Dukung Palestina, Aktivis HAM Swedia Keturunan Yahudi Berjalan Kaki Sepanjang 5.000 Km Swedia-Palestina


[PORTAL-ISLAM.ID] Aktivis HAM Swedia berusia dua puluh lima tahun keturunan Yahudi, Benjamin Ladraa melakukan perjalanan berbahaya dari Swedia ke Palestina untuk meningkatkan kesadaran dunia internasional tentang pelanggaran HAM di wilayah penjajahan Israel.

Ladraa memulai perjalanan 5.000 km dari Gothenburg, Swedia, pada 8 Agustus 2017 tahun lalu, bertepatan dengan peringatan seratus tahun Deklarasi Balfour.


Pada Kamis 5 Juli 2018 kemarin, setelah hampir satu tahun berjalan, Ladraa akhirnya tiba di perbatasan Yordania-Palestina. Namun oleh pihak Israel, Ladra dilarang masuk ke wilayah Palestina.

Atas pengorbanan ini, Pemimpin Palestina Mahmoud Abbas memberikan kewarganegaraan Palestina pada hari Jumat (6/7/2018) lalu kepada aktivis Swedia Benjamin Ladraa, yang telah berjalan dari Swedia ke Palestina untuk meningkatkan kesadaran tentang pelanggaran hak asasi manusia.

"Langkah ini diambil untuk menghargai upaya Ladraa dan posisinya untuk mendukung rakyat Palestina," kata Abbas seperti dilansir kantor berita resmi Palestina Wafa.

Ladraa dilarang oleh polisi Israel memasuki Palestina pada hari sebelumnya.

Kelompok perlawanan Palestina Hamas mengutuk langkah itu.

Dalam pernyataan singkat, juru bicara Hamas Fawzi Barhoum mengatakan larangan itu mencerminkan kebijakan isolasi Israel untuk rakyat Palestina dan ketidakadilan dan tekanan pada orang-orang di Palestina.

Aktivis berusia 25 tahun itu memulai perjalanannya ke Palestina dari Swedia hampir setahun lalu untuk meningkatkan kesadaran tentang pelanggaran hak asasi manusia di wilayah yang diduduki.

Setelah tiba di perbatasan Israel dari Yordania, ia dilarang oleh pemerintah Israel untuk memasuki Palestina dan ditahan selama enam jam.

Ladraa memulai perjalanannya dari Swedia Agustus lalu dan melintasi Jerman, Austria, Slovenia, Kroasia, Serbia, Bulgaria, Turki, Lebanon, dan Yordania.

Perjalanan Kemanusiaan


Setiap hari adalah pengalaman yang berbeda, kata Ladraa, kepada Al Jazeera. Terkadang dia tidur di tenda atau hostel. Makan malam dapat terkadang makanan kaleng dengan api unggun atau makan bersama dengan tuan rumah yang ia temui selama perjalanannya.

Ladraa kadang-kadang mengadakan ceramah, di mana dia memberi tahu para pendengarnya apa yang dia lihat selama perjalanannya di Palestina.

Dengan pengecualian beberapa insiden yang terpisah, ia mengatakan kebanyakan orang menyambutnya.

Di Praha, katanya, dia ditahan oleh penjaga kedutaan “Israel” karena dia membawa bendera Palestina dan mendorong troli.

Dia dibebaskan setelah pasukan penjinak bom memastikan dia tidak berbahaya.

Dia memposting foto-foto perjalanannya di akun Facebook dan Instagram-nya dengan tanda pagar #walktopalestine. (Link: https://www.instagram.com/walktopalestine/)

Untuk melakukan perjalanan ini dia telah menjual semua miliknya. Terkadang, dia menerima sumbangan.


Ladraa mengatakan dia mengadakan aksi jalan kaki dari Swedia ke Palestina karena sangat tersentuh oleh perjalanan tiga pekan ke Palestina pada April 2017 sebelumnya, sehingga dia memutuskan untuk “memberi tahu dunia tentang apa yang terjadi di Palestina”.

“Saya terkejut dengan apa yang saya lihat di sana, melihat semua tembok (tembok pemisah yang dibangun Israel), tentara berjalan di sepanjang jalan membawa senapan mesin M-60. Saya mendengar cerita tentang 300 anak di penjara, pemerkosaan di rumah.”

“Setelah tiga pekan (di Palestina), saya kembali (ke Swedia) dan ingin melakukan sesuatu untuk meningkatkan kesadaran tentang pelanggaran hak asasi manusia di Palestina,” kata Ladraa, yang lahir dari orang tua Yahudi.

Saat melakukan aksi jalan kaki ini, Ladraa membawa bendera Palestina di punggungnya dan keffiyeh, simbol kemerdekaan Palestina, di atas bahunya.

“Saya pikir semua orang dapat dan harus memberikan sedikit waktu untuk melakukan sesuatu untuk orang lain,” kata Ladraa ketika ia berangkat dari Beograd pada 10 Februari.

Saat tiba di Turki pada 7 Mei 2018, Ladraa bertemu dengan Presiden Recep Tayyip Erdogan dan mendapat anugerah the International Mount of Olives Peace Awards di Istanbul.

President of Turkey Recep Tayyip Erdogan (2nd L) and his wife Emine Erdogan (L) speak with Swedish activist Benjamin Ladraa (2nd R) who is walking from Sweden to Palestine to raise awareness of the Israeli occupation on 7 May 2018 [Cem Öksüz/Anadolu Agency]

Ladraa menyampaikan pesan tentang keharusan semua orang untuk menjadi aktivis pembela Palestina karena penjajahan Israel yang sedang berlangsung dan pelanggarannya terhadap hak asasi manusia.

Melalui akun instagramnya, Sabtu (7/7/2018), Benjamin Ladraa menyampaikan tentang dilarangnya masuk ke wilayah Palestina oleh Israel.

"The Israelis didn't allow me to enter Palestine. I was interrogated for about six hours before they told me I was denied entry. They only gave two reasons for denying me entry, one was that they thought I was lying during the interrogation and the other was that they thought I would go to Nabi Saleh and make a demonstration (which they just assumed). On this day it has been eleven months of walking and speaking about the human rights violations under the occupation. Now ask yourself why the Israeli state fears one Swedish man so much that they didn't allow him to enter the country they are occupying. This is the power of activism. #walktopalestine"

(Israel tidak mengizinkan saya masuk ke Palestina. Saya diinterogasi selama sekitar enam jam sebelum mereka mengatakan bahwa saya ditolak masuk. Mereka hanya memberikan dua alasan untuk menolak saya masuk, salah satunya adalah mereka mengira saya berbohong selama interogasi dan yang lain adalah bahwa mereka mengira saya akan pergi ke Nabi Saleh dan membuat demonstrasi (yang mereka duga). Pada hari ini, sudah sebelas bulan berjalan dan berbicara tentang pelanggaran hak asasi manusia di bawah pendudukan (penjajahan Israel pred). Sekarang tanyakan pada diri Anda mengapa negara Israel sangat takut pada seorang pria Swedia sehingga mereka tidak mengizinkannya memasuki negara yang mereka tempati. Inilah kekuatan aktivisme. #walktopalestine)


___
Referensi:
- https://www.aa.com.tr/en/world/swedish-activist-granted-palestinian-citizenship/1197080
- https://www.arrahmah.com/2018/04/16/dukung-palestina-aktivis-swedia-berjalan-kaki-sepanjang-5-000-kilometer/
- https://www.middleeastmonitor.com/20180511-pro-palestine-activist-ladraa-receives-peace-award-in-istanbul/
- https://en.wikipedia.org/wiki/Benjamin_Ladraa