Sutarmidji, Cagub Kalbar Pemenang Berdasar Hitung Cepat, Keturunan Masyumi yang Pernah Mengkritik Ahok


[PORTAL-ISLAM.ID] Pontianak - Pilkada serentak 2018 usai digelar hari ini, Rabu (27/6/2018). Berdasar hasil quick count berbagai lembaga survei, Pilgub Kalimantan Barat yang diikuti empat pasang dimenangkan oleh pasangan Sutarmidji - Ria Norsan.

Dari quick count yang dirilis Poltracking suara masuk 93,80%, Sutarmidji - Ria Norsan meraih 51,61%. Unggul jauh dari Karolin-Gito 40,82% dan Milton-Boyman 7,58


Sutarmidji diusung enam partai. Dia berhasil mengumpulkan 23 kursi; Golkar 9 kursi, Nasdem 5 Kursi, PPP 4 kursi, Hanura 3 kursi, PKB 2 kursi dan PKS 2 kursi. Maju sebagai kandidat Gubernur Kalbar, Midji berpasangan dengan Ria Norsan, mantan Bupati Mempawah. Norsan adalah pentolan Partai Golkar.

(Sutarmidji dan Ria Norsan)

Sutarmidji (lahir di Pontianak, 29 November 1962; umur 55 tahun) adalah wali kota Pontianak dua periode (2008-2013 dan 2013-2018). Sebelumnya wakil wali kota Pontianak 2003-2008.

Rumah Sutarmidji di sudut Gang Waris, Jalan Tebu, Pontianak, Kalimantan Barat, mayoritas berbahan kayu belian dengan halaman yang luas.

Midji, panggilannya sejak kecil. Dunia politik sudah mendarah daging di keluarganya. Ayahnya aktif di Partai Masyumi. “Tapi, tamat SMA tahun 1981 saya memilih masuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP),” katanya, seperti diberitakan Tempo, 10 Maret 2018.

Pada 1997, Midji berhasil menjadi anggota DPRD Kota Pontianak, sekaligus pegawai negeri sipil. “Waktu itu hampir tidak ada PNS yang bisa jadi anggota Parpol. Kemudian karena reformasi, hanya menjabat selama dua tahun. Terpilih lagi di tahun 1999,” katanya.

Pada 2003, Midji dipinang untuk mendampingi Buchary A Rachman, untuk maju menjadi pasangan wali kota dan wakil wali kota Pontianak.

Pada 2008, saat pemilihan langsung pertama Midji maju sebagai calon wali kota, dan terpilih bersama pasangannya, Paryadi. Periode selanjutnya, Midji berpasangan dengan Edi Rusdi Kamtono pun berhasil memenangkan Pilkada, dan menjadi orang pertama di Kota Khatulistiwa untuk periode kedua.

Midji sejak muda sudah berani bersikap. Jika dulu, PNS harus bergabung dengan Golkar, Midji tetap memilih PPP. Tentu tak mudah, untuk hal ini Midji punya kenangan.

“Saat harus mengantongi izin dari Menteri, Pak Wardiman, izin keluar paling terakhir. Sehingga SKCK (dulu surat kelakuan baik, red) harus dibuat jam sebelas malam,” kisahnya. Hampir saja dia dicoret dari pendaftaran anggota. Namun nasib memihaknya. Midji bersyukur akan hal ini. Di Kalbar, mungkin dia yang pertama.

Terjun ke dunia politik, anak ke enam dari sembilan bersaudara ini, punya pesan buat istri dan keluarganya. “Kalau mau baca berita, harus kuat mental. Kalau kuat silahkan baca. Kalau tidak, mending jangan,” ujarnya.

Keluarganya pun menurut. Dia sendiri tak ambil pusing apa yang ditulis media. Klarifikasi pun diberikan jika memang diperlukan. “Saya yang paling tahu kan, kadang yang ditulis di media salah fatal pun saya biarkan. Saya tidak ingin menjatuhkan kredibilitas wartawan dan medianya. Biar saja,” katanya.

Kritik Ahok

Pada 2015, Sutarmidji sempat jadi sorotan media nasional lantaran kritiknya terhadap Gubernur DKI Jakarta saat itu, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Lewat akun Twitter-nya, Midji mengkritik pengelolaan anggaran Ahok.

Kehidupan pribadi Midji sebenarnya jarang tersorot media. Anak dan istrinya bukan tipe media darling. “Saya memang tidak sering menemani anak-anak ke mall, tapi di rumah saya total buat anak-anak,” ujarnya.

Pernikahannya dengan Lismaryani 24 tahun silam melahirkan tiga buah hati; Dytha Damayanti Pratiwi, Ayu Dwi Putri Sulistia dan  Muhammad Bayu, yang masih duduk di bangku SMP. Anak sulung dan tengah telah menyelesaikan pendidikan strata satu.

Anak pertamanya Dytha telah menyelesaikan bangku kuliah S1, sedangkan anak keduanya tengah duduk dibangku kuliah dan anak bungsunya M. Bayu saat ini masih duduk di bangku SMP. “Anak saya yang bungsu, waktu SD selalu saya mandikan. Sekarang, tiap sekolah dia selalu datang ke kamar minta doakan. Biar saya masih di kamar mandi, dia akan tunggu,” katanya. Ada nada bangga di sana.

Selama kepemimpinannya, Midji menekankan pada pelayanan publik dan transparansi anggaran. Terobosan di bidang pelayanan bahkan membuahkan berbagai penghargaan. Demi mempercepat pelayanan, Sutarmidji menerapkan pelayanan satu atap dalam mengurus perizinan. Jumlah perizinan pun dipangkas dari yang sebelumnya 99 jenis izin hingga menjadi hanya 14 jenis perizinan. “Perizinan tercepat di Pontianak. Perumahan itu paling cepat 14 hari, Pontianak satu jam saja,” katanya.

Ini yang akan dibawa dalam programnya sebagai gubernur Kalbar. Pemerintah harus cepat menjawab kebutuhan masyarakat. Transparansi juga dikedepankan dengan mempublikasikan APBD Kota Pontianak serta penggunaan dana Bantuan Sosial. “Saya pastikan kepada aparat penegak hukum, kalau Bansos bermasalah jangan periksa staff saya. Periksa saya, karena saya yang tandatangani dan tentukan besarannya,” ujarnya.

Maka, Midji memastikan stafnya kerja dengan nyaman dan tenang. Tapi kalau hibah, yang bertanggungjawab adalah penerima hibah. Pasalnya hibah sudah tercantum dalam anggaran. Lain halnya dengan Bansos. Dananya gelondongan. Dia ambil contoh, warga yang terkena musibah kebakaran, maka diberikan bantuan senilai rumah layak huni, sekitar Rp15 juta. Pengumuman penerima Bansos pun dilakukan di media massa dan website resmi pemerintahan.

“APBD juga dibedah terbuka. Melibatkan beberapa lembaga swadaya masyarakat dan Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura, sebagai pelaksana,” katanya. Sejak tahun 2011, Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Kota Pontianak selalu mendapat predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK. Pada tahun 2015, Kota Pontianak dianugerahi predikat pelayanan publik terbaik se-Indonesia oleh ORI.

Di bidang kesehatan, Midji menerapkan sistem rumah sakit tanpa kelas, di RSUD Kota Pontianak. Dia juga berniat memberlakukan hal sama di RSUD Dr Soedarso, yang dikelola pemerintah provinsi, jika terpilh sebagai gubernur. Rumah sakit ini melayani pengguna BPJS, dan layanan tergantung penyakit yang diderita.

“Rumah Sakit Kota Pontianak melayani 95 persen BPJS. Bisa saja orang yang kelas 3, tetapi menempati ruangan sendiri. Karena jenis penyakitnya mengharuskan dia sendiri,” katanya. Dari 95 persen pengguna BPJS yang dilayani BPJS, 70 persennya adalah warga dari Kabupaten Kubu Raya, yang belum punya rumah sakit. Hal ini menyebabkan, Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) Kota Pontianak meningkat pesat dari peringkat 125 di 2013 menjadi peringkat 43 pada 2013 dan peringkat 22 pada 2014. “Kocaknya, dokter dan perawat tak hanya melayani urusan pasien. Tapi juga mendamaikan pasien. Soalnya banyak yang bertengkar gara-gara satu tak mau pakai AC, satu mau,” ujarnya.

Midji sangat melek teknologi. Dia bahkan membuat inovasi untuk sistem informasi untuk harga sembako dan harga sayur mayur. Taman-taman dengan perpustakaan dan perpustakaan digital, serta aplikasi laporan berbasis aplikasi. Tahun 2018 ini, dia mendukung SPBU-SPBU di Kota Pontianak menggunakan e money. Transaksi cashless juga diujicoba di pasar-pasar tradisional.

Wajah Midji memang kerap serius. Tapi, beberapa orang di sekitarnya mengatakan dia suka bercanda. Dalam bahasa melayu membercandai orang lain, disebut juga dengan ‘menyakat’. Agaknya, menghilangkan ketegangan dengan ‘menyakat’ adalah salah satu resep Sutarmidji.

Sumber: TEMPO, Wikipedia, DLL