Membaca Arah Acakan Radar Politik 212


[PORTAL-ISLAM.ID]  Anies Baswedan muncul namanya. Masuk tiga besar survei. Eskalasi elektabilitas mulai dinamis. Kabarnya, datang dua jenderal ke orang dekat Anies. Bujuk dan rayu, agar Anies tak ducalonkan. Ketakutan niye…

AHY muncul. Masuk lima besar dalam survei. Signifikan suaranya terutama di survei elektabilitas cawapres. Anak muda ganteng dan potensial ini terus dapat surplus simpati anak-anak gaul. Generasi milenial. Century muncul. Mulai diobok-obok lagi. Apa hubungannya? Gelap deh.

TGB keliling Jawa-Sumatra. Ceramah pengajian dan seminar. Sambil sesekali disisipin pesan “aku mau calon presiden”. Bisik-bisik dan sangat pelan. Takut didengar tetangga. Kabar muncul, TGB mau diperiksa KPK. Kok bisa? Apa dosamu Tuan Guru? Karena nyapres? Gak tau deh.

Muhaimin gencar branding cawapres. Lancar dan mulus. Mulai berani nyeberang. Gelombang “kardus duren” mulai pasang.

Tidak hanya politisi. Radar ulama juga terpantau. Gelombang frekuensinya selalu “on” dan terekam. Ada gelombang 200. Sering memutar lagu merdu dan sahdu. Suara penyiarnya pun micro voice. Senang melantunkan puisi puja-puji. Enak di telinga jika mendengar. Cocok untuk pengantar tidur. Cocok pula untuk meringankan beban saat sedang sakaratul maut.

Sementara, gelombang yang lain sering menyajikan lagu-lagu rock. Musik-musik cadas. Terlalu keras untuk didengarkan telinga. Bikin pendengar gak bisa tidur. Ngantuk pun terganggu. Kalau gak suka, ya gak usah didenger. Kata hostnya. Jangan ijin dicabut dan sinyal dirusak. Mau melawan dia. Hati-hati. Jaga mulut, supaya gak kena delik aduan. Soal hati, biarlah tugas Aa’ Gym yang menjaganya.

Siapapun yang sinyalnya menguat, semua acaranya akan dipantau. Direkam, siapa tahu bisa jadi alat bukti. Cctv dan alat perekam sudah dipasang. Peluru juga sudah ditempatkan, siap ditembakkan. Peluru siapa? Peluru mereka yang punya kebijakan. Kebijakan? Dimana bijaknya? Punya perintah. Itu kata yang lebih pas.

Sadar situasi itu, PA 212 acak sinyal. Munculkan nama-nama. Capres-cawapres dikocok. Yang masuk maupun tak masuk survei dimunculkan. Soal urutan? Bukan standar. Yang penting sinyal terganggu dulu. Pantauan tak akurat. Analisis dikacaukan. Meski umat juga ikut bingung. Perlu tanya sana-sini. Klarifikasi dan tabayun. Sebenarnya bagaimana? Akhirnya satu persatu ngerti juga.

Ada nama Habib Rizieq jadi capres. Urutan pertama lagi. Kalau ia ditanya, pasti tersenyum. Tak ada beban. Datar dan dingin jawabannya.

Akhirnya, demo 212 ternyata jadi kendaraan politik ya? Rupanya punya nafsu juga? Itu kesimpulan orang yang tidak berbasis data, kata PA 212. Gak paham situasi sidang, dan gak kenal baik dengan Habib Rizieq. Gak kenal, maka gak paham.

Habib, oleh sejumlah orang dianggap manusia setengah dewa. Itu perumpamaan saja. Gak usah sewot. Tahan, jangan buru-buru berkomentar. Kok bisa? Di saat banyak orang mengorbankan, bahkan menjual imannya untuk sebuah kepentingan, Habib Rizieq mengorbankan kepentingan, bahkan keamanan hidupnya, untuk sebuah kebenaran yang diyakininya. Ini soal integritas, kata mereka yang “ngefans” Habib Rizieq. Sorban kepala boleh sama besar, tapi kualitas iman bisa beda. Satu di Makkah, satunya lagi di istana. Seloroh orang-orang di medsos.

Jangan tanya dari partai apa? Pertanyaan anda menunjukkan anda sudah terjebak sinyal yang diacak. Itu artinya, PA 212 telah berhasil mengacak sinyal. Termasuk sinyal di kepala anda.

Ada Bachtiar Nasir. Diusulkan namanya jadi salah satu cawapres, tanpa kordinasi dan konfirmasi. Begitulah cara ulama memberi amanah. Tetap mengutamakan faktor keikhlasan. Tanpa pesanan, dan tak ada negosiasi. Makin bingung anda? Tak perlu klarifikasi. Akan tambah bingung.

Kok ada Eggi Sujana? Tukang demo. Tokoh kontroversial. Padahal, namanya tak muncul di survei. Anda akan berhenti bertanya kalau anda sadar ternyata sinyal lagi gak bagus.

Anies Baswedan, masuk tiga besar dalam lembaga survei. Kok ditaruh di cawapres? Paling bontot lagi. Anies gak mungkin jadi cawapres. Tak proporsional. Itu strategi jitu. Kalau ditaruh di capres urutan pertama, akan banyak serangan. Jadi sasaran tembak. Kok umat nafsu banget terhadap kekuasaan? Belum ada setahun jadi Gubernur DKI, jagoannya sudah dicalonkan RI 1? Kalau mampu dan bisa selamatkan bangsa ini, kenapa anda risau?

Anies perlu disimpan, dan hanya dikeluarkan saat yang tepat. Kalau diprediksi tak lagi ada yang bisa ganti presiden, jagoan ini akan dikeluarkan. Begitulah kira-kira analisis cerdasnya. Paham?

Inilah kecerdasan PA 212. Kemampuannya mengacak sinyal membuat peluru-peluru musuh nyasar. Sulit menentukan target bidikan. Pada saat yang tepat, pasangan capres-cawapres akan dimunculkan. Syura dan ijtihad politik ulama dan sejumlah ketua partai akan mencari pasangan terbaik untuk urus dan selamatkan negeri ini. Tanpa banyak gangguan dari pihak-pihak yang tak diganggu, tapi merasa terganggu.

Pimpinan empat partai, Gerindra, PKS, PAN dan Demokrat akan didorong oleh para ulama untuk jadi King Maker. Merekalah yang akan melahirkan pasangan capres-cawapres. “Akan indah pada waktunya”. Begitu kalimat yang tepat untuk optimisme sebuah perjuangan, kata orang-orang di PA 212.

Penulis: Tony Rasyid