Rupiah Anjlok Tembus Rp 14.400/USD, Menko 'Serbabisa' Luhut Pasang Badan: Tak Ada Masalah, Penyebabnya Global


[PORTAL-ISLAM.ID] Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan bicara soal pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang melampaui level Rp14.400 per USD. Kondisi ini dinilainya tak perlu terlalu dipermasalahkan.

Untuk diketahui berdasarkan Yahoofinance, Kamis (28/6/2018), nolai tukar Rupiah pada pukul 17.00 WIB sudah menyentuh Rp14.385 per USD atau melemah 212 poin (1,5%). Rupiah pun sempat menyentuh level Rp14.422 per USD.


Menurut 'Menko Serbabisa' ini, Rupiah tertekan karena kondisi ekonomi global, baik perang dagang AS-China maupun kenaikan fed fund rate, suku bunga acuan Bank Sentral AS. Kondisi perekonomian domestik pun dinilai fundamental.

"Sekarang kan tekanan itu dari global. Mesti kita lihat tetap saja Rupiah ini depresiasinya tidak lebih rendah dibandingkan beberapa negara lain. Jadi enggak ada masalah," ujar Luhut di kantornya, Kamis (28/6/2018).

Luhut menyatakan, saat rapat dengan pengusaha muda di kantornya, tak ada pembahasan mengenai depresiasi (melemahnya) Rupiah. Di mana penguasaha dinilai tak meributkan pelemahan Rupiah.

"Enggak ada (pembahasan Rupiah melemah). Mereka happy-happy saja, masih tetap investasi. Mereka kan liat fundamental ekonomi Indonesia bagus," kata Luhut, seperti dilansir okezone.

Berdasar data dari Reuters, berbagai mata uang negara-negara lain memang mengalamai gejolak menghadapi dollar AS. Namun dengan pelemahan mencapai 0,37%, rupiah menjadi mata uang dengan depresiasi terdalam kedua di kawasan. Rupiah hanya lebih baik ketimbang rupee India yang mengalami penurunan paling parah.


Sementara itu, ekonom senior yang dulu sempat mendukung Jokowi, Faisal Basri menyebut nilai tukar rupiah mencapai titik terendah sepanjang sejarah.

"Secara tahunan, nilai tukar rupiah pada 2018 (Sampai 26 Juni 2018) mencapai titik terendah sepanjang sejarah," kata Faisal Basri melalui akun twitternya dengan melampirkan gambar chart kondisi Rupiah sejak masa krisis 1998 hingga saat ini.

Begitupun dengan ekonom yang lain, Didik J Rachbini menyebut pelemahan rupiah ini tak tertolong meskipun sudah ada intervensi dari pemerintah.

"Sudah ada intervensi tapi rupiah tetap lemah. Apa yang kita bayangkan beberapa minggu atau beberapa bulan ke depan?" ujar Didik J Rachbini melalui akun twitternya.