Memperlakukan Kaos Saja Tak Adil, Bagaimana Memperlakukan Rakyat?


[PORTAL-ISLAM.ID] Dibalik konsep keadilan yang kita pahami, disana seharusnya terletak gagasan keseimbangan bukan dengan bertindak penuh ketimpangan.

Landasan keadilan adalah itikad baik, itu kata Cicero, sederhananya bagaimana dapat beritikad baik bila tidak berlaku adil.

Di depan mata, mempertontonkan ketidak-seimbangan itu sungguh menyedihkan, karena dianggapnya rakyat terus-terusan bungkam, diam dan seolah tak paham.

Tapi jangan salah, bertindak tak adil ini adalah cerminan, cerminan dari ketakutan, terlebih bila dilakukan oleh kaki tangan sang tuan pemegang kekuasaan.

Kita maklumi, bila ketakutan menghantui para tuan pemegang tirani, padahal harusnya sadar diri, introspeksi dan kinerja diperbaiki, ini malah rakyat balik ditakut-takuti. Asli, nggilani!

Seharusnya pahamilah, kaus adalah tanda cinta, tanda rindu. Tanda cinta dan rindu pada baiknya situasi, pada baiknya keadaan negeri. Saat itu tak dipahami, ya wajar bertindak kagetan dan mengelabui.

Pengguna kaus yang 'ingin ganti' disweepingi, sementara pengguna kaus yang 'ingin tetap' dibiarkan senam pagi. Tak ada rumus keadilan seperti ini. Padahal keduanya punya kedudukan sama, yakni, para penyokong aspirasi!

Memperlakukan Kaus saja tak adil, bagaimana memperlakukan rakyat. Bagaimana rakyat mau cinta dua kali? Ya, cukup sekali saja, mari tahun depan kita sudahi.

(Oleh Kawendra Lukistian)

Sumber: fb penulis

[video ini lebih jelas]