaga kerja China yang tak terkontrol dan tersisihnya tenaga kerja lokal, sudah pada titik yang sungguh mengkhawatirkan.

Kesembilan, TGB mengabaikan dirinya sendiri terperangkap dalam 'jebakan batman'. Jokowi ingin mendulang suara dari umat Islam. Posisi Wapres dalam ketatanegaraan kita tidak memiliki wewenang yang luas dan signifikan. Kunci tetap pada Presiden.

Hasrat ingin berkuasa sekaligus agar terhindar dari masalah yang masih merupakan dugaan itu, ia telah mengabaikan banyak hal yang semestinya menjadi pertimbangan pokok. Ia mendadak melakukan tikungan tajam pada jalan yang justru lebih berbahaya. Bukan saja mempertaruhkan dirinya tapi mempertaruhkan umat dan bangsa ini.

Pada titik inilah.. kita perlu menyadari bahwa politik kekuasaan tidak hanya membius mereka yang lemah iman politiknya, tetapi juga dapat membius kesadaran imani para pewaris Nabi.

Wallahu a'lam bisshawab.

10 Juli 2018

___
Penulis: https://twitter.com/amru_ms