Tagar #2019GantiPresiden Yang Menakutkan

(foto: JPPN)

Tagar #2019GantiPresiden Yang Menakutkan

Tak terasa dua bulan sudah tagar #2019GantiPresiden dipopulerkan. Tak ada launching resmi, semuanya mengalir begitu saja. Bermula dari jawaban-jawaban lugas dan tegas Mardani Ali Sera, politisi PKS, di acara ILC tvOne. Hadir sebagai nara sumber mewakili partainya pada dua episode ILC berturut-turut, Mardani tegas menyatakan partainya ingin mengganti kepemimpinan nasional. Dia yakin, petahana saat ini sangat mungkin dikalahkan. Keyakinannya bukan tanpa alasan, sebab hampir semua lembaga survey yang melakukan sigi atas elektabilitas petahana, hasilnya selalu di bawah 50%. Berdasarkan pengalamannya menangani Pilkada di berbagai daerah, petahana yang elektabilitasnya masih di bawah 50% sangat bisa dikalahkan.

Sejak itu, muncul poster bergambar sosok Mardani Ali Sera dengan tulisan "Jokowi Bisa Dikalahkan". Poster itu viral di media sosial dan grup-grup WhatsApp.

Pasca viralnya poster tersebut, Mardani kemudian mempopulerkan hastag #2019GantiPresiden yang dimaksudkan bahwa pada ajang pemilihan presiden tahun 2019 nanti, kita akan mengganti presiden petahana dengan yang baru. Artinya tidak memilih lagi petahana.

Tak butuh waktu lama, hastag tersebut menguasai media sosial, baik di twitter, facebook maupun instagram.

Tidak perlu menunggu lama pula, hastag di dunia maya itupun berubah menjadi gerakan di dunia nyata. Hastag #2019GantiPresiden dibumikan dalam bentuk atribut dan merchandise. Kaos, topi, gelang, pin dan mug, adalah yang pertama yang dipopulerkan.

Industri rumahan jadi hidup, produksi pernak-pernik bertagar ganti presiden laris manis dipesan. Bahkan hampir semua online shop besar menyediakan penjualan aneka merchandise tersebut. Luar biasa dampak ekonominya.

Tidak hanya itu, masyarakat yang excited menyambut gerakan #2019GantiPresiden, mereka antusias bergabung dalam grup WhatsApp. Hanya dalam tempo 3 hari sudah terbentuk puluhan grup WA yang masing-masing anggotanya ratusan. Banyak diantaranya kaum ibu, meski bapak-bapak juga tak kalah banyak.

Kreativitas masyarakat mensosialisasikan gerakan ini juga patut diacungi jempol. Bukti bahwa gerakan ini benar-benar lahir dari rakyat dan tidak diperintahkan otoritas elite partai politik adalah uniknya beragam cara masyarakat mengajak orang lain atau minimal mensosialisasikan gerakan ini.
Ada yang menuliskan tagar #2019GantiPresiden pada karangan bunga papan di sebuah pesta pernikahan. Ada juga yang menyisipkan pesan bertagar itu dalam kolom komentar atas pelayanan driver transportasi online. Bahkan terakhir, yang jadi ramai, ada yang kreatif menuliskannya di kolom 'berita' pada saat mentransfer uang melalui ATM, sehingga tanpillah tagar #2019GantiPresiden pada struk ATM.

Yang lucu lagi, diluar perkiraan, para pemilik/pengelola konter-konter HP diberbagai kota turut mempopulerkan hastag itu lewat selebaran yang mereka bagikan kepada pelanggan maupun ditempel di depan konter.

Kekesalan mereka akibat kebijakan registrasi kartu prabayar yang sangat merepotkan pelanggan sekaligus membuat pihak konter seringkali terpaksa menerima keluhan dan kekesalan pelanggan, membuat mereka kemudian menuliskan bahwa itu adalah produk kebijakan dari menteri nya Jokowi. Di bagian akhir mereka tak lupa mencantumkan tagar #2019GantiPresiden.

Ini sungguh diluar dugaan, karena pihak konter yang steril dari kepentingan politik pun merasa perlu untuk mengajak masyarakat agar tahun depan menyudahi saja kepemimpinan negara yang sekarang.
Siapakah yang menggerakkan para pemilik konter HP untuk ikut mensosialisasikan hastag itu? Tidak ada! Spontanitas rakyat, yang merasa gerah dengan berbagai kebijakan yang dianggap hanya merepotkan mereka.

Inilah cara rakyat mengartikulasikan kehendak mereka. Tidak bisa dibendung, bak bola salju gerakan #2019GantiPresiden terus menggelinding dan makin membesar.

Bukan lagi sebatas tagar di dunia maya, kini tagar itu sudah mewujud dalam berbagai lini kehidupan riil di tengah masyarakat.

Sungguh brilian ide untuk membuat hastag tersebut, apalagi kemudian membumikannya menjadi sebuah gerakan nyata.

Masyarakat yang semula hanya ngedumel dalam hati, seakan memiliki saluran untuk mencurahkan isi hatinya. Apa yang selama ini mungkin hanya mengendap di benak masyarakat, kini bisa diartikulasikan lewat beragam cara berkat maraknya gerakan tersebut.

Kian banyak rakyat yang terlibat, makin populer hastag itu, bertambah besarnya dampak gerakan #2019GantiPresiden, inilah yang membuat beberapa pihak tidak suka.

Melarang gerakan ini jelas tidak mungkin, karena konstitusional, sesuai periodisasi Pilpres.
Pilihannya hanyalah MEREDAM agar gerakan ini tak makin membesar.

Bagaimana meredamnya? Ya dengan cara menggembosi gerakan itu. Mencoba memburukkan citra gerakan tersebut di tengah masyarakat. Agar simpati publik berkurang.

Itulah yang terjadi saat moment CFD di Jakarta pekan lalu. Terlalu banyak kejanggalan dan kebetulan untuk menyebut peristiwa itu murni kejadian biasa tanpa rekayasa. Waktu kelak yang akan membuktikannya.

Hari ini, Ahad (6/5/2018), gerakan #2019GantiPresiden akan mendeklarasikan relawan gerakan ini. Satu langkah lagi lebih maju dan lebih nyata. Karena relawan inilah yang kelak akan mengawal proses pemilihan presiden, agar terhindar dari kemungkinan kecurangan, upaya intimidasi pada pemilih di TPS, dll.

Pilgub DKI membuat mata masyarakat di seantero penjuru Nusantara jadi terbuka. Peristiwa intimidasi di TPS ala Iwan Bopeng, aksi bagi-bagi paket sembako yang "ugal-ugalan", munculnya pemilih dadakan yang hanya bermodal KTP semata padahal wajah si pemilih dadakan sama sekali tak dikenal warga sekitar, membuat masyarakat jadi lebih waspada.

Siaga mengawal proses pemilu presiden untuk mengantisipasi hal-hal semacam itu.

Pengalaman membuktikan, pengawalan ketat di TPS membuat aksi koboi ala Iwan Bopeng tak lagi terjadi. Begitupun aksi pengerahan pemilih dadakan bisa di-stop. Kecurangan hasil perhitungan suara di TPS pun bisa diminimalisir.

Itulah mengapa gerakan #2019GantiPresiden menjadi sesuatu yang sangat MENAKUTKAN.

👉 Menakutkan karena melibatkan jutaan rakyat di berbagai daerah.
👉 Menakutkan karena tak ada penyandang dana tunggal atau kelompok atau korporasi. Aksi ini dibiayai sendiri oleh masyarakat yang tertarik mendukung.
👉 Menakutkan karena tak ada "komandan" yang mengendalikan instruksi dari atas.
Dengan demikian tak ada 'pentolan' yang bisa dikriminalisasi.
👉 Menakutkan karena semua adalah cermin dari suara hati masyarakat, yang diekspresikan lewat kreativitas ide masing-masing, yang lucu, sederhana, unik, menarik sekaligus murah meriah.
👉 Menakutkan karena gerakan ini sudah merasuk ke semua sisi kehidupan.

Karena itu, berhati-hatilah wahai para relawan gerakan #2019GantiPresiden. Jangan biarkan ada penyusup yang hendak menggembosi gerakan ini. Cukup peristiwa di CFD Jakarta pekan lalu jadi pelajaran.

Maksimalkan semua panca indera untuk mewaspadai segala hal di sekitar kalian. Waspadai setiap hal yang terasa tidak wajar.

Percayalah, makin tinggi pohon, akan makin besar pula terpaan anginnya.

Mari terus kawal gerakan ini agar tak ada celah untuk disusupi.

Selamat mendeklarasikan eksistensi kalian, wahai para relawan.

Kita sambut fajar menyingsing tahun 2019 nanti dengan optimisme bahwa gerakan rakyat ini akan mampu membawa perubahan dalam sejarah bangsa yang besar ini.

Semua karena kita cinta tanah air, Indonesia raya tercinta!

(by Iramawati Oemar)

*Sumber: fb penulis