KEMENANGAN SANG 'MANTAN KADER'


Oleh: Hasmi Bakhtiar
(Alumni Al-Azhar, S2 Lille)

1. Sang mantan kader itu menjadi buah bibir di timur dan barat, yah sang mantan kader yang dikatakan teman seperjuangannya sekuler dan bandel namun dikatakan ekstremis islamis oleh musuh.

[video - Pidato Kemenangan Erdogan]

2. Gw punya catatan kecil dari kemenangan AKP dan Erdogan di Turky hari ini. Catatan ini gw tujukan buat para muharrik dakwah di Indonesia. Baik yang statusnya dianggep kader atau dianggep mantan kader.

3. Gw nulis catatan kecil ini karena gw ngerasa sebagai muharrik kita tidak asal bergerak. Semua ada aturan main dan manhaj yang jelas, baik dalam berdakwah maupun berpolitik. Apalagi kita bergerak membangun peradaban, bukan proyek kecil apalagi main2.

4. Di tengah kegembiraan kaum islamis Turky bahkan dunia hari ini atas kemenangan Erdogan dan AKP, nan di ujung sana ada tangis kesedihan. Bukan tangis dari CHP, tapi tangis dari islamis juga yaitu Qiyadah partai Sadeet.

5. Perlu kita ketahui, pasca partai Fadila dilarang di Turky pada tahun 2002 maka lahirlah dua partai yang diklaim banyak kalangan sebagai penerus pemikiran Erbakan yaitu partai Sadeet dan AKP. Walau AKP mengatakan mereka bukan partai Islam.

6. Partai Sadeet diisi oleh kader Erbakan yang memiliki pemikiran tradisional cenderung jumud, adapun AKP yang didirikan Erdogan diisi oleh kader progresif yang sejak era partai Rafah sudah dicurigai membawa misi2 terselubung yang membahayakan jamaah.

7. Bahkan Erdogan dan kawan2 yang berpikiran bahwa partai Rafah tidak akan maju jika terus mempertahankan ekslusifitas di hadapan rakyat Turky diisukan sebagai agen sekuler yang menyusup di dalam jamaah.

8. Perseteruan dua kubu terus berlanjut sampai akhirnya takdir memisahkan mereka. 2002 MK Turky memutuskan agar partai Fadila dibubarkan. Kedua kubu memilih jalan masing2, lahirlah Sadeet dan AKP.

9. Partai Sadeet mengklaim mereka adalah penerus sah dari dakwah Erbakan dan menganggap AKP sudah keluar dari khittah dakwah yang mereka junjung selama ini.

10. Adapun Erdogan dengan pendukungnya dari awal memang sudah menanggalkan embel-embel Islamis. Mereka lebih suka bicara solusi kemiskinan dan keamanan, mereka meyakini bahwa politik harus dihadapi dengan akal sehat bukan emosi tanpa nalar.

11. Ke mana arah AKP kita sudah tau. Mereka menajdi penguasa dan menguasai istana. Adapun Sadeet terus bergelut dengan perolehan suara yang semakin hari semakin rumit. Kader2 Tua Sadeet terus meyakinkan diri agar terus istiqomah walau ga tau istiqomah macam apa yang mereka maksud.

12. Di perjalanan politik mereka sering berbenturan dengan kader AKP. Kebencian mereka terhadap Erdogan dkk semakin menjadi ketika AKP berhasil naik panggung kekuasaan.

13. Yang pada awalnya perbedaan Sadeet dengan AKP hanya pada tingkat ijtihad politik makin hari makin naik, issue2 murahan mulai dibangun untuk menjatuhkan AKP di kalangan Islamis Turky.

14. Serangan yang paling gw ingat adalah serangan dari kader Sadeet terhadap istri Erdogan. Yang awalnya perdebatan menyangkut strategi politik mulai masuk ke ranah pribadi, bahakn sangat pribadi.

15. Zaman terus berjalan, laju AKP yang dianggap sekuler semakin susah dibendung. Puncaknya adalah pemilu hari ini. Jauh2 hari Sadeet sudah menyatakan siap "berperang" melawan calon dari AKP. Menurut Sadeet, Erdogan sudah terlalu jauh melenceng dari asholah dakwah.

16. Ternyata pasca referendum konstitusi jalan pemilu tidak semudah yang dibayangkan para Qiyadah Sadeet. Peta politik di lapangan ternyata sangat berbeda dengan rumus2 yang mereka pelajari. AKP mengulurkan tangan untuk berkoalisi namun ditepis Sadeet.

17. Beralasan "menjaga asholah dakwah" membuat Sadeet menolak uluran tangan AKP, namun akhirnya situasi lapangan memaksa Sadeet mencari pegangan, koalisi dengan CHP yang sekuler menjadi pilihan. Jika tidak maka terancam tidak lolos ke parlemen.

18. Tidak sampai di situ, Sadeet terus berusaha menggembosi suara AKP yaitu kaum Islamis dengan memajukan capres (TEMEL KARAMOLLAOĞLU, Ketum Sadeet). Namun apa kata, capres yang diajukan mendapat suara tidak sampai 1%, Sadeet sendiri hanya 1% lebih sedikit. Usaha menggembosi AKP dan Erdogan gagal total.


19. Yang pada awalnya adalah perbedaan ijtihad mulai menjadi perang yang menghalalkan segala cara. Bahkan Sadeet bersedia menjadi amunisi bagi CHP yang jelas2 adalah musuh utama kaum Islamis Turky.

20. Yang sampai sekarang gw ga bisa paham adalah alasan Qiyadah Sadeet berkoalisi dengan CHP demi menajga asholah dakwah. Entah logika mana yang mereka pakai selain logika kebencian dan dendam.

21. Pertanyaannya adalah: kenapa tragedi dakwah ini bisa terjadi? Padahal Qiyadah Sadeeet ini adalah muharrik dakwah yang mengaku sebagai kader tulen dari dakwah Erbakan. Apakah "mantan kader" lebih berbahaya dari musuh nyata seperti CHP?

22. Muharrik dakwah sekaligus politisi, mau ga mau harus memiliki dua bekal ini: Arro'yu dan Alwa'yu. Tanpa dua bekal ini maka medan politik akan menajdi medan fitnah bahkan untuk dakwah itu sendiri.

23. Arro'yu adalah manhaj. Ini bisa dipelajari dan relatif mudah. Qiyadah tua di partai Sadeet sudah paham dengan manhaj dakwah yang dibawa Erbakan walau banyak yang harus dikoreksi untuk skala Turky.

24. Bekal Arro'yu yang dimiliki Sadeet dan AKP tidaklah banyak berbeda, mereka satu guru pengajian satu teman liqo. Mereka adalah ikhwah yang dulu saling menyebut di dalam doa robithah.

25. Kunci perbedaan ini adalah di bekal yang kedua: Alwa'yu. Ini yang membedakan nasib dua partai ini. Alwa'yu adalah kelayakan dan kapasitas.

26. Kader Sadeet dan kader AKP sama2 memiliki bekal Arro'yu, tapi bekal Alwa'yu tidak datang ke semua orang. Bekal ini didapat dari kecerdasan berpikir dan pengalaman yang terus diasah. Walau Qiyadah Sadeet sudah berlumut di partai belum tentu mereka memiliki bekal ini.

27. Apalagi dari sejak didirikan Sadeet sudah menabuh genderang perang dengan "si mantan kader", di perjalanan pun mereka lebih sibuk menjegal AKP timbang rmncari dukungan publik.

28. Mereka lebih sibuk memproduksi issue2 muring tentang Erdogan bahkan sampai ke istri Erdogan dibanding memenangkan hati ummat. Kader Sadeet yang longsoran dari partai Fadila terus dibacakan mantra "ketaatan" dan "asholah dakwah" agar tidak pindah partai.

29. Namun di waktu yang sama terus dipertontonkan kegagalan demi kegagalan. Puncaknya sebelum pemilu kemaren, puluhan kader Sadeet mengundurkan diri dan pindah ke partai "sang mantan kader", AKP.

30. Yah senyaring-nyaringnya lagu "ketaatan" tentu kader Sadeet juga berpikir pasti ada ng salah dengan partai ini. Kegagalan demi kegagalan terus datang bahkan terakhir jatuh ke pelukan musuh bebuyutan, CHP.

31. Apalagi melihat partai dakwah dipakai Qiyadah untuk menghajar kawan sendiri walau dianggap sudah "mantan kader", padahal sang mantan kader itu didoakan dari timur hingga barat dunia Islam agar menang.

32. Nasib baik partai Sadeet masih lolos ke parlemen, walau di parlemen akan menjadi pesakitan karena harus tunduk pada pimpinan koalisi yaitu CHP yg memiliki suara mayoritas. Sialnya lagi mereka akan dipakai untuk menghajar koalisi pemerintah yg sejatinya adalah kawan seperjuangan.

[Ralat admin: Saadet tidak lolos karena tidak memperoleh 1 pun kursi. Perolehan suara 1,4% tapi tidak memperoleh kursi. AKP 293, CHP 146, HDP 67, MHP 50, IYI 44. Total kursi 600]


33. Inilah bahayanya jika bekal Alwa'yu ini hilang dari muharrik dakwah. Bekal Arro'yu yang sudah sangat ideal bisa tiada artinya, apalagi bisikan lawan bersambut dengan kesulitan yang sedang dirasa.

34. Walau nyanyian "ketaatan" terus diputar tapi kader akan bosan sendiri. Terbukti suara kader Sadeet justru banyak yang lari ke Erdogan. Akhirnya apa? Sadeet dibilang pengkhianat oleh CHP. Bah sudah dijadikan amunisi masih dibilang pengkhianat pulak.

35. Endingnya apa? Sadeet dicaci kawan koalisi juga Islam politik di Turky. Kenapa bisa terjadi? Karena kebencian terhadap AKP melebihi bekal Arro'yu yang akhirnya bekal Alwa'yu pun hilang.

36. Ini catatan kecil gw tentang tragedi dakwah di balik kemenangan AKP dan Erdogan hari ini. Ini gw sampaikan karena gw merasa semua belum terlambat, semua masih bisa kita rajut walau ada bekas yang mungkin susah hilang.

37. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi yang mengklaim dirinya kader ataupun yang diklaim sudah mantan kader. Tidak ada ending bagi kedzaliman kecuali kehinaan. Fa'tabiruu ya ikhwaan....salam.

(Dari twit @hasmi_bakhtiar 25 Juni 2018)