ISLAM ATLANTIS


[PORTAL-ISLAM.ID] Melihat kondisi Timur Tengah yang selalu perang dan menurut mereka penuh kegaduhan, sebagian Ulama di Benua Atlantis mendeklarasikan Islam Atlantis, yang mengangkat kearifan lokal Atlantis sebagai ciri khas yang berbeda dari tempat lain.

Tapi, salah satu negara di Atlantis, Republik Jumanji, merasa bahwa negaranya memilik keunggulan dari negara lain. Mereka menganggap Pemilu di negara selain Jumanji selalu kacau, sementara mereka sejak ribuan tahun lalu selalu demokratis dan damai dalam Pemilu. Alhasil, sebagian Ulama Jumanji mendeklarasikan Islam Jumanji yang berbeda dari Islam Atlantis yang lain.

Republik Jumanji terdiri atas beberapa provinsi. Setiap provinsi merepresentasikan satu suku. Setiap suku memiliki ciri khas masing-masing. Provinsi Wakonde contohnya mereka adalah masyarakat yang selalu bicara apa adanya, tetapi tetap damai. Sebagian Ulama Wakonde berpendapat, ini adalah kebaikan provinsi mereka yang khas, yang tidak ada di tempat lain. Maka sebagian Ulama Wakonde pun mendeklarasikan Islam Wakonde dengan kearifan lokal.

Kota Dropamor hanya sebuah kota kecil di Wakonde. Masyarakatnya selalu membanggakan bahwa masalah E KTP di Dropamor selalu aman dan tepat waktu. Berbeda sama kota lain di Wakonde, apalagi Jumanji yang lain. Maka, sebagian Ulama di Drupamor mendeklarasikan Islam Drupamor yang mengangkat citi khas Drupamor, yaitu semuanya memiliki E KTP. Beda dengan kota lain di Wakonde, Jumanji, apalagi di Atlantis.

Ternyaata, bukan hanya Islam Drupamor saja yg memiliki Islam dengan kearifan lokal, kota lain pun ada yang sebagian ulamanya mendeklarasikan Islam sesuai, yang menurut mereka, kearifan lokal. Sebagai contoh, adalah Kota Sugarosi di Provinsi Wakonde Utara. Yang kasihan adalah anak Mukidi, seorang PNS Pusat yang mutasi dari Sugarosi ke Drupamor. Di sekolah, dia harus mulai lagi belajar Islam Drupamor, karena sebelumnya Islam Sugarosi pun masih dapet merah di rapor.

Disclaimer:
Kisah ini hanya fiktif. Apabila ada kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanya kebetulan belaka.

(Luthfie Muradief)