MANTAP! Jateng SIAP Menyongsong Gubernur Baru


[PORTAL-ISLAM.ID]  Semua lembaga survei menangkan Ahok-Jarot. Bedanya sampe dua digit. Sekarang embaga-lembaga yang sama main di Jawa Tengah. Hasil survei mereka serupa. Ganjar-Yasin dinyatakan menang mutlak. Publik patut curiga.

Fungsi hasil survei menaikan moral mesin partai, meruntuhkan spirit lawan, dan menarik swing voter peragu oportunis.

Ganjar merasa kuat. Popularitasnya tembus 90%. Minimal dia punya 30% loyalis dengan prinsip "Mati urip karo PDIP" dan "Biar gepeng asal PDIP". Tetep kere ya rapopo asal Ganjar menang.

Faktor Yasin mengacak-acak konstelasi voter santri dan NU. PKB belum mampu menganulir penetrasi mesin PPP. Padahal ini soal harga diri partai. PKB yang nomor dua tidak dilirik Kubu-Ganjaran.

Mesin politik Yasin semakin antusias dengan fantasi Ganjar bakal masuk penjara akibat e-ktp.

Sudirman-Ida is in trouble saat sebagian simpatisan PKS dan Gerindra katanya masuk gerbong Ganjaran. Logistik kampanye stop akibat diintimidasi pusat kekuasaan Jakarta. Apatisme warga semakin memadamkan api ghiroh. Dua bulan pra pencoblosan, masih ada warga milenial Semarang yang tidak pernah dengar nama Sudirman-Ida. Taunya Gubernur "Ganjar Prabowo" (ngga salah ketik) tokh.

Tapi Jawa Tengah daerah "istimewa". Sulit diprediksi. Orangnya santun, ramah, halus dan cinta damai.

Soal pilkada, Jawa Tengah bagai telaga. Hingar bingar politik tak terasa di 35 kabupaten. Tanpa riak, ombak, gelombang. Life goes on as usual. La vie sepoursuit comme d'habitude. Normal. Ngga ada spanduk, posko-posko dan atribut lain.

Ya seperti telaga yang hening. Di bawah lapisan air yang tenang, spesies ikan predator seperti piranha, alligator gar, arapaima gigaz, ikan kaca-kaca tak pernah diam. Seliweran mondar mandir di sela-sela alga, fitoplankton, hydrila, cacing, dan Eichhornia crassipes.

Di balik Jawa Tengah yang tenang dan adem politik, simpul-simpul relawan Sudirman-Ida bermunculan. Bergerak tanpa dibayar. Preman-preman ngarang cerita fitnah seputar Sudirman Said. Operasinya di warung kopi. Ganjaran hanya ditopang kader dan mesin dari partai politik. Menurut lembaga survei, ada 40-an persen 'undecided voters'. Elektabilitas Ganjar-Yasin tembus 40%. Pro Sudirman-Ida hanya sekitar 20%.

'Undecided voters' artinya mereka yang tidak pilih Ganjar-Yasin. Bahasa halus dari mereka yang mau perubahan. Extrimnya; Anti-Ganjar.

Spirit Anti Ganjar memang terasa. Expresinya halus. Secara naluri, orang Jawa Tengah selalu berusaha jaga perasaan orang lain. Anti-Ganjar ditransformasi dengan istilah "undecided voters".

Minimal, apatisme Jawa Tengah terlihat jelas. Indikasinya, jangankan Sudirman-Ida, La wong masi ada warga yang sebut gubernurnya "Ganjar Prabowo". Mestinya kan Ganjar Pranowo.

Ada survei yang mengatakan Ganjar-Yasin unggul di semua segmen. Samplingnya 600. Diambil secara random. Jadi satu orang dari setiap kecamatan. Sampling 600 mewakili 27 juta DPT.

Rasanya itu tidak mungkin. Selama ini spektrum buruh, tani, nelayan, akademisi, middle class terdidik, rakyat miskin, pesantren merasa tidak diperhatikan pemerintah Ganjar. Deklarasi buruh sudah jelas Pro Sudirman-Ida. Demonstrasi Anti Kartu Tani merupakan aksi konkrit tidak langsung mendukung Sudirman-Ida.

Begitu PKB rampung menetralisir penetrasi PPP di kalangan Nahdliyin, saat kaum perempuan sekular bangkit dari ilusi gubernur ganteng, dan ketika milenial sadar politik anti korupsi, di situ Jawa Tengah akan menyongsong gubernur baru.

Penulis: Zeng Wei Jian