"Millennials and The Candidate Behind The Invisible Ghost Hands" by Zeng Wei Jian


[PORTAL-ISLAM.ID]  Koran The Atlantic menyebut millennial sebagai generasi paling narsis. The New York Post menyerukan supaya millennial, “put away the juice boxes and grow up.”

Sama seperti Gen X-ers dan baby-boomer, anak-anak millennials terbagi dua grouping, smart dan stupid millenials.

Millenial identik dengan gadget dan internet. Mereka kreatif, anti prosedur, green, dan resah akan masa depan. Di tangan mereka, kritis dan ngeyel+nyinyir sulit dibedakan.

Apolitis is stupid millennial. Mereka mudah ditipu kandidat bersenjata gadget. Modal ngetwit dan nyetatus sampah plus nge-vlog dan instagram.

Millennial jangan mau dipimpin oleh orang tengik dan seusia. Sadari, you are not alone. Jangan adopsi stereotype "Me Me Me Generation", terminologi yang diciptakan Joel Stein.

The most stupid ones adalah mereka yang ngga sensitif pada korupsi. No moral, no ethic and no brain.

Millennial macam ini ndak bisa mikir. Sama sekali tidak kritis dan tertipu gimmick polesan pencitraan politikus Gen X-ers. Prosedural old schoolers. Millennial mental flintstone.

Misalnya, fenomena kandidat calon gubernur, walikota dan bupati yang disebut-sebut makan duit fee proyek gede. Tapi lolos dari jerat KPK.

Smart millennials mesti kritis mencari tau sebabnya. Stupid millennial pro calon problematik. Kena tipu gimmick dan permainan pecitraan yang dimainkan tim media si calon. Mereka manut dengan narasi "itu fitnah".

Padahal, Indonesia masih berpenyakit "politik mengalahkan hukum". Bisa jadi kan, dia dilindungi invisible ghost hands.

Millennial Indonesia hendaknya tidak males. Apalagi sampe males mikir. Maunya simple-simple aja. In politic, skema korupsi pasti njelimet. Jangan seperti millennial Amerika. Harian New York Times mengatakan, "millennials are so lazy they’ve stopped eating cereal because they can’t be bothered to wash the bowl when they’re done".

Ayo millennial, tumbangkan kandidat bermasalah. Ciptakan perubahan. Melek politik is a must.

Penulis: Zeng Wei Jian
Aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi