KEGADUHAN, Karena Pemerintah Pilahara Buzzer dan Timses


Oleh: Ismail Fahmi, PhD
(Social Network Analys)

Tadi di Gedung Djoeang 45, ndak tahu kenapa saya diminta jadi penanggap bersama HS Dillon, Eva Sundari, dan dua penanggap lain, atas paparan dari Buya Syafii, Prof Mahfud MD, dan Prof Hariyono. Semua bicara soal politik, pilkada, pilpres, hoax, polarisasi, dll.

Karena saya bukan ahli di bidang itu, maka saya bicara dengan memodelkan fenomena hiruk pikuk di media sosial dan offline di Indonesia kini, dengan model kualitas transmisi dalam telekomunikasi yaitu "S/N Ratio" atau "Signal to Noise ratio". Agar dimaafkan oleh hadirin, saya bilang bahwa saya lulusan ITB, jurusan elektro, jadi minta ijin pake istilah telekomunikasi 😁

Dalam modeling ini, saya bilang bahwa bangsa Indonesia sudah terlalu jauh terjebak dalam pusaran noise (kebisingan/kegaduhan). Noise dibalas noise. Noise seperti hoax, hate speech, defamation, mis information, protes, dan kritik. Signal di balik noise ini tidak digali, tidak diamplifikasi. Yang diperkuat malah noisenya.

"The signal is the truth. The noise is what distracts us from the truth." Demikian tulis Nate Silver, seorang guru prediksi US, dalam bukunya 'The Signal and the Noise'.

Di balik noise itu ada sinyal yang harus ditangkap pemerintah, diakomodasi dalam kebijakan. Sinyal apa? Kedaulatan dan kemandirian rakyat. Keberpihakan pada rakyat. Ungkapan tersembunyi dari penderitaan dan kesulitan rakyat. Dampak kebijakan yang malah menyusahkan rakyat. Atau usulan dan gagasan dari publik bagi kemandirian. Harusnya sinyal-sinyal ini yang ditangkap pemerintah.

Sekarang yang terjadi sebaliknya. Kritik dan protes diperlakukan sama dengan hate speech dll. Digempur balik oleh tim pemerintah. Sinyal menjadi noise lagi. Bahkan tak jarang noise-noise baru diciptakan untuk meredam noise sebelumnya. Lalu dibalas lagi oleh oposisi dengan noise baru, dan seterusnya. Kita ping pong noise. "And we are distracted from the truth" (Dan kita teralihkan dari kebenaran -red).

Di depan forum para pendukung Jokowi ini saya sampaikan, siapapun yang tahun 2019 jadi presiden, harus segera membubarkan tim sukses dan buzzernya. Tidak boleh lagi ada buzzer bagi pemerintahan aktif, karena lebih banyak menguatkan noise dari pada sinyal.

Tim pendukung diganti dengan tim analis big data, data scientist, domain expert, yang bertugas menjadi telinga bagi pemerintah. Menangkap sinyal, mengabaikan noise, dan memastikan sinyal itu diperkuat dalam kebijakan yang pro rakyat.

Dengan strategi ini, diharapkan tidak ada lagi polarisasi di media sosial dan offline antara yang pro dan kontra pemerintah. Yang ada adalah pemerintah yang punya telinga lebar untuk mendengar aspirasi rakyatnya dalam bentuk apapun, dan rakyat yang bebas menyampaikan gagasan, kritik, protes, dll.


Disamping itu, saya juga sedikit beri masukan ke Prof Mahfud soal MCA berdasarkan data Drone Emprit. Bagaimana MCA lahir, siapa aja yang di sana, yang tidak monilitik. Bagaimana polarisasi di media sosial terbangun dari tahun 2014 hingga 2018. Bagaimana ping pong noise di atas terbangun.

Juga pandangan dari penanggap lain bahwa #2019GantiPresiden adalah upaya untuk menggagalkan pilpres saya tanggapi, dengan pandangan alternatif bahwa ini tak lebih dari antitesis #Jokowi2Periode yang udah lama ada sebelumnya. Tujuannya untuk melihat berapa besar dukungan terhadap ide ini dan mendorong alternatif buat maju.

Di akhir acara, tentunya saya minta maaf kepada panitia kalau mungkin terlalu keras dan kurang berkenan dengan apa yang saya sampaikan. Percayalah, ini demi NKRI.

(Ismail Fahmi dan HS Dilon)

Sebelum menyampaikan pandangan ini, awalnya saya ragu untuk bicara apa adanya. Tapi, saya belajar dari pak HS Dillon yang pertama kali memberi tanggapan. Dengan lugas, blak-blakan, dan independen, beliau menyampaikan kritik ke PDIP sebagai partai penguasa, padahal di sebelah beliau ada Eva Sundari. Nah, contoh ini yang saya butuhkan. Selanjutnya, saya lakukan hal yang sama. Be myself. Thanks Pak Dillon atas pelajaran independensinya dalam berpikir dan bertindak.

7 Mei 2018

(Gedung Djoeang 45, Jakarta)

Sumber: fb penulis