TERUNGKAP!!! 11 Kejanggalan Kasus Intimidasi CFD


[PORTAL-ISLAM.ID] Di balik ramai-ramai kasus intimidasi di car free day (CFD), Bundaran HI, Jakarta Pusat, pada Minggu (29/4). Pegiat Media Sosial, Mustofa Nahrawardaya memiliki analisa dan pandangan yang unik terhadap kasus tersebut.

Mustofa atau @NetizenTofa membeberkan setidaknya ada 11 kejanggalan yang menyelimuti insiden massa #2019GantiPresiden dan pendukung Jokowi #DiaSibukKerja saat itu.

Pertama, baik pelaku, korban maupun para provokator dan orang yang mengaku polisi di lokasi kejadian menggunakan gelang yang hampir sama.


Kedua, kaus #DiaSibukKerja yang dipakai massa saat itu memiliki rupa yang seragam, dari segi warna, ukuran, hingga desainnya. Sehingga anak-anak yang memakai kaus itu, terlihat kedodoran.

Ketiga, Mustofa tidak melihat ada yang menjual kaus #DiaSibukKerja di area CFD. Hal ini berbanding terbalik dengan kaus #2019GantiPresiden yang banyak dijual bebas di kawasan CFD.

Keempat, sebenarnya polisi telah mengimbau agar massa #DiaSibukKerja tidak melewati Bunderan HI dan tetap di kawasan Patung Kuda. Namun, ternyata massa melewati Bundaran HI dan sebagian menerobos ke massa #2019GantiPresiden.

Kelima, yang membuatnya aneh adalah ada beberapa orang yang mengaku sebagai polisi tetapi mengenakan gelang yang mirip dengan pelaku, korban, dan provokator intimidasi.


Keenam, beberapa hari sebelum aksi, ada orang yang mengaku sebagai koordinator #2019GantiPresiden, untuk menggalang aksi di CFD. Padahal, orang itu tidak dikenal di komunitas #2019GantiPresiden.

Ketujuh, Koordinator misterius ini, kemudian mengajukan izin aksi ke polisi dan ditolak. Kemudian, koordinator aneh ini mengumumkan pembatalan aksi secara sepihak.

"Aneh, sudah rahasia umum, orang ke CFD kan tanpa izin. Demo sekalipun, juga tanpa izin. Ini kok mengajukan izin. Mungkin ada yang memerintah koordinator misterius tersebut agar membatalkan aksi, dengan harapan massa aksi tagar #2019GantiPresiden yang terlanjur percaya sama koordinator, membatalkan juga kehadirannya ke HI," kata Mustofa.

Kedelapan, ada juga orang mengaku Koordinator Nasional #2019GantiPresiden bernama Effendi Saman, namun ketika ditanya ke inisiator tagar #2019GantiPresiden yakni Mardani Ali Sera dan Neno Warisman, ternyata hal itu tidak benar.

"Beliau (Mardani dan Neno) tidak pernah mengangkat, menyuruh, atau memberi tugas kepada siapa pun, termasuk Effendi Saman, untuk pendelegasian sebagai Kornas #2019GantiPresiden," ucap nya.

Kesembilan, dua massa ini sama-sama mengaku tidak dikoordinir, tapi peserta berkaus #DiaSibukKerja bisa hadir dan mendapat kaus seragam dan ada perempuan-perempuan berkaus #DiaSibukKerja mengedrop makanan kotakan tak terhitung jumlahnya.

Kesepuluh, ada orang mengibas-ngibaskan uang, lalu ada orang berkaus #2019GantiPresiden membeli paksa kaus yang dikenakan pihak lain, lalu ada yang mengejek dengan kata-kata tertentu.

"Jika semua itu dianggap kejahatan, anehnya, tak ada satupun polisi menangkap mereka. Ada juga orang yang merampas spanduk, juga tidak ditangkap. Padahal banyak sekali polisi di lokasi," bebernya.


Terakhir, yang kesebelas, dan paling mencengangkan, Susi berteriak sangat dramatis, dengan mengucapkan 'Muslim apa kalian?'. Menurut Mustofa, hal itu sangat janggal karena Susi secara spontan berteriak seperti itu.

"Bagaimana dia bisa spontan menganggap pelakunya Muslim? Termasuk ucapan 'Kita tidak takut!'  dan seterusnya, itu mirip gaya sinetron. Menurut saya, perlu latihan lama untuk bisa meneriakkan ucapkan semacam di video yang beredar. Ucapan Bu Susi benar-benar mirip artis," pungkasnya.

[video]


Sumber: Kumparan