CATAT! 10 Rekomendasi yang Dihasilkan Acara Multaqa Ulama dan Dai ke-5


[PORTAL-ISLAM.ID]  Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan secara resmi menutup Pertemuan Ilmiah Internasional ke-5 (Al-Multaqa al-Duwaly al-‘Ilmy al-Khamis) yang digelar di Hotel Grand Cempaka, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, sejak Selasa hingga Jumat 3-6 Juli 2018

Sebelumnya, kegiatan yang digelar Rabithah Ulama dan Dai Asia Tenggara dan didukung oleh Yayasan Al-Manarah Al-Islamiyah dan Pemprov DKI Jakarta itu dibuka secara resmi oleh Wapres HM Jusuf Kalla.

Kehadiran Anies dalam pertemuan bertema “Wa’tashimu…”,  yang dihadiri oleh lebih dari 500 peserta itu merupakan yang ketiga kalinya. Pertama, Anies hadir sekaligus menyampaikan sambutan saat pembukaan pada Selasa 3 Juli 2018. Kedua, Anies hadir pada malam puncak Multaqa untuk mendengarkan pengalaman-pengalaman para ulama dan dai, Kamis malam 5 Juli 2018 dan ketiga, Anies menutup Multaqa pada Jumat 6 Juli 2018.

Sebelum secara resmi ditutup, Sekjen Rabithah Ulama dan Dai Asia Tenggara Dr. H. Jeje Zainuddin membacakan 10 rekomendasi strategis terkait dakwah dan problematika umat Islam sebagai hasil dari pertemuan ini. Kesepuluh rekomendasi itu adalah:

Pertama, menekankan pentingnya rahmat dalam Islam dan hidup berdampingan secara damai dan harmoni antara Muslim dan non-muslim dan bahwa cinta terhadap kebaikan antar sesama merupakan hal yang baik, maka seharusnya tidak menginginkan keburukan untuk dirinya sendiri dan orang lain

Kedua, untuk mencapai persatuan dan kesatuan di antara umat. Perlu berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang komprehensif dan terintegrasi yang sejalan dengan kaidah-kaidah ilmiah dan praktis yang telah disusun oleh para ulama otoritatif dari masa ke masa.

Ketiga, pentingnya membangun kemitraan kerja sama antara lembaga-lembaga dakwah dengan berbagai lembaga-lembaga ilmiah dan pendidikan baik pemerintah atau swasta, dalam rangka mencapai perdamaian, stabilitas, kemajuan, pembangunan dan kemakmuran dalam naungan ridha Allah Swt.

Keempat, meningkatkan peran strategis lembaga-lembaga dakwah dan kontribusinya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Muslim di berbagai bidang dan disiplin ilmu dalam rangka mewujudkan misi “khairu ummah” dan “ummatan wasatha”.

Kelima, memperkuat posisi keluarga sebagai institusi terkecil dan pondasi dasar bangsa dan negara, melalui pendidikan dan pengembangan karakter yang mulia yagn sejalan dengan ajaran Islam yang hanif.

Keenam, mendorong para ulama dan dai untuk melakukan revolusi penyampaian dakwah yang cepat dengan memanfaatkan teknologi informasi (IT) dan media sosial sebagai media untuk menyampaikan dakwah Islam yang berorientasi kepada budaya literasi.

Ketujuh, mengingat Indonesia adalah negara Muslim terbesar dalam hal jumlah penduduk, ia harus memainkan peran utama dalam menciptakan perdamaian dunia melalui dakwah dan pendidikan yang didukung oleh kebijakan pemerintah yang benar

Kedelapan, karena Jakarta sebagai Ibu Kota Negara memiliki berbagai keragaman agama, etnis, sosial, budaya dan lain-lain, maka setiap orang yang bekerja di bidang dakwah Islam harus mengambil metode dan strategi yang dapat membina dan mempertahankan kohesi sosial.

Kesembilan, memperkuat kedudukan kota Jakarta sebagai pusat Peradaban berbasis Dakwah dan Pendidikan Islam di konteks nasional dan internasional.

Kesepuluh, membentuk panitia khusus untuk merealisasikan seluruh keputusan forum multaqa ini dengan melibatkan semua unsur-unsur terkait.

Sumber: swa