Terorisme Buatan FBI by Fahri Hamzah


[PORTAL-ISLAM.ID]  FBI sebagai Polisi terbaik di dunia dikritik kayak gini. Itu bikin FBI tambah baik.

Kritik Trevor Aaronson kepada perang melawan teroris itu adalah kritik investigasi jurnalistik. Lalu ia menulis buku temuannya.

Buku itu berjudul #TerrorFactory : Inside The FBI’s Manufactured War on Terrorism. Kritik ini diterima baik. Orangnya tidak dibungkam.

Di atas kritik ini, saya sendiri terus menawarkan sefl-critisism kepada negara.

Sebab dalam ilmu negara modern, negara nampak sering bikin masalah bukan karena ada masalah tetapi untuk mempertahankan eksistensi negara.

Dan kita yang bekerja dalam negara tidak perlu marah dan mengambilnya pribadi sebab itu tugas kita dalam negara menerima kritik.

Makanya lahir lembaga yang secara khusus ditugaskan oposisi. Dalam presidensialisme DPR itu tugasnya oposisi kepada pemerintah.

Dalam siatem parlementer bahkan koalisi oposisi terbentuk seketika koalisi pemerintahan terbentuk.

Dan di beberapa negara oposisi diberikan biaya yang kebih besar agar posisi mereka kuat melawan koalisi pemerintah yang memegang sumberdaya besar.

Jadi itulah demokrasi, sesukses apapun nampaknya pemerintah, tetap saja mereka harus dikontrol dan dikritik sebab itu membuat mereka bekerja lebih baik bagi rakyat.

Apalagi jika apa yang mereka lakukan memang bermasalah.

Kembali kepada buku Terror Factory tadi penulisnya menuduh FBI membuat plot teror kepada Amerika lebih banyak daripada yang dilakukan oleh Al-Qaeda, ISIS, dll bahkan ketika semua plot itu digabung.

FBI dianggap menjadi dalang aksi teror. Setelah peristiwa 9/11 kata Aaronson, FBI tidak lagi peduli kepada jenis kejahatan lainnya tetapi terorisme.

Bahkan APBN Amerika dan biaya FBI menggelembung untuk membiayai kegiatan anti teror. Hal ini terjadi karena kampanye yang luar biasa.

Setelah setahun melakukan investigasi, wartawan investigatif ini justru menemukan bahwa dalam banyak kasus yang ia teliti sampai ujung pengadilan, menurutnya FBI lebih banyak membuat teroris daripada menangkapnya. Dia memaparkan banyak bukti yang sangat aktual.

Menurut pendiri asosiasi jurnalis investigatif ini, setelah 9/11 itu FBI menciptakan begitu banyak plot, menangkap begitu banyak orang secara tertutup, dan ia menemukan begitu banyak operasi penyusupan (Sting Operation) termasuk untuk menggarap orang gila dan frustrasi.

Setelah 9/11 itu FBI menurut Aaronson merekrut tidak kurang dari 15.000 agen yang bertugas untuk mencari orang (bahaya) yang bisa dipakai dalam plot aksi terror itu.

Itu yg membuat FBI selalu tahu sebelum kejadian teror. Mereka di bayar USD 100.000 setiap kasus.

Dan yang menarik dari temuan Aaronson adalah bahwa yang direkrut untuk menjadi aktor plot itu adalah kebanyakan muslim Amerika.

Tetapi dipilih yang sakit jiwa dan punya masalah karena himpitan ekonomi dll. Ia mengungkap banyak nama dan kasus.

Di TED Talks yang bergengsi itu, ia mengungkap gambar 2 orang ini (abu Khalid Abdullatiff dan Walid mujahid) yang ternyata keduanya gila alias sakit jiwa, pernah hampir bunuh diri, dll.

2012 keduanya ditangkap dengan tuduhan akan menyerang pusat pelatihan FBI di dekat Seattle.

Kedua orang gila tadi direkrut oleh Agen FBI Robert Chile yang ternyata adalah pelaku perkosaan dan pedofil, tapi dalam kasus ini ia mendapat bayaran 90.000 USD dari FBI.

Ini diantara cara kerja 15.000 agen FBI yg direkrut sejak 9/11 ketika proposal “War on Terror” disahkan.

Ada banyak lagi kasus yang diungkap dalam percakapan di TED itu, yang menggambarkan rekrutmen kepada orang gila, training memakai senjata dan meledakkan bom di sejumlah tempat, sampai negosiasi harga operasi.

Ini semua bohong (rekayasa) dan sebagian terungkap di pengadilan.

Dalam rantai kerja yang mahal dan menghabiskan APBN itu, penulis mengungkap plot yang disepakati antara FBI, Agent dan pelaku.

Mereka menyepakati apa akhir dari sebuah peristiwa. Ada yg sebagai Hollywood Ending, suatu drama yang menegangkan dan happy.

Sebagai pembayar dan atas nama masyarakat, Jurnalis Amerika ini mengkritik tema #WarOnTerror yang dibuat sejak pemerintahan George Bush Jr.

Itu semua bohong karena ini hanya drama atau tepatnya disebut Teater Keamanan Nasional (National Security Theater).

Yang menarik juga adalah bahwa riset investigatif Aaronson ini dibiayai oleh Universitas California Berkeley.

Dan akhirnya karena back up itu FBI juga tidak berkutik, meski mereka membantah secara umum, mereka tidak berani terang-terangan menjawab pertanyaan teknis.

Jurnalis seperti Aaronson sekarang tambah banyak, apalagi setelah lahirnya kelompok aktifis yang membuka borok negara seperti Wikileak yang dibuat oleh Julian Assange.

Tentu rakyat Amerika beruntung karena uang mereka ketahuan kemana larinya.

Buku #TerrorFactory layak dibaca sebagai referensi bahwa sampai kapanpun sikap kritis itu diperlukan.

Apalagi bagi mereka yang dibiayai negara untuk kritis. Bukan sebaliknya, baru dapat gula-gula kecil atau ditakutin mulut jadi bungkam. Ayo, jurnalis, akademisi, dll.

Sumber: Fahrihamzah