[Catatan] Raja Kerap Blunder, Istana Dalam Bahaya


[PORTAL-ISLAM.ID]  Seperti Ahok, main gusur rakyat kecil, nista agama, dan bagi-bagi sembako saat kampanye Pilgub. Blunder. Inilah faktor utama Ahok kalah.

Begitu juga dengan Jokowi. Entah sudah berapa banyak blundernya. Ada dua katagori. Pertama, blunder terpaksa. Ekonomi sulit, negara keberatan bayar hutang. Terpaksa, subsidi dicabutin. BBM, TDL, pupuk, jalan tol, dll. Hari ini jalan tol JORR naik. Dari 9.500 jadi 15 000. Lebih dari 50%. Entah sudah berapa kali dinaikkan. Sepi, senyap, tak banyak berita. Apalagi demo. Keadaan darurat. Jokowi tak ingin. Tapi, jika tak dilakukan, ekonomi Indonesia bisa collapse. Rakyat menjerit? Itu soal lain. Konsekuensi kenaikan harga.

Kedua, blunder pilihan. Tak perlu ada. Tapi, seringkali terjadi. Kadang, tak terkendali oleh istana. Tepatnya, istana diam dan membiarkan. Seolah punya pasukan hore. Dapat dukungan psikologis. Tapi, itu justru jadi sumber blunder.

Nyorakin Anies di pesta pernikahan putri istana di Solo. Walk out di Kanisius. Cegah ulama ceramah di berbagai wilayah dan instansi. Intervensi reklamasi. Hadang Anies di GBK. Daftar 200 penceramah yang dianggap sah. Pasang spanduk di tol. Viral video lempar-lempar sesuatu dari mobil kepada rakyat miskin. Aksi “huuu” di istana Bogor. Terkini, pilih Komjen Iriawan jadi Plt Gubernur Jabar. Itu semua blunder. Kurang dikalkulasi dampak politiknya.

Hal itu bisa dicegah jika Istana buat statement. Minta maaf, dan imbau kepada para pendukung untuk bersikap lebih sopan. Saling menghargai meski beda pilihan politik. Mungkinkah?

Statement itu tak pernah muncul. Sorak sorai dan penghadangan itu dibiarkan istana. Seolah dapat legitimasi. Berpotensi terulang lagi. Dan, blunder akan terjadi lagi. Entah di mana dan dalam moment apa. Sebab, para pendukung merasa dapat dukungan. Tak perlu merasa bersalah.

Jika ini dibiarkan dan terus terjadi, maka tak menutup kemungkinan istana akan dapat julukan “Raja Blunder”. Sangat tak menguntungkan buat Istana dalam menghadapi pilpres 2019.

Apalagi, jika pihak oposisi cerdas menggunakan kelemahan Istana ini. Pancing agar Istana terus melakukan blunder. Caranya sederhana. Munculkan calon yang tepat. Paramaternya? Pertama, tokoh itu tidak disukai atau “dibenci” Istana. Kedua, tokoh itu berpotensi membuat panik Istana.

Kedua kriteria ini akan memancing Istana dan struktur pendukungnya untuk memproduksi blunder lebih banyak. Dengan otomatis, elelektabilitas Istana akan ter-downgrade. Dengan catatan, tokoh yang dicalonkan tidak suka buat blunder. Tidak juga tersandera. Alias clean and clear. Tak punya kasus korupsi.

Anies Baswedan punya kriteria itu. Kemenangannya di Pilgub DKI membekas luka di hati pendukung Ahok dan Jokowi. Tak sembuh-sembuh. Ekspektasi tak tercapai. Tak hanya kecewa, tapi terluka. Isu SARA dituduhkan. Makin sakit, tak terima dan menambah luka itu. Sulit menerima kemenangan Anies. Jaya Suprana bilang: kesalahan Anies adalah karena menang. Coba kalau kalah. Anies tidak dianggap salah.

Track record Anies soal kerja, integritas dan kemampuan bicaranya dianggap banyak pihak melampui Jokowi. Tak imbang. Kepanikan diprediksi akan terjadi. Orang yang panik (takut), kalau menggunakan teori tinju, pukulan akan terasa lebih keras. Dua faktor ini akan memancing blunder.

Di sisi lain, Anies clean. Tak tersentuh kasus korupsi. Ada pihak yang cari-cari. Tak ketemu. Anies kabarnya tipe orang yang gak bisa dinego. Tak juga ada kasus untuk menyandera.

Sikapnya cool, rapi, dan bicaranya sistematis. Tak mudah buat blunder. Cukup sulit bagi pendukung Istana memukul Anies. Kecuali menyoal etnis Anies. Keturunan Arab. Tapi gak terlalu nendang. Sebab, Arab diakui sebagai pribumi. Apalagi, kakek Anies, A.R. Baswedan dianggap pahlawan. Punya jasa besar terhadap kemerdekaan Indonesia.

Anies mantan jubir Jokowi? Anies diberhentikan dari jabatan menteri? Tak terlalu berpengaruh. Tak banyak efek. Sebaliknya, itu justru jadi pukulan balik ke Istana. Sebab, data survei ditemukan, Anies masuk kategori tiga menteri terbaik.

Karena itu, Istana perlu kerja keras untuk cari titik lemah Anies, jika ingin membidiknya. Pukul di tempat yang lemah, jangan di tempat yang kuat. Di sinilah Istana seringkali tak pandai memilih dan membedakan. Pukulannya masih sering serampangan. Tak terarah. Justru membuat “double covernya” terbuka dan pertahanannya rapuh. Mudah dipukul balik. Itulah “blunder”.

Apakah Istana akan membiarkan Anies dicalonkan? Ini persoalan tersendiri. Mendorong Prabowo sebagai lawan di pilpres, atau menjadikan Jusuf Kalla sebagai cawapres Jokowi adalah cara efektif untuk menghentikan langkah Anies. Inilah cara paling cerdas yang pernah dimiliki Istana. Dengan salah satu dari dua tokoh ini maju, langkah Anies nyapres akan berhenti.

Jika ingin kalahkan Jokowi, Anies bisa jadi alternatif buat parpol oposisi. PKS dan PAN kabarnya menginginkan Anies sebagai capres. Gerindra dan Demokrat?

Parpol oposisi mesti meyakinkan Anies, bahwa Anies dibutuhkan. Anies adalah solusi dari kebuntuan koalisi. Anies adalah kendaraan rakyat yang ingin ganti presiden di 2019. Apalagi, sejumlah ulama dari berbagai ormas Islam sudah mendorong dan mendeklarasikan Anies for RI 1.

Jika Anies mau, maka peluang kemenangan bagi kelompok oposisi akan besar. Apakah Gerindra, PKS, PAN, PBB, dan Demokrat bersungguh-sungguh akan mengakhiri kekuasaan “Si Raja Blunder”? Kita tunggu manuvernya.

Siapa yang akan didorong maju untuk berhadapan dengan Jokowi? Jika yang diajukan adalah tokoh yang kuat seperti Anies misalnya, maka langkah koalisi oposisi punya harapan. Tapi, jika yang didorong adalah tokoh yang lemah, tak layak branding, maka akan dapat menjadi petaka bagi koalisi oposisi untuk lima tahun ke depan. "Si Raja Blunder" akan berkuasa lagi.

Penulis: Tony Rosyid