FITNAH DAN GERAKAN #2019GANTIPRESIDEN


FITNAH DAN GERAKAN #2019GANTIPRESIDEN

By Mardani Ali Sera
(Inisiator Gerakan #2109GantiPresiden)

Bismillah wal hamduillah wa ba’du

Izin saya bicara tentang hakikat perjuangan dan hubungannya dengan Gerakan #2019GantiPresiden. Sejak awal kami memulakan perjalanan gerakan ini prinsip yang saya tuliskan adalah Beto (Beda Total) bukan Beti (Beda Tipis). Beti hanya menunjukkan kita bisa berkompromi dengan kezaliman atau kebatilan. Biasanya kita Beti kalau ada interlocking politic (politik saling mengunci).Sementara Beto bermakna kita meluruskan niat bahwa perjuangan ini semata-mata karena kita ingin ridho Allah Swt dan keutungan ukhrowi karena ini adalah perjuangan. Bukan proyek apalagi keuntungan duniawi.

Dan karena itu kami menyadari ini adalah gerakan sekaligus proses tarbiyah untuk kita semua yang terlibat. Tarbiyah untuk mendidik diri untuk lebih ikhlas lagi mengabdi hanya pada Allah Swt, lebih cerdas lagi menjalankan proses dengan pendekatan yang efektif dan mampu mengajak banyak pihak sadar bahwa gerakan ini ingin menyadarkan umat dan publik bahwa di tahun 2019 kita punya kesempatan memilih pemimpin yang lebih baik dan lebih mampu mendekatkan bangsa ini pada karakter 'baldatun thoyibatun wa rabbun ghafur'.

Dan syukur Alhamdulillah gerakan #2019GantiPresiden melaju dengan fantastis. Sejak dideklarasikan pada 6 Mei 2018 di Jakarta oleh para pejuang ikhlas, mujahid dan mujahidah para relawan, prestasinya terus memenuhi perbincangan publik. Sampai Majalah Tempo edisi 4 Juni 2018 menjadikannya sebagai Berita Utama yang dengan gamblang dipaparkan data betapa percakapan #2019GantiPresiden berkali lipat lebih banyak dibanding yang lainnya. Bahkan ide takjil, mudik hingga yang fenomenal lagu ciptaan Mas Alang #2019GantiPresiden dalam sehari sudah dilihat oleh 750 ribu viewers dan reach mencapai 4 jutaan di akun facebook.

Tentu pepatah 'kian tinggi pohon maka kian kuat angin bertiup' adalah sebuah keniscayaan. Bahkan sejak pertama kali gerakan ini dilontarkan saat masih dalam wacana di sebuah stasiun TV, seorang kawan FPI sudah mengingatkan sudah siapkah dikriminalisasi seperti Habib Rizieq? Saya tentu menyadari tentang fitnah, serangan dan black campaign yang bisa menerpa dengan gerakan ini. Namun sangat menyadari bahwa dibanding Imam Besar Habib Rizieq Shihab yang dilakukan gerakan ini tidak ada seperseribunya. Baik karena kualitas iman kita apalagi kapasitas ilmu dan keihsanan amal kita. Tapi kami semua menyadari ‘serangan’ itu akan datang.

Dan benarlah di awal Juni menyebar berita dari akun twitter @kakekdetektif dan belakangan diikuti akun @seword bahwa saya selingkuh dengan orang yang paling banyak kontribusinya bagi gerakan ini Mba Neno Warisman, semoga Allah Swt menjaga dan menguatkan Mba Neno dan keluarga terhadap fitnah ini.

Akun @kakekdetektif dan @seword (sudah sangat banyak dilaporkan selalu menyerang pejuang umat termasuk saat pilkada DKI kemarin) sudah jelas akun penyebar fitnah dan hoax kelas berat dan sangat merusak demokrasi. Tanpa mengindahkan kaidah jurnalistik dan memasang video mesum entah dari siapa, ditambah group whats app yang isinya membuat saya kasihan karena menghalalkan segala cara. Apatah lagi menuduh Mba Neno dengan sangat tidak berdasar. Semoga Allah Swt meninggikan derajat Mba Neno dan keluarga di dunia dan akhirat.

Saya tadinya diam saja. Karena sebesar apapun jika tidak ditanggapi tidak akan membawa hasil. Tapi saya salah karena terpancing wartawati Detikcom Elza yg menanyakan kasus ini. Saya katakan nggak usah ditanggapi berita hoax. Tapi Elza beri alasan bahwa ini perlu klarifikasi karena kian menyebar. Maka saya menjawab itu fitnah dan akunnya akan dilaporkan. Ini serangan panik pada gerakan #2019GantiPresiden.

Dan ternyata detikcom 'menggorengnya' dengan meminta komentar dari beberapa pihak. Yang sedihnya, tanpa klarifikasi atau mungkin juga tidak tahu dari mana sumber berita selingkuh itu datang. Mestinya jika tahu itu dari akun abal-abal dan penyebar fitnah dna hoax tanpa kaidah jurnalistik, komentarnya yang menuduh saya syahwat dll sangat memalukan dan menunjukkan kualitas dirinya. Ada beberapa berita yang nampaknya terus dikembangakn detikcom. Awalnya saya percaya dengan reputasi detikcom, tapi dengan kejadian ini saya menggolongkan detikcom juga bukan media berkarakter yang menjaga agar berita yang dimuat memenuhi kaidah jurnalistik. Saya tidak akan menyerukan boikot detikcom tapi penilaian saya pada detikcom berubah. Walau itu mungkin ulah dari satu dua wartawannya. Tapi sekali berita keluar maka itu menurut saya itu mencerminkan kualitas media bersangkutan.

Detikcom media kedua yang memuat berita dari saya dengan latar belakang selingkuh tanpa dasar sedikitpun. Sebelumnya kumparan ada berita sejenis. Tapi saya apresiasi kumparan.com karena saat saya klarifikasi ke Ferio (Wartawan Kumparan) langsung disampaikan itu opini pembaca dan bisa langsung dihapus oleh saya pada pojok kanan atas. Kumparan tidak akan memuat berita tidak berdasar dan bertentangan dengan kaidah jurnalistik. Dan saya langsung katakan bahagia berhubungan selalu dengan Kumparan. Untuk kasus saya kumparan bekerja tidak seperti detikcom. Lebih baik dan lebih elegan.

Sekarang saya akan menjawab, walau sebetulnya tidak perlu karena ini dasarnya fitnah dan hoax. Selingkuhkan saya dengan Mba Neno. Wallahi Demi Allah setitikpun tidak ada pikiran seperti itu. Bukan karena istri saya dan Mba Neno kawan yang selalu bertemu dalam beberapa acara tapi karena memang kita bersyukur pada Allah Swt setiap acara dalam gerakan ini selalu menjaga adab dan akhlaqul karimah. Tidak pernah berdua, selalu dijaga hubungan lelaki dan perempuan dan sering kita malah mengajak keluarga dalam acara kita.

Gerakan ini selalu menggaungkan luruskan niat. Saat pertama kali kami berkumpul ditegaskan bahwa gerakan #2019GantiPresiden ini adalah usaha kita untuk taqarrub ilallah, mendekatkan diri pada Allah Swt. Kita selalu saling mengingatkan bahwa tujuannya bukan kita ingin jabatan, ingin posisi tapi semata-mata agar umat dan publik sadar bahwa memilih pemimpin itu mesti hati-hati dan ditimbang dengan masak. Karena jatuh bangunnya negeri banyak bergantung pada integritas dan kapasitas pemimpinnya.

Terakhir, bagi kami fitnah ini tidak akan menghentikan semangat dan kerja kita malah kian menyolidkan kita bahwa ujian itu membuat kita kian mawas diri dan perlu lebih keras lagi mendekat dan memohon perlidungan pada Allah Swt. Dan tidaklah fitnah itu merendahkan kita karena kita tidak akan rendah jika kita dekat dan kian dekat dengan Allah Swt.

Karena itu saya menyerukan pada diri saya dan semua relawan terus bekerja, terus sadarkan umat dan publik bahwa negeri ini perlu pemimpin yang lebih baik. Dan gerakan #2019GantiPresiden merupakan salah satu ikhtiarnya.

Masjid At Tin, 23 Ramadhan 1438H

NB: dua akun abal-abal itu dilaporkan hari ini pada penegak hukum.